Author

Nisrina Darnila

Browsing
“Kemenkes mencatat ada 57.056 kasus terduga campak dan rubella yang dilaporkan. Sebanyak 8.964 positif campak dan 5.737 positif rubella (data dari Kemenkes hingga Juli 2018). Jalan terbaik untuk pencegahan menyebarnya virus campak dan rubella adalah dengan memberikan vaksin MR.”

 

Imunisasi menjadi hal yang penting diberikan pada bayi setelah lahir untuk menciptakan kekebalan tubuh terhadap penyakit. Prosesnya dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh di usia-usia tertentu. Sayangnya, masih banyak orangtua yang ragu untuk melakukan imunisasi, karena takut anaknya sakit setelah imunisasi.

 

Nah, untuk menjawab keraguan orangtua soal imunisasi, Kitabisa mengadakan tanya jawab dengan Dokter Arifianto SpA. Dokter spesialis anak yang lebih dikenal dengan sapaan Dokter Apin ini memang terkenal sering mengampanyekan pentingnya imunisasi bagi anak-anak. Tak hanya itu, Dokter Apin juga sering melakukan galang dana untuk membantu pasiennya.

 

 

View this post on Instagram

 

Dokter Apin punya satu prinsip: Tak hanya mengobati pasien, dokter juga punya tugas membantu pasien yang kesulitan biaya pengobatan! . Dokter Apin membuktikan sendiri prinsip itu. Melalui galang dana di Kitabisa, dokter Apin membantu Saras, Attoat, Abdillah, dan Tio; anak-anak yang sangat butuh bantuan biaya pengobatan. Usaha dokter Apin berbuah manis, misalnya Saras yang kini sudah berhasil implan koklea. . Tak hanya membantu para pasiennya, dokter Apin juga sangat senang mengampanyekan pentingnya imunisasi bagi anak-anak. Ia kerap menceritakan pentingnya imunisasi melalui instagram pribadinya: @dokterapin . . Kali ini, dokter Apin akan menjawab pertanyaan teman-teman mengenai imunisasi. Silakan teman-teman bertanya apa pun mengenai imunisasi di kolom komentar! Dokter Apin akan menjawab pertanyaan teman-teman di IG Stories Kitabisa hari ini mulai pukul 13.00 WIB. . #tanyajawab #imunisasi #kesehatananak #medis #kitabisa #Orangbaik

A post shared by Kitabisa.com (@kitabisacom) on

 

Simak ulasan lengkap soal imunisasi bersama Dokter Apin di artikel ini.

 

Waktu yang Tepat untuk Imunisasi

 

 

 

Tingginya angka kematian bayi karena penyakit tertentu menjadi alasan mengapa imunisasi banyak dilakukan pada bayi dan balita. Beberapa vaksin memang lebih efektif diberikan di usia bayi, untuk memberikan kekebalan tubuh yang baik bagi si kecil.

 

 

Jadwal imunisasi juga dirancang untuk menjaga si kecil dari penyakit sejak masa paling rentan. Lantas, bagaimana jika si kecil tertinggal imunisasi?
Dokter Apin menjelaskan, jika hal itu terjadi, maka anak bisa mengejar imunisasi yang tertinggal dan sifatnya wajib. Misalnya, anak usia 2 bulan seharusnya mendapat vaksin DPT, tapi terlewat sampai usia 6 bulan, maka anak tetap harus melakukan imunisasi susulan.

 

Akan tetapi, ada beberapa vaksin yang memiliki batas usia. Seperti, vaksin Rotavirus yang hanya bermanfaat di usia 3 bulan atau vaksin Pneumokokus dan HIB yang memiliki batas waktu maksimal anak usia 5 tahun.

 

Beberapa orangtua juga khawatir untuk memberikan imunisasi saat si kecil sakit. Dokter Apin menyarankan, jika penyakit si kecil ringan seperti batuk pilek, demam ringan, atau batuk tanpa sesak napas, imunisasi tetap bisa dilakukan. Namun, jika si kecil demam tinggi atau sesak napas, sebaiknya imunisasi ditunda dulu sampai si kecil kembali sehat.

 

Pada dasarnya, imunisasi dasar dilakukan sampai usia 1 tahun. Imunisasi ini menghasilkan kekebalan yang tidak berlangsung lama, sehingga harus ditambah imunisasi ulangan atau booster yang dimulai di usia 18 bulan. Imunisasi ulangan ini bermanfaat untuk menambah kekebalan tubuh si kecil sampai usia rawan terkena penyakit tersebut lewat.

 

Efek Samping Imunisasi

 

 

Beberapa orangtua merasa takut melakukan imunisasi pada si kecil karena efek sampingnya atau yang biasa kita kenal dengan “Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)”. Efeknya berupa demam atau muncul bekas suntikan. Ini hal yang wajar terjadi menurut Dokter Apin sehingga orangtua sebaiknya tidak perlu khawatir.
Orangtua juga bisa memberikan obat penurun panas dengan catatan si kecil memang demam setelah diimunisasi. Jadi tidak dibenarkan ya, untuk memberikan obat penurun panas sebelum imunisasi atau saat panas tubuh anak normal setelah imunisasi. Ini bisa mengurangi kekebalan dan respon tubuh si kecil terhadap vaksin.

