Author

Nisrina Darnila

Browsing
  • Penyakit hirschsprung merupakan kelainan usus besar yang langka dan bisa menyebabkan kematian
  • Penyakit hirschsprung terjadi pada 1:5000 kelahiran baru
  • Faysal adalah salah satu anak yang berjuang untuk sembuh dari Penyakit hirschsprung

Penyakit hirschsprung terjadi di Indonesia kurang dari 150 ribu kasus per tahun dan termasuk ke dalam penyakit langka. Dari namanya yang asing, tidak banyak yang tahu mengenai penyakit ini.

Melalui artikel ini, kami ingin berbagi informasi mengenai apa itu penyakit Hirschsprung, apa penyebabnya, serta diagnosanya. Kami juga akan membagikan kisah Faysal yang berjuang untuk sembuh dari penyakit hirchsprung.

Apa itu Penyakit Hisrchsprung?

Penyakit hirchsprung adalah sebuah kondisi yang tidak normal pada usus besar seorang bayi. Sel-sel syaraf yang berfungsi untuk mengatur pergerakan otot pada kolon mendorong feses ke anus tidak berjalan sebagaimana mestinya. Akibatnya, feses akan terperangkap di dalam usus.

Feses yang terus terperangkap di dalam usus dan tidak dapat dikeluarkan akan menimbulkan masalah baru jika tidak segera dilakukan penanganan yang cepat dan tepat. Adapun masalah lain yang mengintai di balik hirschsprung yang tidak segera ditangani adalah infeksi usus serius, konstipasi, pembengkakan perut, dan beragam masalah pada usus lainnya.

Pengidap penyakit ini didominasi oleh anak laki-laki dengan rasio 4:1 dibandingkan anak perempuan.

Gejala Penyakit Hirschsprung 

Pada dasarnya gejala penyakit hirschsprung cukup beragam antara penderita satu dan lainnya. Hal ini dikarenakan tingkat keparahan yang dialami masing-masing bayi. Namun setidaknya, orang tua dapat mengamati dalam dua hari pertama setelah kelahiran gejala berikut ini:

  1. perut membuncit;
  2. kehilangan nafsu makan;
  3. muntah dan mengeluarkan cairan berwarna hijau atau cokelat;
  4. susah buang air besar (biasanya disertai dengan bayi yang terus menjadi rewel); dan
  5. diare

Pada kondisi yang tidak terlalu parah, hirchsprung boleh jadi tidak akan terdeteksi sampai bayi tumbuh dan memasuki masa kanak-kanak. Gejalanya pun dapat diamati, yakni:

  1. perut membuncit;
  2. konstipasi kronis;
  3. perut terus menerus merasa kembung;
  4. perkembangan menjadi terganggu;
  5. susah menaikkan berat badam; dan
  6. sering merasa kelelahan.

Faktor Penyebab Hirschsprung

Inti dari terjadinya penyakit hirchsprung adalah kerusakan sel syaraf pada usus besar. Namun, faktor pembentukan syaraf yang tidak sempurna ini masih belum benar-benar jelas diketahui.

Pada beberapa kasus, umumnya penyakit ini terjadi akibat faktor keturunan atau terjadinya mutasi genetik. Dengan demikian, apabila orang tua atau keluarga memiliki riwayat serupa, maka ada kemungkinan keturunan selanjutnya juga akan mengalami kondisi serupa.

Seperti contoh, apabila anak pertama yang dilahirkan mengalami gangguan ini, maka kemungkinan anak kedua dan seterusnya juga mengalami gangguan hirchsprung.

Selain faktor genetik, probabilitas terjadinya penyakit ini juga berbeda antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, bayi laki-laki cenderung berisiko lebih besar mengalami hirchsprung dibandingkan bayi perempuan.

Diagnosis

Apabila buah hati mengalami gejala di atas, maka perlu segera dilakukan tindakan medis oleh dokter dan tim ahli. Dokter akan lebih dulu melakukan diagnosis untuk memastikan tindakan yang akan diambil. Selain beberapa pertanyaan terkait siklus buang air si kecil, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan sebagai berikut.

