Tag

Cerita Orang Baik

Browsing

“Dokter Dinis harus merelakan impiannya menjadi dokter spesialis saraf karena 4 jenis penyakit autoimun di tubuhnya. Ia sempat  putus asa dan tak ingin menjalani pengobatan yang dianggap sia-sia. Namun pada akhirnya, dr. Dinis menemukan banyak hal yang bisa membuatnya bangkit kembali.”

Saya seorang dokter tapi saya juga pasien autoimun. Buat yang belum tahu, penyakit autoimun itu terjadi saat sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat dalam tubuh. Jadi, sistem yang seharusnya melindungi tubuh kita dari virus atau bakteri, malah menyerang dirinya sendiri. Gejalanya juga tidak khas, bisa dibilang subjektif karena cuma saya yang merasakannya, sementara orang lain lihat saya sehat-sehat aja.

 

Awal Perkenalan dr. Dinis dengan Autoimun

dokter dinis autoimun

Tahun 2009 jadi awal mula saya ‘berkenalan’ dengan penyakit autoimun. Waktu itu, saya masih menjalani ko assisten (koas) tingkat 5 Fakultas Kedokteran UI di Departemen Saraf RSCM. Awalnya, saya cuma merasa nyeri di bagian pergelangan kaki. Saya berpikir, ini hal yang wajar karena koas kan emang lebih capek dan banyak tugas ketimbang kuliah di kelas aja.

Sayangnya, rasa nyeri ini tidak hilang walau saya sudah istirahat dan ganti sepatu yang lebih nyaman. Malah rasa sakitnya makin menyebar ke pergelangan tangan. Badan saya juga rasanya letih banget kayak habis olahraga berat. Rambut saya mulai menipis karena rontok.

Saya tidak mau ambil pusing sama rasa sakit ini. Tapi ternyata, ibu saya mulai curiga saya ada penyakit.

 

Saat dr. Dinis Memulai Pengobatan Autoimun

dokter dinis autoimun

Saya dan ibu akhirnya mencari tahu penyebab rasa sakit ini. Kita menduga, ada masalah dengan saraf saya karena seluruh badan saya sering terasa sakit seperti ditusuk-tusuk. Setiap pagi, badan saya kaku dan susah untuk bangun.

Saya juga sudah berkonsultasi ke beberapa dokter saraf, namun hasil pemeriksaannya tidak merujuk ke jenis penyakit tertentu. Saya disarankan untuk konsultasi ke dokter imunologi. Hasil pemeriksaannya masih belum jelas, karena ada yang positif dan negatif. Gejalanya juga belum khas.

Rasa sakit yang tak kunjung hilang namun belum diketahui penyebabnya ini membuat saya berobat ke pengobatan kedokteran tradisional Cina di Malaysia. Setelah diperiksa, muncul sebuah diagnosa penyakit autoimun bernama rheumatoid arthritis (RA). Penyakit autoimun sistemik ini menyerang jaringan sendi-sendi, termasuk tulang dan rawan, sehingga menghasilkan rasa nyeri yang luar biasa. Saya harus menjalani terapi pengobatan akupuntur yang bisa dibilang rasa sakitnya melebihi rasa sakit saat melahirkan. Tapi ajaibnya, rasa sakit yang selama ini saya rasakan mulai menghilang walau hanya bertahan satu bulan.

Tadinya, saya ingin cuti kuliah karena penyakit ini. Tapi, karena pengobatan di Malaysia mulai membuahkan hasil, saya jadi berobat rutin sebulan sekali. Saya bisa menyelesaikan kuliah kedokteran saya. Tak hanya itu, 3 bulan setelah lulus, saya dinyatakan remisi alias penyakitnya dianggap sudah tidak aktif lagi.

 

Kabar Bahagia bagi dr. Dinis bernama Remisi

dokter dinis autoimun

Setelah mendapat predikat ‘remisi’ di tahun 2010, saya mulai beraktivitas lagi. Ia sudah memiliki rencana untuk menggapai cita-citanya yaitu menjadi dokter spesialis saraf. Sayang, 3 bulan kemudian, penyakit autoimunnya muncul kembali  dan lebih berat. Besar kemungkinan karena saya menganggap badan saya sudah sepenuhnya sehat, jadi saya aktif banget ikut banyak kegiatan.