 

Pentingnya Vaksin MR

 

 

Vaksin MR alias vaksin Campak Rubella termasuk salah satu vaksin yang penting diberikan saat si kecil berusia 9 bulan dan diulang di usia 18 bulan. Sayangnya, isu boleh tidaknya vaksin ini membuat banyak orangtua menjadi ragu. Maka, MUI bekerja sama dengan LPPOM melakukan pengkajian terhadap produk vaksin MR. Hasilnya, keluarlah Fatwa No. 33 Tahun 2018 yang pada intinya vaksin MR diperbolehkan karena kondisinya darurat syar’iyyah secara hukum Islam.

 

 

Vaksin ini sudah teruji di lebih dari 100 negara untuk mengeliminasi campak dan rubella yang berbahaya bagi anak-anak maupun ibu hamil. Proses pembuatannya pun sudah teruji klinis dengan melewati 3 tahap uji sehingga layak dipasarkan. Indonesia memiliki target untuk bebas campak dan rubella di tahun 2020. Jangan khawatir, vaksin MR ini masuk dalam program pemerintah dan gratis.

 

Vaksin MR bisa diberikan sampai anak usia 15 tahun. Sementara untuk orang dewasa, bisa diberikan vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella) untuk mencegah campak, gondongan dan rubella. Vaksin MMR bisa dilakukan kapan saja dan akan memberikan kekebalan seumur hidup jika diberikan 2 kali (dengan jeda 1 bulan). Namun saat ini, vaksin MMR belum tersedia di Indonesia. Bocoran dari Dokter Apin nih, vaksin MMR akan kembali masuk di Indonesia pada Januari 2019.

 

Pencegahan untuk Ibu Hamil

 

 

 

Ibu hamil menjadi sangat rentan untuk tertular jika di lingkungan tempat tinggalnya ada anak yang terkena virus campak dan rubella. Dokter Apin memberikan beberapa saran untuk pencegahan, seperti dengan melakukan imunisasi MMR pada 3 bulan sebelum merencanakan kehamilan. Namun, jika belum sempat melakukan imunisasi MMR, ibu hamil harus memastikan anak-anak di lingkungannya sudah melakukan imunisasi MR.

 

Selain itu, ibu hamil juga bisa menggunakan masker dan rajin cuci tangan dengan sabun atau antiseptic hand rub saat datang ke rumah sakit/puskesmas. Khawatirnya, ada anak-anak lain yang terkena rubella di tempat-tempat tersebut. Pencegahan lain juga bisa dilakukan dengan selalu mengajarkan anak untuk cuci tangan ya.

 

Mengenal Penyakit Rubella

 

 

 

Penyakit Rubella atau campak Jerman bisa timbul jika si kecil tidak melakukan vaksin MR. Di Indonesia, angka kasus campak dan rubella ini masih tergolong tinggi dalam 5 tahun terakhir. Data dari Kementerian Kesehatan, hingga Juli 2018, ada 57.056 kasus terduga campak dan rubella, dengan 8.964 positif campak dan 5.737 positif rubella.

 

Anak yang terkena rubella biasanya menunjukkan gejala awal seperti demam selama 1 sampai 7 hari dan muncul ruam-ruam merah di seluruh tubuh. Akan tetapi, ada juga penderita rubella yang sama sekali tidak menunjukkan gejala ini, seperti pada ibu hamil.

 

Begitu anak terinfeksi, virus rubella akan menyebar ke seluruh tubuh dalam waktu 5 hari sampai 1 minggu. Potensi tertinggi penderita untuk menularkan rubella biasanya terjadi pada hari pertama sampai hari kelima setelah ruam muncul.

 

Virus ini akan menjadi bahaya saat menyerang ibu hamil di trimester pertama kehamilan. Selaina bisa menyebabkan kematian janin atau keguguran, bayi yang lahir berpotensi terkena sindrom rubella kongenital dan cacat seumur hidup, seperti tuli, katarak, penyakit jantung bawaan, penurunan tumbuh kembang, dan sebagainya.

 

Catatan dari Dokter Apin, anak yang lahir dengan sindrom rubella kongenital ini TETAP HARUS melakukan imunisasi MR. Memang anak ini ada kemungkinan memiliki kekebalan tubuh bawaan (terhadap virus campak dan rubella) dari ibunya, namun belum tentu bertahan lama. Pada usia tertentu, anak bisa terserang kembali virus campak dan rubella yang bisa menyebabkan komplikasi campak hingga meninggal. Tak hanya itu, anak dengan sindrom rubella kongenital yang terserang virus campak rubella dikhawatirkan akan kembali menularkan pada ibu hamil di sekitarnya.

 

Oleh karena itu, Dokter Apin sangat mengimbau kepada para orangtua untuk segera memberikan imunisasi/vaksin kepada si kecil. Jika masih ragu, orangtua bisa berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter untuk lebih mengetahui tentang vaksin. Motto Dokter Apin, anak adalah asset masa depan bangsa, maka kita sebagai orangtua harus memastikan anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, salah satunya dengan imunisasi.

 


 

Seperti Dokter Apin, kamu juga bisa menolong keluarga, sahabat, atau siapapun yang butuh bantuan biaya pengobatan lewat galang dana di Kitabisa. Kamu juga bisa konsultasi mengenai galang dana untuk biaya pengobatan di Kitabisa dengan cara, klik: ktbs.in/tanya atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 0813-1553-2353.

 

Muhammad Sadeena Ali Kamnie  atau biasa dipanggil Ali adalah putra pertama dari pasangan Maya dan Bambi. Saat usia Ali menginjak 10 bulan, ia terdiagnosis memiliki penyakit hirschprung ( tidak ada saraf di ususnya). Kondisi ini membuat Ali tidak bisa BAB dari anus. Lalu bagaimana Ali menghadapinya?