  1. Pemeriksaan Rektal

Dokter akan mengukur kinerja otot di sekitar rektum pasien. Balon ditiupkan di dalam rektum untuk melihat kondisi otot-otot pada rektum. Apabila otot pada rektum menunjukkan kondisi relaks, maka pasien positif mengalami hirchsprung.

  1. Abdominal X-Ray

Dengan memasukkan barium atau cairan kontras lain ke dalam anus melalui rektum, dokter akan melihat kondisi dalam usus pasien. Barium yang memenuhi lapisan usus akan menciptakan siluet usus besar dan rektum. Gambar tersebut lantas akan menunjukkan perbedaan bagian yang sempit dan melebar.

  1. Mengambil Sampel

Langkah yang paling akurat adalah dengan pengambilan sampel (biopsi). Sampel biopsy akan dikumpulkan akan diperiksa dengan cermat melalui mikroskop untuk mengecek sel syaraf yang bermasalah.

Penanganan Penyakit Hirschsprung

Penanganan penyakit hirschsprung harus dilakukan sesegera mungkin. Dokter akan melakukan operasi dengan memotong bagian dari kolon yang tidak memiliki sel saraf dan mengganti bagian tersebut dengan bagian kolon lainnya yang masih normal dengan cara ditarik dan disambungkan langsung ke anus. Namun sebelum operasi, pasien tidak boleh mengonsumsi ASI (diganti dengan infus) dan isi perutnya dibersihkan terlebih dahulu.

Penyakit Hirschsprung pada bayi

Selain melakukan operasi dengan menggangti sel saraf yang hilang, cara kedua yang bisa dilakukan untuk mengobati penyakit hirschsprung adalah operasi ostomy. Operasi ini dilakukan untuk membuka rute baru untuk pembuangan feses, sehingga tidak melalui anus yang disebut dengan stoma.

Setidaknya ada dua tahap yang dilakukan dalam operasi ostomy, yakni ileostomy dan colostomy. Ileostomy merupakan rangkaian operasi di mana dokter akan membuang seluruh usus besar dan menghubungkan langsung usus kecil denga stoma. Lalu feses akan keluar dari tubuh melalui stoma tersebut.

Sedangkan colostomy, dokter akan melakukan prosedur berupa membuat stoma di bagian ujung usus besar. Lalu, dari tempat itulah feses akan dibuang.

Cerita Perjuangan Faysal Untuk Sembuh

Faysal merupakan putra semata wayang dari ibu Veti dan Pak Taryana yang berprofesi sebagai buruh.  Sejak lahir, Faysal sudah didiagnosa memiliki penyakit hirschsprung karena perutnya membengkak dan mengeras. Penyakit ini membuat Faysal harus menggunakan selang untuk buang air besar.

Tidak hanya mengalami kesulitan buang air besar, penyakti hirschsprung ini membuat Faysal sulit makan dan sering muntah. Pada kasus ini, pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah operasi colostomy atau membuat kantung untuk kotoran Faysal.

Berprofesi sebagai buruh pembuat kusen dan penjual gula merah, kebutuhan operasi ini harus ditunda hingga usia Faysal 3 tahun karena keterbatasan biaya kedua orang tuanya. Faysal pun hanya diberikan pengobatan alternatif yang bisa membantu meringankan rasa sakit yang ia rasakan pada perutnya.

Suatu hari, Faysal menangis karena sakit perut dan rasa nyerinya sudah tidak bisa ditahan. Tidak tega melihat anaknya kesakitan, Ibu Veti pun rela meminjam uang ke orang terdekat untuk melakukan operasi colostomy untuk Faysal.

Beberapa bulan setelah operasi colostomy, usus Faysal membesar dan memanjang keluar perut dan kembali membuatnya sulit bergerak karena sakit. Dokter kembali menyarankan untuk segera dilakukan operasi kedua, tapi kembali tertunda karena tidak adanya biaya.

faysal dengan hirschsprung

Perjuangan Ibu Veti dan suami akhirnya terdengar dan membuat LazisNU menggalang dana melalui Kitabisa.com untuk membantu biaya operasi Faysal. Melalui halaman kitabisa.com/operasiususFaysal, donasi yang terkumpul untuk Faysal sudah mencapai Rp209 juta.