Dari yang semula hanya rheumatoid arthritis (RA), penyakit autoimun saya kini bertambah Sjogren’s Syndrome (SS). Penyakit ini menyerang jaringan kelenjar eksokrin (penghasil air mata, air liur, dan keringat) yang bisa menimbulkan iritasi, radang sendi, fatigue dan lainnya.

Saya merasa beruntung bisa mendapat informasi yang lebih banyak soal autoimun karena lingkungan saya yang memang berprofesi jadi dokter. Ibu saya juga seorang dokter, jadi lebih gampang buat tanya-tanya cari dokter yang bagus. Akhirnya, saya menemukan dokter yang cocok untuk pengobatan autoimun di Singapura. Berkat pengobatan ini, saya bisa menyelesaikan pendidikan S2 di Inggris.

 

Mempelajari Autoimun Lebih Mendalam saat Pendidikan S2

Memiliki penyakit yang obatnya tidak banyak di Indonesia membuat saya tertarik untuk mempelajari autoimun lebih dalam pas kuliah S2. Saya sengaja memilih Imunobiologi (ilmu sistem kekebalan tubuh) dengan proyek penelitian tentang Sjorgen Syndrome.

Pertanyaan ‘mengapa saya bisa terkena?’ dan ‘apa ada harapan untuk sembuh?’ jadi alasan saya ambil tema Sjorgen Syndrome. Selama ini, kedokteran di Indonesia jarang ada yang bahas autoimun secara lengkap dan juga belum ada dokter khusus autoimun. Pengobatannya pun dilakukan berdasarkan jenis penyakitnya dengan gejala yang tidak terlalu khas. Misalnya, saat menyerang saraf, maka kita bisa konsultasi ke dokter saraf. Dengan kata lain, mengobati autoimun berarti harus bekerja sama dengan banyak dokter spesialis.

Ini memang bukan cita-cita yang semula saya rencanakan. Dari dulu, saya ingin jadi dokter spesialis saraf. Tapi paling tidak, saya masih bisa berguna buat orang banyak dengan mempelajari autoimun lebih dalam.

 

Saat Penyakit Autoimun Langka Menyerang dr. Dinis

Setelah lulus S2, saya berhasil diterima pendidikan S3 di Oxford, Inggris. Saya harus kembali ke Indonesia untuk memperpanjang visa. Saya juga sempat bekerja di Kantor Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) dengan ritme kerja yang cukup padat dan sering keluar kota. Saat itu, Sjorgen Syndrome saya memang dinyatakan remisi, tapi tidak dengan rheumatoid arthritis-nya yang makin aktif. Selang 3 bulan, penyakit autoimun saya kambuh lagi.

Saat itu, kaki saya susah digerakkan seperti terkena penyakit Parkinson. Saya terpaksa berhenti kerja untuk fokus kembali ke pengobatan. Padahal waktu itu, karir saya lumayan bagus. Saya ditunjuk jadi leader sebuah proyek di kantor saya.

Di tengah pengobatan, saya juga sempat menjalani operasi usus buntu dan pengangkatan endometriosis. Saya harus mengonsumsi obat hormon agar endometriosisnya tidak tumbuh lagi. Sayangnya, orang dengan autoimun tidak pernah cocok dengan obat hormon. Saya mengalami stroke sampai 5 kali dan sempat muncul vaskulitis atau peradangan pembuluh darah di otak.

Tak hanya itu, penyakit autoimun saya kembali bertambah. Addison’s disease, jenis penyakit autoimun langka ini bersarang di tubuh saya. Penyakit ini menyerang kelenjar adrenal sehingga tidak bisa menghasilkan hormon yang seharusnya. Tubuh saya jadi lebih sensitif dan tidak kuat terhadap perubahan cuaca dan cahaya, gula darah yang turun drastis dan bisa tiba-tiba pingsan.

 

Dari Menolak Kenyataan Hingga Berdamai dengan Autoimun

dokter dinis autoimun

Tentu bukan hal yang mudah bagi saya untuk jadi satu dari ratusan ribu penderita autoimun di Indonesia, khususnya addison’s disease. Rencana hidup saya seolah berantakan dengan adanya 4 jenis penyakit autoimun ini di tubuh saya. Tak hanya melepas cita-cita sebagai dokter spesialis saraf, tapi saya juga harus merelakan kesempatan S3 dan karir saya. Kaki saya lumpuh, badan juga tidak bisa digerakkan. Saya merasa tidak berguna karena selalu butuh bantuan orang kemana pun saya pergi.