Hirschprung membuat Ali harus Operasi Colostomy (pemasangan Kantong di perutnya)

Ali yang tidak memiliki saraf untuk buang air besar, membuatnya harus dioperasi pemasangan colostomy pada usianya yang baru 3 hari. Pemasangan colostomy ini dilakukan agar Ali tetap bisa buang air besar tapi melalui kantong di perutnya.

Ali terserang Infeksi Usus yang sangat berat

Halo Ali, kamu sakit apa? . Hai Kak 😊, aku ga bisa buang air besar dari anus karena ga ada saraf di ususku. Terus aku juga diserang monster 👹 namanya enterocolitis yang bikin aku kena radang usus 😭😭. . Sekarang, kamu udah bisa ngalahin monsternya belum? . Belum Kak 😥, udah seminggu aku dirawat di ruang ICU. Monsternya nyerang ususku terus sampai infeksi, perutku jadi kembung diserang monster bandel 🤕. . +++ . Jangan biarkan Ali berjuang sendirian melawan monster 💪, kini saatnya kita menjadi super hero menyelamatkan Ali ⚡⚡⚡. Bantu donasi untuk biaya pengobatan Ali dengan cara, klik: kitabisa.com/doauntukali. Bukan cuma donasi, kamu juga bisa kasih doa dan semangat buat Ali. Caranya: Ketik doa dan harapanmu untuk kesembuhan Ali di kolom komentar! Kata adalah doa, satu doa darimu akan sangat berarti bagi perjuangan Ali ❤ #doauntukAli #bayisakit #kitabisa #kitabisasehat #Orangbaik

A post shared by Kitabisa.com (@kitabisacom) on

Anak dengan hirschprung sangat rentan terkena penyakit entercolitis atau radang usus. Pada awal tahun lalu, Ali terdiagnosis dengan penyakit entercolitis atau radang usus. Penyakit ini terjadi diduga karena penangangan yang tidak tuntas dan berkembang menjadi sepsis.

Penyakit sepsis merupakan infeksi usus yang sangat berat, dan mengganggu fungsi organ tubuh Ali lainnya.

Rangkaian Pengobatan Ali Panjang, Sahabat Orang Tua Ali Galang Dana untuk Bantu

Saat Ali mengalami infeksi sepsis, Ali sempat mengalami penurunan HB dan trombosit hingga 30 ribu dari normalnya 150 ribu. Ali pun membutuhkan transfusi darah agar bisa melanjutkan pengobatan untuk sepsisnya. Setelah mengobati sepsis, barulah Ali bisa melakukan operasi penutupan colostomy bag agar bisa BAB secara normal melalui anus.

Mengetahui kalau proses pengobatan Ali masih sangat panjang, Annisa dan Angga ( sahabat orang tua Ali) memutuskan untuk galang dana demi kesembuhan Ali. Kedua sahabat orang tua Ali ini melakukan galang dana lewat kitabisa.com.

Lewat campaign: kitabisa.com/doauntukali , Annisa dan Angga berhasil mengumpulkan donasi sebanyak 309 juta lebih dari 831 donatur hanya dalam hitungan hari.

Operasi Ali berjalan Lancar dan Sudah Diizinkan Pulang ke Rumah

Ali bukan anak kecil biasa, ia seorang pejuang. Ia berjuang melawan radang usus. Di umur 3 hari, Ali harus dioperasi karena tak bisa BAB melalui anus. Selama 3 bulan, Ali terpaksa BAB melalui kantong kolostomi di samping perut. Tak cuma itu, Ali pernah menggigil karena suhu tubuhnya mencapai 40,6 derajat. Tapi, Ali tak menyerah, ia memilih terus berjuang. . Perjuangan Ali menginspirasi Annisa (sahabat Ibunda Ali) untuk galang dana membantu biaya pengobatan Ali. Melalui galang dana ini, Annisa berhasil mengumpulkan Rp 309 juta dari 831 donatur. Seiring dengan galang dana itu, kesehatan Ali terus membaik. Kini, Ali sudah bisa pulang ke rumah. Ia bisa menikmati bulan Ramadan dengan bermain bersama kedua orangtuanya di rumah. . +++ . Seperti Annisa, kamu juga bisa membantu keluarga/sahabat yang butuh bantuan biaya pengobatan dengan cara galang dana di Kitabisa. Konsultasi galang dana untuk bantuan biaya pengobatan silakan kunjungi: ktbs.in/tanya (link di bio) atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 081315532353. Melalui galang dana, kamu bisa menerima donasi dari keluarga, sahabat, dan orang-orang baik yang tergerak membantu. . Kini, setelah berjuang panjang, Ali patut kita kasih hadiah. Di bulan Suci ini mari kita kasih sebuah doa sebagai hadiah untuk Ali. Doakan Ali dengan cara, ketik: “Sehat selalu Ali” di kolom komentar! . Bayangkan saat Mamanya Ali membaca komentar darimu. Wajahnya akan merona melihat begitu banyak orang baik yang sayang dan mendoakan buah hatinya. . #kitabisa #kitabisasehat #orangbaik

A post shared by Kitabisa.com (@kitabisacom) on

Setelah mendapatkan pengobatan selama 2 minggu lebih, infeksi sepsis Ali berangsur membaik. Kondisi klinis Ali juga terus membaik dan bisa melakukan operasi untuk penutupan colostomynya. Operasi penutupan colostomy ini berjalan lancar dan membuat tim dokter mengizinkan Ali untuk pulang ke rumah.

Setelah operasi, Ali tetap harus melakukan control ke dokter bedah 3 minggu setelah operasi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa kembali apakah diperlukan tindakan operasi selanjutnya atau tidak.