Biaya ini akan digunakan untuk semua kebutuhan operasi Faysal. Menurut update terakhir pada tanggal 23 Januari 2018, operasi pengobatan ini akan dilakukan pada bulan depan. Sambil menunggu operasi, Faysal diberikan obat untuk mengurangi rasa sakit dan kantong plastik khusus untuk membungkus ususnya yang harus diganti setiap 3 hari sekali.

Alhamdulillah, terima kasih banyak untuk para donatur. Bulan depan Insya Allah Faysal akan mulai dioperasi. Mohon doanya agar operasinya berjalan lancar, kata Ibu Veti.

Faysal merupakan salah satu contoh anak dengan penyakit hirschsprung yang berhasil terbantu melalui penggalangan dana di Kitabisa.com. Biaya pengobatan yang besar untuk kedua orang tua Faysal bisa terbantu untuk kesembuhan buah hatinya.


Inspirasi perjuangan Ibu Veti perlu kita sebarkan untuk memotivasi orang tua lain yang sedang berjuang menyembuhkan penyakit hirschsprung pada anaknya.

Jika kamu mengenal bayi dengan penyakit hirschsprung yang butuh biaya pengobatan dan galang dana melalui Kitabisa.com, kontak kami dengan klik gambar di bawah untuk kirim pesan Whatsapp di 0813-1553-2353.

  • Atresia Bilier adalah penyakit langka yang terjadi setiap 1 dari 10.000 kelahiran baru
  • Penderita Atresia Bilier membutuhkan cangkok hati untuk penyembuhan
  • Zhafira merupakan salah satu bayi yang berjuang untuk sembuh dari Atresia Bilier

Atresia Bilier adalah salah satu penyakit langka yang terjadi di Indonesia. Melalui artikel ini, kami ingin membagikan informasi tentang apa itu atresia bilier, penyebab, gejala, dan cara pengobatannya. Kami juga akan bercerita tentang perjuangan orang tua dari Zhafira, salah satu anak dengan kondisi atresia bilier yang berjuang mendapatkan cangkok hati.

Apa itu Atresia Bilier?

Atresia Bilier merupakan kondisi langka dimana terjadi penyumbatan pada saluran empedu menuju ke hati. Saluran tersebut adalah jalur lalu lintas cairan empedu dari hati yang disimpan di usus kecil. Cairan tersebut berfungsi untuk membantu penyerapan zat-zat yang berguna bagi tubuh pada proses pencernaan. Selain itu juga sebagai medium pembawa racun dan zat sisa pencernaan ke saluran pembuangan.

Apabila saluran empedu tersumbat, otomatis akan mengganggu proses pencernaan. Cairan empedu akan menumpuk di dalam hati dan membuatnya kehilangan fungsi untuk mengeluarkan racun tubuh. Lama kelamaan hal ini akan menimbulkan kerusakan pada hati yang membuatnya harus ditransplantasi.

Penyebab Atresia Bilier

bayi prematur di rumah sakit

Kelainan ini umumnya dialami bayi yang baru lahir. Kemunculannya bisa berawal sejak dalam kandungan (atresia bilier fetal­), dan pada usia 2-4 minggu setelah dilahirkan (atresia bilier perinatal). Pada sebagian kasus, bayi pengidap atresia bilier fetal juga memiliki jantung, limpa, dan usus, yang tidak normal.

Belum ditemukan penyebab pasti, mengapa seorang bayi bisa mengalami atresia bilier. Meski begitu, ada beberapa kondisi yang mungkin memicunya, seperti mutasi genetis, sistem imun bermasalah, pertumbuhan hati dan saluran empedu yang tidak normal, paparan bahan kimia beracun pada ibu hamil, hingga infeksi virus.

Umumnya kelainan ini terjadi pada bayi prematur yang pertumbuhan organ vitalnya masih belum maksimal.