Saya bahkan sempat bertengkar sama ibu karena ingin mengakhiri hidup dengan tidak melanjutkan pengobatan. Saya merasa, pengobatan yang selama ini saya jalani sia-sia. Tapi, ibu saya tidak menyerah dan selalu kasih semangat buat bangkit. Padahal, di waktu yang sama, ibu saya juga harus merawat ayah yang menderita sakit ginjal.

Berkat dorongan ibu, saya perlahan bangkit. Saya mulai menulis tentang penyakit autoimun di blog karena memang tidak banyak informasi yang bisa didapat orang awam tentang penyakit ini. Saya tidak menyangka, ada banyak banget komentar positif di blog. Padahal, tulisan pertama ini saya buat dengan setengah hati karena saya masih belum sepenuhnya menerima kenyataan.

“Banyak komentar yang masuk ke email saya setelah saya membuat blog tentang autoimun. Saya nggak nyangka, segitu banyaknya orang mencari informasi soal autoimun di Indonesia. Di titik ini, saya merasa masih bisa berguna untuk orang lain,” – dr. Dinis.

Ada perasaan haru saat saya menerima komentar itu di blog. Saya merasa tidak sendiri. Ternyata, ada teman yang sama-sama butuh semangat untuk melawan autoimun. Dari sinilah, saya membentuk Komunitas Autoimun Indonesia sebagai tempat berbagi informasi bagi teman-teman autoimun. Sebagai dokter, saya tentu punya akses informasi tentang autoimun yang lebih banyak daripada teman autoimun lainnya. Kini, tujuan hidup saya tidak lagi menolak penyakit tersebut, tapi berganti untuk mulai mencoba berdamai dengan autoimun.

Saat ini, 2 dari 4 jenis penyakit autoimun yang ada di tubuh saya sudah dinyatakan remisi. Selain menjalani terapi rutin, saya masih harus menjaga aktivitas agar tidak mudah stres dan capek. Saya berharap, remisi saya bisa berubah menjadi permanen supaya bisa terus membantu teman-teman autoimun yang ada di Indonesia.


Jika kamu punya teman atau sosok inspiratif lain yang berdedikasi untuk membantu banyak orang dan butuh biaya besar, kamu bisa galang dana di Kitabisa. Caranya, klik: ktbs.in/galangdana. Kamu bisa konsultasi mengenai galang dana ini dengan cara, klik: ktbs.in/tanyaimunesia atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 0813-1553-2353.

galang dana

Mereka kesulitan ekonomi sehingga tidak mampu menyekolahkan, mungkin juga malu. Dari situlah saya niatkan untuk mengabdikan diri dan berjuang sebisanya dari masyarakat kelas menengah ke bawah- Eko Setyo Asih, Pendiri SLB Anugerah

 

Eko Mendirikan SLB Anugerah untuk ABK Kurang Mampu

Eko Setyo Asih adalah salah satu wanita inspiratif asal Karang Anyar, Jawa Tengah. Tak hanya berprofesi sebagai guru anak berkebutuhan khusus, Ia juga memiliki Sekolah Luar Biasa (SLB) gratis untuk anak kurang mampu bernama SLB Anugerah.
Berdiri sejak tahun 2010, Eko bersama 10 relawan lainnya mengajar dan merawat anak-anak berkebutuhan khusus dari Karanganyar, Cirebon, Lampung, Palangkaraya, dan lainnya.

 

Senang Membantu di Bidang Kemanusiaan sejak Remaja

Saat masih remaja, Eko memang sudah aktif di bidang kemanusiaan. Bahkan, sejak SMP ia pernah ikut merawat pasien panti jompo dan panti asuhan. Ketertarikannya terhadap dunia sosial membuat dirinya memilih untuk berkuliah di FKIP Bimbingan Konseling Universitas Sriwijaya dan mengikuti beberapa pelatihan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Pilihan untuk menekuni dunia sosial ternyata tidak didukung oleh suaminya. Niat tulus untuk membantu para ABK secara sukarela membuat dirinya ditinggalkan oleh sang suami. Bahkan, dirinya pernah disalahkan karena melahirkan ABK akibat terlalu sering mengajar anak ABK di SLB. Putra pertama Eko terlahir dengan kebutuhan khusus. Hal ini pula yang menjadi salah satu alasan mengapa Ia mendirikan SLB Anugerah.
Namun, hal itu sama sekali tak menggoyangkan niat Eko. Ia berhasil mendirikan Sekolah Luar Biasa (SLB) Anugerah di rumahnya yang berlokasi di Kepoh RT 05/06, Tohudan, Colomandu, Karanganyar, Jawa Tengah.
Semua murid yang bersekolah di SLB Anugerah tidak pernah dikenakan biaya apapun. Namun, terkadang ada saja orang tua yang membayar secara sukarela dan donatur yang membantunya.