Nah, itulah kisah inspiratif perjuangan Ali melawan penyakit hirschprung. Biaya pengobatan yang besar pun terbantun dengan adanya galang dana online yang dilakukan oleh Annisa dan Angga. Lewat galang dana di Kitabisa, kamu bisa dengan mudah berdonasi dan memberikan dukungan atau doa untuk Ali.


Seperti Annisa dan Angga, kamu juga bisa menolong keluarga, sahabat, atau siapapun yang butuh bantuan biaya pengobatan lewat galang dana di Kitabisa. Melalui galang dana di Kitabisa, kamu bisa  menerima donasi dari keluarga, sahabat, dan para donator yang tergerak membantu.

Kamu juga bisa konsultasi mengenai galang dana untuk biaya pengobatan di Kitabisa dengan cara, klik: ktbs.in/tanya atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 081315532353.

Baby Mario adalah anugerah terindah bagi Alyssa dan pasangannya. Di balik sosoknya yang lucu, Mario harus berjuang melawan penyakit infeksi paru-paru yang diidapnya.  Simak kisah inspiratif Mario di bawah ini.

Mario Terlahir Prematur

Untuk Mama Alyssa 👩‍👦, . Ma, Mario lahir prematur soalnya Mario gak sabar pengen ketemu Mama 🤰🏻👶🏻. Mario emang belum pernah ngerasain digendong Mama soalnya Mario masih bobo di ruang NICU. Tapi, Mario udah senenggg banget kalau Mama ngelus-ngelus Mario lewat sela-sela inkubator 👩‍👦❤. . Mario tau Mama sering khawatir pas badan Mario biru, pas Mario kejang-kejang, pas napas Mario sering berhenti 😰. Tenang Ma, Mario kan jagoan Mama. Percaya deh, Mario pasti bisa ngelawan monster-monster bandel yang nyerang Mario 💪💪. Nanti, kalau Mario udah sembuh, Mario janji bakal meluk mama kencenggg banget, biar Mama gak sedih lagi ❤. . Salam sayang, Mario (Jagoan Mama Alyssa) . +++ . Mario butuh bantuan kita untuk sembuh dari infeksi paru-paru. Di Jumat malam yang penuh berkah ini, mari berdonasi membantu biaya pengobatan Mario dengan cara, kunjungi: kitabisa.com/bantumariodarinicu. . Saat kami telepon, Mama Alyssa juga berharap doa dan dukungan dari kita semua untuk kesembuhan Mario. Ayo dukung perjuangan Mario dengan cara, ketik: “Semangat terus Mario ❤” di kolom komentar! . Kata adalah doa, komentar darimu bukan sekadar rentetan kata. Komentarmu darimu akan jadi sebuah doa yang terus mengalir untuk Mario. #bantumario #nicurangers #kitabisa #kitabisasehat #orangbaik

A post shared by Kitabisa.com (@kitabisacom) on

Sebelum Mario terdiagnosis memiliki penyakit infeksi paru-paru, Mario terpaksa lahir secara prematur pada usia 30 minggu karena Ibunda Mario mengalami plasenta previa. Kondisi plasenta previa adalah kondisi di mana plasenta bayi menutupi jalan lahir dan menyebabkan pendarahan pada sang ibu.

Waktu itu, Ibunda Mario mengalami pendarahan hebat dan membuat dokter memutuskan untuk melakukan persalinan 2 hari setelahnya demi keselamatan Mario dan ibundanya.

Mario Langsung Dibawa ke Ruang NICU

Setelah lahir premature, Mario harus dirawat  di dalam ruang NICU karena paru-paru Mario belum bisa bernafas dengan sempurna. Selama di ruang NICU, Mario dipasangkan alat bantu pernapasan dan sempat mengalami kejang sebanyak 2x. Dokter pun menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter saraf.

Tapi sayang karena memiliki keterbatasan dana, ibunda Mario tidak langsung menyanggupi saran dokter tersebut. Mario dirawat di ruang NICU selama hampir 1 bulan hingga akhirnya diizinkan  untuk tidak perlu menggunakan bantuan alat pernapasan.

“Selama ini saya cuma bisa megang tangan anak saya, gak bisa meluk, gak bisa gendong. Soalnya, sejak lahir, Mario (anak saya) dirawat di inkubator ruang NICU. Dari sela-sela inkubator itu saya sering ngelus-ngelus tangan Mario. . Mario lahir prematur, badannya sempat biru, pernah kejang-kejang. Pas diperiksa ternyata ada infeksi paru-paru. Ritme napasnya jadi gak normal, dalam satu menit gak bernapas selama beberapa detik. . Biaya berobat Mario bisa sampe 4 juta sehari. Saya cuma punya uang terbatas untuk biaya pengobatan Mario. Saya pingin Mario sembuh, pingin bisa meluk Mario, bukan cuma ngelus-ngelus tangannya dari sela-sela inkubator.” (Alyssa, Mama Mario) . +++ . Sejenak, bayangkan jika kita menjadi Mama Alyssa yang tak bisa memeluk sang buah hati. Tentu ada rasa sesak di dada melihat sang buah hati sedang berjuang melawan penyakitnya. Kita tak bisa diam saja melihat perjuangan Mama Alyssa, di Hari Jumat yang penuh berkah ini, mari berdonasi membantu perjuangan Mama Alyssa dengan cara, kunjungi: kitabisa.com/bantumariodarinicu (link di bio). . Tak sekadar donasi, di hari yang penuh berkah ini mari kita doakan Mario dan Mama Alyssa untuk bisa melewati cobaan ini, dengan cara: Mario bisa sembuh💙 . Bayangkan saat Mama Alyssa membaca doa darimu, kata-kata darimu akan menjelma menjadi pelecut semangat bagi Mama Alyssa untuk terus berjuang! #bantumario #nicurangers #kitabisa #kitabisasehat #orangbaik