Gejala Atresia Bilier

Kondisi-kondisi di atas biasanya diikuti dengan sejumlah gejala. Salah satu gejala paling umum adalah perubahan warna kulit dan bola mata menjadi kekuningan. Juga perubahan warna cairan urine menjadi lebih gelap, serta feses yang berwarna pucat dengan bau kuat menyengat.

Ketika bayi mengalami tanda-tanda seperti ini, sebaiknya orang tua segera memeriksakannya ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan dini.

Bayi yang berat badannya bertambah dengan lambat juga rawan mengidap kelainan saluran empedu. Apabila ukuran limpanya membesar, maka bisa dipastikan bahwa dia memiliki kelainan tersebut. Namun sebelum vonis benar-benar matang, harus dibuktikan dengan serangkaian pemeriksaan dan tes.

Cara mengetahui Atresia Bilier

Penyakit atresia bilier mungkin saja berkaitan dengan penyakit hati lainnya. Guna mengetahui apakah seseorang memiliki penyakit ini, ada beberapa langkah diagnosa yang harus dilakukan.

Pasien terlebih dahulu akan difoto rontgen atau usg, lalu tes darah, dan biopsy untuk melihat kondisi hati dan saluran empedunya. Apabila terbukti bermasalah, maka barulah ditentukan prosedur penanganan untuk mengurangi dampaknya.

Penyembuhan Dengan Mengobati Gangguan Saluran Empedu

Terdapat dua macam perlakuan untuk mengobati pasien atresia bilier. Pertama adalah dengan prosedur Kasai atau Hepatoportoenterostomi. Operasi ini cukup rumit, karena perbaikan saluran empedu dilakukan dengan cara menggantikan posisinya dengan usus.

Tujuannya, untuk mengalirkan cairan empedu langsung menuju usus kecil. Prosedur Kasai dianjurkan untuk bayi pengidap atresia bilier yang baru berusia 2-3 bulan. Kemungkinan keberhasilan operasi Kasai cukup tinggi, akan tetapi tidak berfungsi pada semua pasien.

Berdasarkan catatan, sekitar 50% pasien yang pernah menjalani prosedur ini masih harus melakukan transplantasi hati.

Kedua, dengan transplantasi hati, yang merupakan prosedur paling maju yang digunakan untuk mengobati pasien atresia bilier.  Prosedur ini tidak mudah dan membutuhkan waktu lama. Selain itu juga memakan biaya yang tidak sedikit.

atresia bilier hati

Berbagai persyaratan harus dipenuhi. Golongan darah pendonor dan penerima harus sama. Bila perlu, rentang usianya juga harus sebaya. Karena ini berhubungan dengan ukuran hati yang akan diterima pasien. Serangkaian tes jantung dan tubuh secara menyeluruh dilakukan untuk memastikan pasien mendapatkan donor hati yang tepat.

Saat ini telah ditemukan prosedur modern transplantasi hati orang dewasa untuk anak, yaitu split liver. Dengan begitu bayi yang mengidap atresia bilier bisa memperoleh donor dari siapa saja. Namun, sejumlah risiko telah menunggunya pascaoperasi.

Selama minimal 6 bulan sampai 1 tahun, bayi akan menghadapi risiko penolakan tubuh terhadap hati baru, infeksi, dan komplikasi hati yang lainnya.

Kisah Zhafira Berjuang Untuk Hati

Zhafira merupakan anak dari Anggresti dan Ditya asal Yogyakarta yang memiliki anak dengan atresia bilier. Setelah terdiagnosa seperti itu, Zhafira memiliki kondisi di mana saluran empedu miliknya tidak berkembang sempurna. Kondisi ini juga yang membuat terdapat hambatan aliran dari empedu ke usus 12 jari dan banyak cairan yang menumpuk di hati.

Dokter menyarankan Zhafira untuk segera dioperasi dan mendapatkan transpalansi hati agar ia bisa sembuh dari kelainannya tersebut. Perkiraan biaya yang akan dibutuhkan adalah sekitar 1,2 miliar, padahal ayah dari Zhafira hanyalah seorang PNS baru yang bertugas di Lampung.