 

Eko Mendedikasikan Hidupnya untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Kini, SLB Anugerah sudah memiliki 86 siswa dan 36 di antaranya tinggal bersama di rumah Eko. Beberapa orang tua yang menitipkan anaknya juga tidak pernah dipungut biaya sama sekali. Orang tua menitipkan anaknya ke rumah Eko ketika uang mereka sudah habis untuk membiayai terapi anak berkebutuhan khusus.
Eko mendedikasikan hidupnya untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Ia juga berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mendirikan SLB Anugerah. Bahkan ia sampai mengandalkan seluruh gajinya dan donasi yang tak menentu untuk terus membiayai SLB miliknya.

Tergerak dengan  perjuangan Ibu Eko, Karmin Winarta untuk galang dana membantu biaya operasional SLB Anugerah. Mari bantu anak-anak berkebutuhan khusus ini agar terus belajar dan mandiri dengan berdonasi. Klik: kitabisa.com/sekolahanugerah  .

Dokter Lie Dharmawan bukanlah dokter biasa. Ia mendapat julukan “Dokter Gila” karena perjalanan hidupnya mendirikan rumah sakit apung. Dokter Lie bersama sejumlah dokter muda sudah berkeliling wilayah  Timur Indonesia untuk mengobati, bahkan mengoperasi pasien di atas lautan.

Lantas, siapa sebenarnya sosok dokter Lie Dharmawan ini?

 

Masa Kecil Dokter Lie Dharmawan

Dokter Lie Agustinus Dharmawan lahir di Kota Padang, 16 April 1946. Ia tumbuh di keluarga yang berkekurangan dan bukan berasal dari keluarga dokter.

Dokter Lie pernah punya pengalaman pahit sewaktu kecil. Adiknya meninggal akibat disentri karena masih sedikit akses kesehatan di Sumatera. Ibunya juga harus berjuang menghidupi Lie dan adik-adiknya setelah sang ayah meninggal.

Dari pengalaman inilah, dokter Lie bercita-cita menjadi seorang dokter. Ia sempat ditertawakan oleh teman-temannya karena cita-citanya dianggap tidak sesuai dengan kondisi perekonomian keluarganya. Namun, dokter Lie tidak menyerah. Ia selalu mencontoh perjuangan keras ibunya yang tak pernah putus asa dalam menghadapi sesuatu.

 

Perjuangan Lie Dharmawan menjadi Dokter

Perjuangan Lie Dharmawan jadi dokter
Sumber: Liputan6.com

Saat lulus SMA, Lie berkali-kali mendaftar ke fakultas kedokteran yang ada di Pulau Jawa. Namun, berkali-kali pula Lie tak pernah diterima. Kesempatan kuliah akhirnya datang saat ia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Res Publica (URECA). Sayangnya, Lie tak bisa melanjutkan kuliah karena kampusnya dihancurkan massa setelah situasi politik yang cukup memanas kala itu.

Kejadian ini sama sekali tidak menyurutkan cita-cita Lie menjadi dokter. Ia bekerja serabutan untuk mengumpulkan uang demi berangkat sekolah ke Jerman. Di usia 21 tahun, Lie diterima di Fakultas Kedokteran Free University di Berlin Barat. Untuk membiayai kuliah dan kehidupannya, Lie bekerja sebagai kuli bongkar muat barang dan juga bekerja di panti jompo. Uang hasil kerjanya ini juga Lie gunakan untuk membiayai sekolah adik-adiknya.

Kesibukannya ini tak lantas membuat Lie minim prestasi. Lie berhasil mendapat beasiswa. Ia meneruskan pendidikannya selama 10 tahun hingga mendapat gelar Ph.D di Free University Berlin. Ia berhasil lulus empat spesialisasi, yaitu ahli bedah umum, ahli bedah toraks, ahli bedah jantung dan ahli bedah pembuluh darah. Cita-cita masa kecilnya kini sudah tercapai.