A post shared by Kitabisa.com (@kitabisacom) on

Mario Mengalami Sianosis ( Tubuh yang Membiru), Napas Berhenti, dan Infeksi Paru-paru

Saat kedua orang tua Mario ingin menjemput Mario karena sudah tidak perlu menggunakan alat bantu pernapasan lagi, pihak rumah sakit mengatakan kalau Mario terkena sianosis. Kondisi sianosis menyebabkan kulit dan selaput lendir Mario membiru. Hal ini terjadi karena kurangya oksigen di dalam aliran darah Mario.

Selain itu, ritme napas Mario juga menjadi tidak normal. Bahkan dalam 1 menit ada ada jeda di mana paru-paru Mario tidak mengembang dan menyebabkan dirinya berhenti napas beberapa detik. Saat itu juga dokter melakukan pemeriksaan darah dan menemukan kalau Mario mengalami infeksi paru-paru.

Biaya Pengobatan Mario Membengkak, Ibunda Mario Galang Dana

Mario yang terinfeksi paru-parunya, tentu membutuhkan perawatan khusus dengan biaya yang tidak sedikit. Bahkan sejak Mario lahir, biaya pengobatan yang sudah dikeluarkan mencapai 114 juta. Dalam sehari, setidaknya Mario membutuhkan biaya sekitar 4 juta.

Tak ingin menyerah begitu saja, Alyssa (Ibunda Mario) memutuskan untuk melakukan galang dana demi kesembuhan buah hatinya, Alyssa melakukan galang dana di Kitabisa.com. Lewat galang dana kitabisa.com/bantumariodarinicu , banyak orang yang tergerak untuk membantu dan mendoakan kesembuhan Mario.

Dalam waktu singkat, Alyssa berhasil mengumpulkan donasi sebanyak 40,1 juta dari ratusan donatur yang tergerak membantu.

Mario Boleh Pulang ke Rumah

Memeluk Buah Hati di Hari Pertama Ramadan . Ramadan memberi berkah yang sangat berharga untuk Alyssa. Di hari pertama bulan suci, sang buah hati bernama Mario bisa pulang setelah satu bulan lebih berjuang di ruang NICU. Mario lahir prematur di usia kehamilan 30 minggu. Ia berhasil melewati beragam cobaan: Infeksi paru-paru, badannya membiru, napas tak normal, dan kejang-kejang. . Semua tantangan itu tak menghalangi Alyssa untuk menyerah. Ia memilih terus berjuang, salah satunya dengan menggalang dana untuk biaya pengobatan Mario. Ia berhasil mengumpulkan donasi Rp 39 juta dari 229 donatur. . Sejak lahir, baru hari ini Mario bisa pulang. Sungguh sebuah bukti nyata berkah Ramadan untuk Mario. . +++ . Seperti Alyssa, kamu juga bisa galang dana untuk keluarga/sahabat yang membutuhkan bantuan biaya pengobatan. Konsultasi galang dana untuk bantuan biaya pengobatan silakan kunjungi: ktbs.in/tanya (link di bio) atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 081315532353. . Mario telah berjuang panjang sampai akhirnya bisa kembali ke rumah. Di bulan yang penuh rahmat ini, mari kita doakan Mario dengan cara, ketik: “Mario ❤” . Satu komentarmu adalah tanda bahwa Mario telah menyebarkan cinta dan inspirasi untuk kita semua. #bantumario #kitabisa #kitabisasehat #orangbaik

A post shared by Kitabisa.com (@kitabisacom) on

Selama  dirawat secara intensif di rumah sakit, kesehatan Mario terus membaik. Selama satu bulan ke belakang Mario harus menggunakan ventilator (alat bantu napas)  agar bisa bernapas dari mulut, kini perlahan berubah menjadi ventilator untuk bernapas dari hidung.

Pindahnya ventilator dari mulut ke hidung merupakan pertanda baik kalau nafasnya Mario sudah semakin kuat. Setelah menujukkan perubahan positif, tim dokter mengizinkan Mario untuk pulang ke rumah.

Itulah kisah inspiratif perjuangan Mario yang berhasil menaklukkan penyakit infeksi paru-paru. Biaya pengobatan yang besar pun terbantu dengan adanya galang dana online yang dilakukan melalui kitabisa.com . Ratusan keluarga dan teman bisa dengan mudah berdonasi dan memberikan dukungan atau doa untuk Mario.