Kondisi keluarga yang seperti ini, menggerakkan hati teman-teman dari orang tua Zhafira. Ni’mah Hanifah dan beberapa alumni dari SMPN 2 Yogyakarta menggalang dana melalui halaman kitabisa.com/hatiuntukzhafira demi memberikan kemudahan kesembuhan Zhafira.

Sebelum melakukan transplansi hati, harus dilakukan screening pendonor hati untuk Zhafra. Biaya Screening juga tidak sedikit dan tidak di-cover oleh asuransi BPJS. Melalui campaign di Kitabisa.com, donasi yang sudah terkumpul sekitar Rp110 juta dan kampanye ini masih terus berjalan hingga Zhafira mendapatkan cangkok hati dan jadwal untuk melakukan operasi.

Alhamdulillah, kami tidak berhenti mengucap syukur atas semua bentuk support dari Bapak/Ibu/Sdr/I sekalian. Semoga Allah balas dengan kebaikan berkali lipat. Mohon doa dan dukungan untuk Zhafira, kata Ni’Man.

Zhafra merupakan salah satu contoh dari banyak anak Indonesia lain yang mengidap penyakit atresia bilier. Kini biaya bukanlah penghalang untuk kesembuhan seseorang. Selama ada pihak yang ingin melakukan penggalangan dana secara online di kitabisa.com.

Tidak hanya donasi, banyak pula pihak lain yang mendoakan kesembuhan bagi Zhafra dan kekuatan untuk orang tuanya.


Kegigihan orang tua Zhafra dan kepedulian Ni’mah sebagai teman sangat menginspirasi. Semoga kisah inspiratif ini bisa memotivasi para orang tua yang memiliki anak dengan atresia bilier untuk tetap optimis untuk kesembuhan buah hatinya.

Jika kamu mengenal bayi dengan atresia bilier yang butuh biaya pengobatan dan galang dana melalui Kitabisa.com, kontak kami dengan klik gambar di bawah untuk kirim pesan Whatsapp di 0813-1553-2353.

Bayi prematur seakan menjadi satu kekhawatiran yang harus dihindari oleh sebagian besar ibu hamil. Nyatanya, dalam kondisi tersebut ada beberapa faktor yang tidak bisa dicegah atau dihindari begitu saja. Mulai dari calon ibu yang mengalami masalah air ketuban, letak plasenta bayi, dan gangguan kehamilan lainnya. Nah, kira-kira apa saja risiko dari bayi lahir prematur yang membuat para calon ibu paranoid?

Penyakit Kuning pada Bayi

Kasus penyakit kuning merupakan kasus yang sangat umum terjadi pada kelahiran bayi prematur. Tidak hanya karena usia kandungan yang  masih belum sempurna, penyakit ini juga disebabkan dengan adanya kadar bilirubin dalam tubuh bayi sangat tinggi.

Normalnya, kadar bilirubin akan dikeluarkan melalui urin atau bersama kotoran bayi. Tapi karena pada usia kandungan yang belum mencapai 9 bulan, maka sistem organ dalam tubuh bayi prematur pun belum bekerja sempurna.  Hal inilah yang membuat fungsi ginjal dan hati bayi belum sempurna dan mengalami peningkatan kadar bilirubin.

Anemia

Selain penyakit kuning, bayi prematur juga rentan terkena penyakit gangguan darah seperti anemia. Penyakit ini terjadi karena tubuh bayi yang belum memiliki sel darah merah yang cukup.  Hal ini erat kaitannya dengan usia kelahiran yang lebih cepat dari seharusnya dan banyak organ yang belum sempurna.

Penyakit anemia pada bayi prematur bisa menjadi sangat berbahaya karena meningkatkan risiko pendarahan dan kehilangan darah pada bayi. Kasus seperti ini sering terjadi pada usia bulan pertama bayi  setelah dilahirkan. Agar bisa mengatasinya, usahakan agar bayi selalu mendapatkan asupan ASI yang cukup.

