Cerita #OrangBaik

Rumah dan Kursi Roda untuk Guru Ngaji yang Lumpuh

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Keterbatasan bukan menjadi penghalang Pak Amin (54 tahun) untuk berbuat kebaikan. Dengan kondisi tubuhnya yang istimewa, Pak Amin tetap semangat mengajarkan anak-anak mengaji.

 

Muhammad Amin, atau yang akrab disapa Pak Amin, adalah seorang guru mengaji yang luar biasa. Saat usianya 12 tahun, ia pernah terjatuh dan mengalami kelumpuhan. Kejadian tersebut sempat membuatnya putus asa dan tidak melanjutkan pendidikan. Namun, setahun setelah menderita lumpuh, Pak Amin mulai bangkit dan menerima takdirnya. Ia ingin membuat hidupnya lebih bermanfaat bagi orang lain dengan menjadi seorang guru ngaji.

 

Semangat Pak Amin untuk Mengajarkan Anak-anak

Rumah dan Kursi Roda untuk Guru Ngaji yang Lumpuh

Meski dengan keterbatasan, Pak Amin tetap semangat mengajarkan anak-anak di daerah tempat tinggalnya baca tulis Al Quran. Kadang, ia mengajar sambil duduk, namun lebih sering dengan posisi tidur karena kondisinya yang sudah tidak kuat untuk duduk dalam waktu lama. Kursi roda yang pernah Pak Amin miliki rusak sehingga ia tidak bisa kemana-mana. Karena keterbatasan biaya, ia belum mampu untuk membeli kursi roda yang baru.

Secara sukarela, Pak Amin memberikan pengetahuan tentang baca tulis Al Quran kepada anak-anak. Tak hanya tentang baca tulis Al Quran, ia juga mengajarkan ilmu tentang seni kaligrafi. 

 

Kondisi Rumah Pak Amin yang Memprihatinkan

Rumah dan Kursi Roda untuk Guru Ngaji yang Lumpuh

Pak Amin tinggal di Kelurahan Bontoa, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Ia tinggal seorang diri di sebuah gubuk di atas tanah milik keluarganya. Setiap harinya, rumah berdinding seng dan kayu itu ramai dikunjungi oleh anak-anak yang ingin belajar mengaji. Di rumah sederhana itu, Pak Amin mengajarkan anak-anak mengaji secara gratis. Di rumah itu, Pak Amin juga sempat membuka usaha warung kecil. Tetapi karena kondisi tubuh dan rumahnya yang tidak memungkinkan, usaha tersebut akhirnya ia tutup.

 

Pemenuhan Biaya Hidup Pak Amin Sehari-hari

Selain mengajarkan seni kaligrafi ke anak-anak, Pak Amin juga melukis dan menjualnya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Namun, kondisi tubuhnya yang sering sakit-sakitan membuat Pak Amin mendapatkan penghasilan yang tidak tentu dan sedikit. Untuk bertahan hidup, Pak Amin terkadang mendapatkan bantuan dari mantan muridnya atau tetangga sekitar. Para warga kerap membawakan makanan untuk Pak Amin yang tinggal sendirian. 

Baca juga:
Saminem, Wanita Berumur 50 Tahun jadi Tulang Punggung Keluarga
Bantuan untuk Renovasi Gubuk Miring Abah Oji

 

Dukungan Mantan Murid Pak Amin

Rumah dan Kursi Roda untuk Guru Ngaji yang Lumpuh

Melihat semangat dan perjuangan Pak Amin dalam berbuat kebaikan, Fahmi, mantan murid Pak Amin menggalang dana untuk membantunya. Bagi Fahmi, Pak Amin adalah guru yang istemewa. Galang dana ini menjadi bentuk bakti Fahmi untuk guru mengajinya, Pak Amin.

Rumah dan Kursi Roda untuk Guru Ngaji yang Lumpuh

Galang dana di Kitabisa untuk Pak Amin berhasil mengumpulkan donasi lebih dari Rp 80 juta. Berkat bantuan dari para OrangBaik yang telah berdonasi, Pak Amin mendapatkan modal usaha untuk berjualan sembako. Ia juga menggunakan sebagian dananya untuk kebutuhan sehari-hari, dan membeli obat-obatan. Donasi yang terkumpul juga digunakan untuk membeli kursi roda yang baru, menyediakan tempat tinggal dan tempat mengaji yang layak bagi Pak Amin dan murid-muridnya. 

Pada bulan Juli lalu, proses renovasi rumah Pak Amin telah selesai. Kini, Pak Amin bisa tinggal dan mengajarkan ngaji kepada anak-anak di lingkungannya dengan nyaman.


Selain Pak Amin, masih banyak orang yang membutuhkan bantuan kita. Kamu bisa bantu saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan dengan cara berdonasi di Kitabisa. Klik gambar di bawah ini!

banner_donasi_umum

Comments are closed.