 

Hai Kak, namaku Mario . Aku seneng deh puasa ini aku bisa bareng mamaku lagi . Sebelumnya aku dirawat sebulan lebih di NICU, soalnya aku kena infeksi paru-paru . Badanku pernah biru , napasku gak normal, terus aku juga sempet kejang-kejang. . Waktu aku sakit, Mama Alyssa selalu nyemangatin aku ‍👩‍👦❤. Mama sering banget ngelus-ngelus tanganku dari sela-sela inkubator. Dielus-elus Mama Alyssa bikin aku makin semangat buat berjuang . Alhamdulillah, sekarang aku bisa main-main lagi sama Mama di rumah. Mamaku bilang, aku bakal dipakein baju yang lucu-lucu di rumah, soalnya sejak lahir aku cuma bisa pake baju rumah sakit. Yeay, aku seneng banget ☺. . +++ . Biaya perawatan Mario yang tinggi di NICU tak membuat Mama Alyssa menyerah. Ia memilih berjuang dengan galang dana di Kitabisa. Melalui galang dana, ia berhasil mengumpulkan Rp 40 juta dari 234 donatur (lihat: kitabisa.com/bantumariodarinicu). . Seperti Mama Alyssa, di Bulan Suci ini, mari kita bantu keluarga/sahabat yang membutuhkan bantuan biaya pengobatan dengan cara galang dana di Kitabisa. Konsultasi galang dana untuk biaya pengobatan silakan kunjungi: ktbs.in/tanya (link di bio) atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 081315532353. . Setelah berjuang panjang, Mario layak kita kasih hadiah. Hadiah paling berharga adalah sebuah doa. Mari doakan Mario agar sehat terus dengan cara, ketik: “Sehat terus Mario ❤” di kolom komentar! . Di Bulan Suci ini, komentarmu tak sekadar rentetan kata. Kata-kata dalam komentarmu adalah sebuah doa yang akan terus mengalir untuk kesehatan Mario. #bantumario #nicurangers #kitabisa #kitabisasehat #orangbaik

A post shared by Kitabisa.com (@kitabisacom) on

 


Seperti Alyssa, kamu juga bisa menolong keluarga, sahabat, atau tetanggamu yang sedang butuh bantuan biaya pengobatan dengan cara galang dana di Kitabisa. Melalui galang dana di Kitabisa, kamu bisa menerima donasi dari keluarga, sahabat, dan para donatur yang tergerak membantu.

Kamu bisa konsultasi galang dana untuk biaya pengobatan dengan cara, klik : ktbs.in/tanya atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 081315532353.

Ada cerita menarik yang bisa kita ambil dari perjuangan anak laki-laki bernama, Asdkan Alp Li Adam. Anak kedua dari Adinda Lestari merupakan anak yang ceria dan aktif, bahkan setelah ia terdiagnosis punya penyakit ileus melena (robek pada usus). Simak perjuangan Asdkan melawan penyakitnya di bawah ini.

Asdkan Demam dan Kejang, Sebelum Terdiagnosa memiliki  Ileus Melena (Robek Usus)

 

“Hati saya teriris waktu dokter ngajak saya lihat kondisi pencernaan Asdkan. Di layar tv ruangan bedah anak, kelihatan kondisi pencernaan Asdkan yang merah-merah, banyak darah, dan berbuih-buih. Saya langsung mikir, kok bisa separah itu Asdkan kena Ileus Melena (robek usus). Penyakit itu bikin Asdkan selalu ngeluarin darah tiap kali BAB. Asdkan juga cuma bisa makan lewat infus sejak tiga minggu terakhir. . Saya pingin banget Asdkan bisa sehat lagi. Kalau udah sehat, saya pingin bawa Asdkan ngasih makan rusa. Dia seneng banget ngasih makan rusa. Saya ngebayangin bisa lihat Asdkan senang lagi.” (Adinda Lestari, Ibunda Asdkan) . +++ . Ibunda Asdkan telah memberikan yang terbaik untuk buah hatinya, kini saatnya kita berdonasi untuk biaya pengobatan Asdkan. Caranya, klik: kitabisa.com/asdkansembuh. . Bukan cuma bantuan material, Asdkan dan Ibunya juga butuh dukungan doa dan semangat dari kita. Mari kita doakan Asdkan dengan cara, ketik: “Asdkan bisa sehat lagi” di kolom komentar! . Kata adalah doa, satu komentar darimu adalah doa yang akan sangat berarti bagi kesembuhan Asdkan. #AsdkanSembuh #Kitabisasehat #kitabisa #Orangbaik

A post shared by Kitabisa.com (@kitabisacom) on

Sebelum diketahui memiliki ileus melena(robek usus), Asdkan awalnya mengalami demam dan kejang sehingga harus dibawa ke klinik terdekat oleh Neneknya. Setelah di klinik, Asdkan dirujuk untuk ke rumah sakit yang lebih besar untuk mendapatkan pemeriksaan intensif. Ada sekitar 3 rumah sakit di Jawa Barat yang menolak Asdkan karena keterbatsan alat pemeriksaan untuk anak-anak.

Asdkan yang lahir di Bandung, akhirnya harus dirujuk ke rumah sakit besar di Jakarta untuk pemeriksaan endoskopi karena mengeluarkan feses yang bercampur darah. Di Jakarta, Asdkan diketahui memiliki penyakit ileus melena (robek usus) yang menyebabkan Asdkan selalu mengeluarkan darah ketika BAB.

Orang Tua Asdkan Butuh Bantuan Biaya Pengobatan

 

Asdkan harus 4 kali pindah rumah sakit  untuk bisa mendapatkan pemeriksaan yang dibutuhkan. Ketika berpindah-pindah, orang tua Asdkan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk perpindahan dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya saja biaya ambulansnya mencapai 7 juta.

Belum lagi saran dokter yang mengharuskan Asdkan untuk diendoskopi yang keberadaan alatnya belum merata di semua rumah sakit di Indonesia. Sebelum menemukan rumah sakit yang memiliki alat endoskopi, Asdkan sempat tertahan di satu rumah sakit hingga tagihannya mencapai 54 juta.

Orang tua Asdkan ingin buah hatinya segera mendapat penanganan dan rela melakukan apapun untuk kesembuhannya. Akhirnya, Adinda Lestari (Ibunda Asdkan) memutuskan untuk galang dana lewat Kitabisa.com untuk membantu kesembuhan anaknya.