Penyakit Gangguan Metabolisme

Masih berkaitan dengan sistem organ yang belum sempurna, bayi prematur juga memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit metabolisme. Biasanya bayi akan terkena hipoglikemia atau kondisi di mana kadar gula darah dalam tubuh bayi sangat rendah. Padahal, kadar gula yang cukup bisa membantu tumbuh kembangnya menjadi sehat dan baik. Hal ini juga terjadi karena kondisi fungsi hati bayi yang belum sempurna. Sehingga membuat penyimpanan glikogen dalam tubuh menjadi sangat lambat.

Penyakit Gangguan Pencernaan

Usia kehamilan yang cukup muda biasanya membuat bayi prematur memiliki sistem pencernaan belum sempurna. Kondisi ini juga yang membuat bayi berisiko terkena komplikasi NEC (Necrotizing enterocolitis). Penyakit ini bisa berubah menjadi penyakit yang sangat berbahaya. Hal ini  dikarenakan sel-sel yang seharusnya melapisi usus rusak dan membuat sistem pencernaan bayi terganggu. Kecukupan ASI sangat dibutuhkan supaya penyakit ini bisa dihindari dan membuat  bayi tetap sehat.

Penyakit Gangguan Otak

bayi prematur

photo credit: Kitabisa.com

Otak yang menjadi pusat saraf tubuh pun ikut merasakan dampak dari kelahiran bayi prematur. Gangguan otak yang akan terjadi seperti pendarahan pada otak atau penyakit pendarahan intraventrikular. Pendarahan ringan yang terjadi masih bisa diobati dengan baik dalam waktu yang singkat. Sementara jika pendarahan yang lebih serius terjadi menyebabkan bayi terkena cacat otak permanen.

Penyakit Paru-paru

Memasuki minggu pertama setelah dilahirkan, bayi prematur rentan memiliki gangguan pernapasan. Hal ini terjadi tak lain karena organ paru-paru yang belum terbentuk sempurna. Pada beberapa kasus, bayi prematur juga mengalami kekurangan sufaktan dan membuatnya terkena penyakit sindrom gangguan pernapasan. Dari kasus ini, tak sedikit juga bayi yang terkena panyakit paru-paru kronis.

Selain gangguan pernapasan, bayi prematur juga berisiko terkena apnea. Penyakit apnea merupakan penyakit yang bisa membuat bayi berhenti bernapas, denyut jantung melemah, dan kulit yang menjadi pucat. Apnea terjadi karena adanya masalah pada otak yang mengontrol  organ untuk bernapasan. Biasanya penyakit apnea akan dialami oleh bayi prematur yang sudah berusia 30 minggu.

Penyakit Gangguan Jantung

Bayi prematur juga sangat erat dengan penyakit gangguan jantung bawaan,salah satunya PDA (paten ductus arteriosus). Penyakit jantung bawaan ini bisa mengganggu dua pembuluh darah utama pada jantung bayi yang terus terbuka dan masuk ke dalam jantung. Akibat dari penyakit ini, bayi juga memiliki kemungkinan terkena penyakit hipotensi yakni kondisi tekanan darah rendah yang berbahaya bagi kesehatan bayi. Umumnya, penyakit ini akan pulih sendiri atau lubang tersebut akan menutup dengan sendirinya sesuai perkembangan bayi.

Kisah Bayi Prematur

bayi prematur, NICURANGERS,

Photo credit: Kitabisa.com

Sejak baru lahir, biasanya bayi prematur sudah harus dimasukkan ke dalam NICU dan dibantu dengan ventilator untuk mempermudah pernapasannya.  Mirip seperti kisah Baby Arthur, bayi laki-laki yang baru lahir prematur dan segera dimasukkan ke dalam ruang NICU karena permasalahan pada paru-paru dan jantungnya. Baby Arthur juga didiagnosis terkena PPHN (persistent pulmonary hypertension in the neonate) yang membuat tekanan jantung ke paru Arthur 72.8 yang batas normalnya di bawah 20.

Sebagai orang tua tentu selalu ingin memberikan apapun yang terbaik untuk anaknya, tak peduli berapa seberapa besar biaya yang akan dikeluarkan. Melalui sahabat dari ayah Baby Arthur dan kitabisa.com, satu demi satu donatur mengumpukan dana untuk kesehatan Arthur. Dari bantuan itu, perlahan penggunaan alat bantu Baby Arthur dilepaskan karena sudah bisa dilakukan sendiri. Hingga kini, update pada 31 Januari lalu, Baby Arthur sudah bisa keluar dari NICU dan pulang dari rumah.