 

Dokter Lie Dharmawan Bentuk Organisasi DoctorSHARE

Dokter Lie Dharmawan bentuk doctorSHARE
Sumber: doctorSHARE

Memiliki kondisi yang mapan di Jerman tak membuat dokter Lie melupakan mimpi awalnya untuk menolong banyak orang dengan profesinya sebagai dokter. Ia selalu ingat pesan ibunya, “kalau kamu jadi dokter, jangan memeras orang kecil atau orang miskin. Mungkin mereka membayar kamu berapa pun. Tetapi diam-diam mereka menangis di rumah karena tidak punya uang untuk membeli beras,”.

Alasan inilah yang membuat dirinya memutuskan untuk mengabdikan diri kepada kemanusiaan. Dokter Lie memboyong anak istrinya pulang ke Indonesia dan memulai karirnya sebagai dokter dari nol. Ia bekerja tanpa pamrih, bahkan tanpa mengharap bayaran di lokasi-lokasi terpencil di Indonesia. Di tahun 2009, Lie bersama Lisa Suroso mendirikan doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli), sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada pelayanan kesehatan medis dan bantuan kemanusiaan. Ia bersama dokter-dokter muda dan relawan berkunjung dari satu daerah ke daerah lain yang berada di lokasi terpencil untuk memeriksa dan mengobati warga setempat yang sakit.

 

Dokter Lie Dharmawan Dirikan Rumah Sakit Apung

Bersama doctorSHARE, dokter Lie mendirikan rumah sakit apung pertama milik swasta di Indonesia pada tahun 2013. Ide ini ia dapatkan saat doctorSHARE tengah melakukan pelayanan medis gratis di Langgur, Kei Kecil, Maluku Utara. Dokter Lie tiba-tiba didatangi seorang ibu yang membawa anak perempuannya dalam keadaan usus terjepit. Keduanya telah berlayar selama 3 hari 2 malam. Padahal, penanganan seseorang dengan usus terjepit harus dioperasi dalam waktu 6-8 jam. Beruntung, anak perempuan berusia 9 tahun tersebut berhasil dioperasi dan sembuh.

Kejadian ini tak bisa dilupakan oleh dokter Lie. Ia merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu. Ia ingin bisa menjangkau lebih banyak orang dengan mendirikan rumah sakit apung.

Ide ini sempat dicemooh oleh rekan seprofesinya yang bahkan menyebut Dokter Lie ‘gila’. Bagi temannya, tidak mungkin mendirikan rumah sakit apung karena butuh biaya yang sangat besar. Tapi, dokter Lie tidak berhenti mewujudkan mimpinya. Ia menjual rumahnya dan membeli kapal pinisi bekas pengangkut semen untuk membangun rumah sakit apung.

 

View this post on Instagram

 

Namanya dokter Lie. Ia bukan dokter biasa. . Ia tumbuh dalam keluarga yang berkekurangan. Adiknya berpulang karena disentri. Ibunya harus berjuang sendiri setelah ayahnya meninggal. . Karena kondisi ekonominya, ia pernah ditertawakan oleh teman-temannya saat bercita-cita menjadi dokter. Namun, Lie tak menyerah. Ia bekerja keras sampai bisa mengemban amanah menjadi dokter. . Sebagai dokter, ia berkomitmen membantu masyarakat kecil dengan mendirikan @doctorshare . Ia rela menjual rumahnya demi membeli kapal pinisi bekas pengangkut semen. Kapal itu, ia jadikan rumah sakit apung. Kini, rumah sakit apung telah membantu ribuan orang di Timur Indonesia. . Rumah Sakit Apung membutuhkan biaya perawatan ratusan juta agar tetap bisa beroperasi. Di Hari Jumat yang penuh berkah ini, mari berdonasi membantu Rumah Sakit Apung dengan cara, klik: kitabisa.com/rumahsakitapung . . Ini juga saat yang tepat untuk menunjukkan dukungan kita pada dokter Lie dan @doctorshare. Caranya, ketik: “Salut @doctorshare ” di kolom komentar! . Satu komentar darimu adalah bukti bahwa dokter Lie telah menginspirasi kita semua. . #rumahsakitapung #doctorshare #kitabisa #kitabisasehat #Orangbaik

A post shared by Kitabisa.com (@kitabisacom) on

Dengan rumah sakit inilah, dokter Lie “menjemput bola” alias memberikan pelayanan medis bagi warga di atas sebuah kapal yang bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Meski terlihat sederhana dengan bahan utama kapal dari kayu, rumah sakit apung ini sudah berhasil membantu ribuan orang di Timur Indonesia. Kapal ini bahkan bisa melayani operasi di lambung kapal. Dan yang paling penting, pasien sama sekali tidak dipungut biaya saat berobat di rumah sakit apung ini.