Dalam waktu singkat, galang dana ini berhasil mengumpulkan dana sebanyak 33 juta lebih dari ratusan #Orangbaik yang tergerak untuk membantu Asdkan.

Setelah Endoskopi kedua, Asdkan Boleh Pulang ke Rumah

Setelah dana terkumpul, Asdkan akhirnya sudah melakukan endoskopi untuk menutupi kebocoran yang disebabkan karena ususnya robek. Asdkan sudah melakukan dua kali endoskopi dan sekarang sudah diizinkan pulang ke rumah dan sedang melakukan rawat jalan.

Setelah endoskopi kedua inilah feses Asdkan sudah mulai berubah warnanya yang sebelumnya berwarna hitam karena tercampur darah menjadi warna hijau yang berarti sudah berangsur membaik. Hanya saja, dokter berpesan kepada orang tua Asdkan untuk segera membawa kembali ke rumah sakit jika feses Asdkan kembali berdarah.

 

“Asdkan dirawat di 4 rumah sakit hampir sebulan karena ususnya robek. Tiap kali Asdkan BAB pasti berdarah. Asdkan juga cuma bisa makan lewat infus. . Alhamdulillah, bulan ini dokter udah ngelakuin endoskopi (nutup kebocoran-kebocoran di usus) Asdkan. Sekarang, kondisi Asdkan jauh lebih baik jadi udah boleh pulang. . Asdkan punya hobi ngasih makan rusa, saya seneng banget setelah sehat Asdkan bisa ngelakuin hobi itu lagi. Rasa seneng ngeliat Asdkan bisa ngasih makan rusa lagi bener-bener gak bisa dibeli pake uang.” (Adinda Lestari, Ibunda Asdkan) . +++ . Ibunda Asdkan memilih tak menyerah saat Asdkan menghadapi cobaan bertubi-tubi, ia memilih terus berjuang dengan cara galang dana di Kitabisa. Melalui galang dana, ia berhasil mengumpulkan Rp 33 juta dari 183 donatur (lihat: kitabisa.com/asdkansembuh). . Seperti Ibunda Asdkan, kamu juga bisa galang dana untuk membantu keluarga/sahabat yang butuh bantuan biaya pengobatan. Konsultasi galang dana untuk bantuan biaya pengobatan silakan kunjungi: ktbs.in/tanya atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 081315532353. . Asdkan telah berjuang panjang melawan penyakitnya, kini saatnya kita kasih kado spesial untuk Asdkan. Karena Asdkan suka rusa, yuk kasih kado buat Asdkan, dengan cara: Kasih emotikon rusa di kolom komentar! Contohnya: 🦌🦌🦌 . Satu emotikon rusa darimu adalah hadiah agar Asdkan sehat dan bisa terus ceria memberi makan rusa seperti hobinya selama ini! #successtory #kitabisa #kitabisasehat #Orangbaik

A post shared by Kitabisa.com (@kitabisacom) on

 

Itulah kisah perjuangan Asdkan yang kini akhirnya sudah kembali ke rumah setelah melawan ileus Melena. Biaya pengobatan yang besar pun akhirnya terbantu dengan adanya galang dana online yang dilakukan lewat kitabisa.com. Ratusan keluarga dan teman bisa dengan mudah berdonasi dan memberikan dukungan serta doa untuk Asdkan.


Seperti Adinda, kamu juga bisa menolong keluarga, sahabat atau tetanggamu yang butuh bantuan biaya pengobatan dengan cara galang dana di Kitabisa. Melalui galang dana di Kitabisa, kamu bisa menerima donasi dari keluarga, sahabat, dan para donator yang tergerak membantu.

Kamu bisa konsultasi galang dana untuk biaya pengobanat dengan cara, klik: ktbs.in/Tanya atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 081315532353.

Nayyara Haifa Mecca, bayi imut satu ini ternyata menyimpan kisah perjuangan yang bisa membuat kita terinspirasi. Baru berusia 6 bulan, putri dari pasangan Agus Saeful Jatnika dan Intan Nurhayati ini harus mendapatkan perawatan intensif karena memiliki beberapa kelainan, seperti microchepaly, laringomalasia, jantung bocor jenis PDA, dan pneumonia. Bagaimana keberhasilan Nayyara berjuang melawan rangkaian penyakit tersebut?

Nayyara sudah Memiliki Kelainan Jantung PDA  sejak Lahir

“Halo kak, kecil-kecil begini aku berani lawan monster lho 💪😎. Gak tanggung-tanggung, ada dua monster yang nyerang aku: Namanya monster PDA dan pneumonia. Monster PDA nyerang jantungku 😰, kalau monster pneumonia nyerang paru-paruku 🤒. Gara-gara monster-monster itu, aku udah dirawat lebih dari 2 minggu di ruang PICU😭😭. Tapi tenang, aku yakin bisa ngalahin monster-monster itu 😉. Kata ibu dan ayahku 👨‍👩‍👧 kakak-kakak semua bakal bantuin aku ngalahin dua monster bandel itu. Aku percaya bareng kakak-kakak, aku bisa bangkit lagi buat ngalahin dua monster itu, Ciaaatttt! 💥💥💥” . +++ . Baby Nayyara sedang berjuang melawan penyakit jantung bawaan dan pneumonia (infeksi paru-paru). Biaya pengobatan untuk melawan dua monster tersebut sangat besar. Kamu bisa ikut berdonasi membantu Baby Nayyara dengan cara, klik: kitabisa.com/untuknayyara Tak cuma dukungan finansial, Baby Nayyara juga butuh dukungan moral untuk melawan monster bandel yang menyerangnya. Ayo kita semangatin Baby Nayyara melawan monster dengan mengirimkan kekuatan super power ⚡⚡ berupa Cinta untuk Nayyara. Caranya: Kasih emotikon hati (❤)di kolom komentar! Satu emotikon hati darimu akan menjadi doa yang menguatkan hati Nayyara melawan monster! 😊 #untuknayyara #bayisakit #Kitabisasehat #kitabisa #Orangbaik