***

Kamu juga bisa ikut menjadi bagian dari penggalangan dana dan membantu banyak bayi prematur di luar sana. Mengingat sebagian besar organ tubuh yang belum terbentuk sempurna, tentu sejak lahir perawatan bayi prematur sudah membutuhkan dana yang tak sedikit. Jika kamu mengetahui ada anak atau bayi yang sedang berjuang melawan penyakitnya, silakan klik: ktbs.in/baby atau gambar di bawah ini untuk melakukan galang dana.

Kitabisa.com berkolaborasi dengan Gerkatin Kepemudaan merilis video social experiment bertajuk Teman Tuli. Dalam video ini, enam orang Teman Dengar diminta mengobrol dengan Teman Tuli untuk pertama kalinya.

Video ini menguji bagaimana Teman Dengar berinteraksi dengan Teman Tuli. Sebab selama ini, tantangan terbesar Teman Dengar dan Teman Tuli adalah berinteraksi. Dari interaksi Teman Dengar dan Teman Tuli, video social experiment ini berusaha mengungkap cara paling efektif berkomunikasi dengan Teman Tuli.

 

Video ini bertujuan mengajak masyarakat lebih peduli pada hak-hak Teman Tuli.

 

Ternyata ada banyak hal menarik yang ditemukan dalam video social experiment tersebut. Apa kamu sudah tonton?

Baru Sehari, Video Social Experiment sudah ditonton 9 ribu kali.

Sejak kemarin, video  ini mendapat sambutan positif dari warganet secara cepat. Bahkan, dalam waktu 1 hari video ini sudah berhasil ditonton lebih dari sembilan ribu kali melalui channel Youtube.

Banyak juga yang menyukai dan membagikan pengalaman mereka menonton baik sebagai Teman Tuli atau Teman Dengar dalam kolom komentar video tersebut.

Komentar Positif Para Warganet

Lewat kolom komentar, mereka membagikan opini kalau Teman Tuli pada dasarnya merupakan orang yang sama ramahnya dengan orang lain. Ada juga yang berkomentar kalau hak-hak mereka sebagai penyandang disabilitas harus diperjuangkan, bukan dipandang sebelah mata.  Berikut beberapa rangkuman komentar positif dari para warganet :

Pertama, komentar dari @leoniesyfr yang penasaran dan ingin sekali bisa berkomunikasi dengan Teman Tuli. Bahkan dari video tersebut, ia mulai tertarik untuk mempelajari bahasa isyarat untuk lebih memahami mereka.

Lalu, ada pula komentar dari @titiknyata yang mengatakan antusiasnya terhadap video tersebut. Ia juga berharap bisa merasakan langsung pengalaman untuk menjadi Teman Tuli.

Last but not least, komentar dari @raissadarajah yang mengajak temannya untuk menyaksikan keseruan video ngobrol bersama Teman Tuli dan mendapatkan tanggapan positif dari temannya.

Contoh komentar di atas sudah cukup dijadikan bukti kalau di Indonesia masih banyak orang yang peduli. Justru, mereka berharap bisa ikut serta dalam memberikan bantuan nyata untuk Teman Tuli di manapun mereka berada.

Donasi untuk Anak Tuli

Setelah menyaksikan video social experiment tadi, kamu juga bisa memperjuangkan hak-hak masyarakat Tuli di Indonesia. Salah satunya mengikuti donasi untuk memberangkatkan Udana dan Yusi (dua anak Tuli Hebat) ke Children Camp – World Federation Deaf Youth Section (WFDYS) di Argentina. Udana dan Yusi akan menjadi perwakilan Indonesia pertama sejak konferensi Tuli  Internasional yang dilaksanakan pada tahun 1987.

Ikut donasi dengan klik di sini: https://ktbs.in/anaktuli

video-social-experiment

Show Buttons
Hide Buttons