Kenali Sistem Cangkok Hati Berikut Ini

Cangkok hati atau transplantasi hati adalah salah satu prosedur medis yang dilakukan untuk mengatasi gagal hati. Gagal hati merupakan kondisi ketika organ hati tidak berfungsi dengan baik karena mengalami kerusakan. Gangguan fungsi hati dapat disebabkan oleh infeksi virus hepatitis, kelainan genetik, atau konsumsi alkohol. Padahal, organ hati memiliki peranan yang sangat penting bagi tubuh.

Ada beberapa gejala yang dialami oleh penderita gagal hati, antara lain kulit dan mata berwarna kuning, terasa nyeri pada perut bagian kanan atas, perut terlihat buncit, mual dan muntah, buang air besar (BAB) berdarah, dan gangguan kesadaran. Dengan melakukan cangkok hati, penderita penyakit ini memiliki harapan untuk kembali pulih.

 

Tahapan Cangkok Hati

Cangkok hati pertama kali dilakukan di Indonesia, tepatnya di Semarang, pada 2010 lalu. Untuk melakukan operasi ini tidaklah mudah. Pendonor maupun resipien (penerima) harus memenuhi syarat-syarat tertentu, antara lain memiliki ikatan darah dengan resipien dan memiliki golongan darah yang sama. Selain itu, fungsi hati pendonor juga harus dalam keadaan normal.

Ada 3 tahapan yang harus dilakukan saat akan melakukan cangkok hati, yaitu:

  1. Skrining pada resipien dan pendonor

    Langkah ini dilakukan untuk mengecek golongan darah dan fungsi hati serta organ lainnya. Ada resipien yang berisiko melakukan operasi karena kondisi tertentu. Jika risikonya besar, upaya cangkok hati akan menjadi tidak optimal.
    Untuk memutuskan apakah cangkok hati layak dilakukan atau tidak, tenaga medis menggunakan skor Model for End-Stage Liver Disease (MELD). Resipien disebut layak untuk menjalani operasi apabila skornya berada pada rentang 15-30. Di atas 30, proses ini tidak dianjurkan karena kondisi organ hati terlalu berat.

  2. CT Scan, MRI, dan biopsi

    Jika resipien dan pendonor dinyatakan layak untuk menjalani cangkok hati, tahap selanjutnya adalah melakukan CT Scan, MRI, dan biopsi atau pemeriksaan dengan mengambil sampel jaringan organ hati. Tujuannya adalah untuk memastikan jika organ hati sedang dalam kondisi bagus.

  3. Cangkok hati

    Setelah kedua prosedur ini selesai dilakukan dan resipien dan pendonor dinyatakan dalam kondisi layak, cangkok hati baru bisa dilakukan.

 

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan

Perlu diketahui bahwa cangkok hati tidak seperti proses cangkok ginjal. Pendonor hati tidak serta-merta akan kehilangan sebagian hati selamanya seperti kehilangan satu ginjal. Pendonor hati dapat kembali memiliki hati yang utuh karena hati dapat memenuhi volumenya jika dibutuhkan. Setelah diambil sebagian, fungsi hati pendonor juga tidak akan terganggu.

Dalam prosesnya, perhatian serius justru harus diberikan kepada resipien. Pasalnya, organ hati yang dicangkokkan tersebut merupakan benda asing. Sifat imunitas tubuh adalah menolak organ asing tersebut. Oleh karena itu, resipien harus mengonsumsi obat imunosupresan secara rutin agar organ hati tersebut tidak  mengalami kerusakan. 

Namun, obat tersebut akan menurunkan sistem imunitas tubuh. Akibatnya resipien rentan terkena infeksi. Jadi, orang yang baru saja melakukan proses ini harus benar-benar menjaga diri dari segala macam infeksi. Salah satunya, mengenakan masker saat bepergian dan rutin melakukan evaluasi kesehatan. 

Selain itu, pendonor maupun resipien wajib menjaga berat badan sehingga terhindar dari obesitas. Kelebihan berat badan akan membuat hati mengalami fatty liver atau organ hati berlemak yaitu ketika sel-sel lemak menumpuk di organ. Risiko selanjutnya adalah diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi. Kondisi ini dapat mengarah pada stroke dan serangan jantung.


Kamu bisa bantu mereka yang membutuhkan bantuan biaya pengobatan dengan cara berdonasi di Kitabisa. Untuk berdonasi, klik gambar di bawah ini!

banner_donasi_biaya_pengobatan