A post shared by Kitabisa.com (@kitabisacom) on

Sebelum diketahui memiliki beberapa kelainan, Nayyara awalnya diketahui memiliki kelainan jantung jenis PDA sejak lahir. Tapi seiring berjalannya pemeriksaan beberapa kali, Nayyara memiliki kelainan lainnya seperti microchepaly, laringomalasia, dan pneumonia.

Sebelum mengobati kelainan lainnya, dokter menyarankan supaya kebocoran yang terjadi harus segera ditutup atau di- catherisasi. Karena kondisi inilah yang akhirnya menyebabkan pneumonia berat dan menyebar ke organ tubuh Nayyara lainnya.

Orang Tua Nayyara Galang Dana untuk Operasi Jantung

Operasi jantung yang harus dilakukan segera membuat kedua orang tua Nayyara bingung karena biayanya yang terlampau mahal. Operasi jantung ini sebenarnya memang ditanggung oleh BPJS di tempat Nayyara dirawat, hanya saja harus mengantri minimal selama 1 tahun.

Kedua orang tua Nayyara akhirnya memutuskan untuk galang dana lewat Kitabisa.com agar buah hati tercintanya bisa segera mendapatkan tindakan. Lewat campaign kitabisa.com/untuknayyara, banyak #OrangBaik yang tergerak membantu dan mendoakan untuk kesembuhan Nayyara.

Dalam waktu singkat, orang tua Nayyara berhasil mengumpulkan donasi sebanyak 146 juta lebih dari 883 donatur yang digunakan untuk  biaya operasi jantung Nayyara.

 

Operasi Nayyara Berjalan Lancar

 

“Selama 22 hari Nayyara harus dirawat di rumah sakit. Nayyara berjuang melawan infeksi paru-paru dan kebocoran jantung. Biayanya sama sekali gak sedikit. Di tengah cobaan itu, saya selalu ngeyakinin diri sendiri kalau rencana Tuhan pasti selalu indah. . Sekarang, Alhamdulillah kondisi Nayyara udah jauh lebih baik. Nayyara baru selesai operasi catherisasi (menutup bocor jantung). . Perjuangan Nayyara sampai bisa di titik ini bikin saya yakin kalau rencana Tuhan memang selalu indah. Dan itu bukan cuma ada di cerita film atau puisi aja, tapi rencana Tuhan yang indah benar-benar keluarga kami rasakan lewat Nayyara.” (Intan, Ibunda Nayyara) . +++ . Untuk biaya pengobatan Nayyara, orangtua Nayyara berinisiatif galang dana di Kitabisa. Orangtua Nayyara sukses mengumpulkan Rp 146 juta dari 883 donatur (lihat: kitabisa.com/untuknayyara). Hasil galang dana ini sangat membantu membiayai pengobatan Nayyara. . Seperti orangtua Nayyara, kamu juga bisa galang dana membantu keluarga/sahabat yang butuh bantuan biaya pengobatan dengan cara galang dana di Kitabisa. Untuk konsultasi galang dana, kunjungi: ktbs.in/tanya (link di bio) atau kirim pesan WhatsApp melalui nomor 081315532353. . Yuk kita doakan juga Adik Nayyara agar bisa sehat terus. Tulis doamu dengan cara, ketik: “Sehat selalu Nayyara” di kolom komentar! . Kami akan mengirimkan komentarmu kepada orangtua Nayyara. Bayangkan saat mereka membaca komentarmu, mereka akan senang melihat banyak #OrangBaik yang mendoakan Nayyara. #kisahsukses #successtory #kitabisa #kitabisasehat #Orangbaik

A post shared by Kitabisa.com (@kitabisacom) on

Operasi jantung Nayyara berjalan lancar. Saat ini, Nayyara juga sudah bisa kembali berkumpul bersama kedua orang tuanya di rumah. Saat ini Nayyara sedang melakukan pemeriksaan rutin ke dokter untuk syaraf-syaraf kecil di mata dengan cara screening setiap 1 bulan sekali, pemeriksaan telinga, tenggorokkan karena laringomalasia, dan microchepalinya.

Itulah sedikit cerita tentang perjuangan Nayyara untuk melawan kelainan jantung bawaannya. Biaya operasi yang besar pun terbantu dengan adanya galang dana online yang dilakukan melalui kitabisa.com. Melalui galang dana di Kitabisa, kamu bisa menerima donasi dari keluarga, sahabat, dan para donatur yang tergerak membantu.

 


Seperti orang tua Nayyara, kamu juga bisa menolong keluarga, sahabat, atau tetanngamu yang sedang butuh bantuan biaya pengobatan lewat galang dana di Kitabisa. Melalui galang dana, kamu bisa menerima donasi dari keluarga, sahabat, dan para donatur.

Kamu bisa konsultasi galang dana untuk biaya pengobatan dengan cara, klik: ktbs.in/tanya atau kirim pesan whatsApp ke nomor 081315532353.

Show Buttons
Hide Buttons