 

Bantu Rawat Rumah Sakit Apung

Dokter Lie sudah berjuang untuk memberikan pelayanan kesehatan di seluruh pelosok Indonesia. Kita juga bisa membantu dokter Lie dengan berdonasi bantu biaya perawatan Rumah Sakit Apung yang bisa mencapai ratusan juta rupiah. Caranya, klik: kitabisa.com/rumahsakitapung atau klik tombol ‘Donasi Sekarang’ di bawah ini.

Jika kamu punya teman atau sosok inspiratif lain yang berdedikasi untuk membantu banyak orang dan butuh biaya besar, kamu bisa galang dana di Kitabisa. Caranya, klik: ktbs.in/galangdana. Kamu bisa konsultasi mengenai galang dana ini dengan cara, klik: ktbs.in/tanya atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 0813-1553-2353.

Ada cerita menarik yang bisa kita ambil dari perjuangan anak laki-laki bernama, Asdkan Alp Li Adam. Anak kedua dari Adinda Lestari merupakan anak yang ceria dan aktif, bahkan setelah ia terdiagnosis punya penyakit ileus melena (robek pada usus). Simak perjuangan Asdkan melawan penyakitnya di bawah ini.

Asdkan Demam dan Kejang, Sebelum Terdiagnosa memiliki  Ileus Melena (Robek Usus)

 

“Hati saya teriris waktu dokter ngajak saya lihat kondisi pencernaan Asdkan. Di layar tv ruangan bedah anak, kelihatan kondisi pencernaan Asdkan yang merah-merah, banyak darah, dan berbuih-buih. Saya langsung mikir, kok bisa separah itu Asdkan kena Ileus Melena (robek usus). Penyakit itu bikin Asdkan selalu ngeluarin darah tiap kali BAB. Asdkan juga cuma bisa makan lewat infus sejak tiga minggu terakhir. . Saya pingin banget Asdkan bisa sehat lagi. Kalau udah sehat, saya pingin bawa Asdkan ngasih makan rusa. Dia seneng banget ngasih makan rusa. Saya ngebayangin bisa lihat Asdkan senang lagi.” (Adinda Lestari, Ibunda Asdkan) . +++ . Ibunda Asdkan telah memberikan yang terbaik untuk buah hatinya, kini saatnya kita berdonasi untuk biaya pengobatan Asdkan. Caranya, klik: kitabisa.com/asdkansembuh. . Bukan cuma bantuan material, Asdkan dan Ibunya juga butuh dukungan doa dan semangat dari kita. Mari kita doakan Asdkan dengan cara, ketik: “Asdkan bisa sehat lagi” di kolom komentar! . Kata adalah doa, satu komentar darimu adalah doa yang akan sangat berarti bagi kesembuhan Asdkan. #AsdkanSembuh #Kitabisasehat #kitabisa #Orangbaik

A post shared by Kitabisa.com (@kitabisacom) on

Sebelum diketahui memiliki ileus melena(robek usus), Asdkan awalnya mengalami demam dan kejang sehingga harus dibawa ke klinik terdekat oleh Neneknya. Setelah di klinik, Asdkan dirujuk untuk ke rumah sakit yang lebih besar untuk mendapatkan pemeriksaan intensif. Ada sekitar 3 rumah sakit di Jawa Barat yang menolak Asdkan karena keterbatsan alat pemeriksaan untuk anak-anak.

Asdkan yang lahir di Bandung, akhirnya harus dirujuk ke rumah sakit besar di Jakarta untuk pemeriksaan endoskopi karena mengeluarkan feses yang bercampur darah. Di Jakarta, Asdkan diketahui memiliki penyakit ileus melena (robek usus) yang menyebabkan Asdkan selalu mengeluarkan darah ketika BAB.

Orang Tua Asdkan Butuh Bantuan Biaya Pengobatan

 

Asdkan harus 4 kali pindah rumah sakit  untuk bisa mendapatkan pemeriksaan yang dibutuhkan. Ketika berpindah-pindah, orang tua Asdkan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk perpindahan dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya saja biaya ambulansnya mencapai 7 juta.

Belum lagi saran dokter yang mengharuskan Asdkan untuk diendoskopi yang keberadaan alatnya belum merata di semua rumah sakit di Indonesia. Sebelum menemukan rumah sakit yang memiliki alat endoskopi, Asdkan sempat tertahan di satu rumah sakit hingga tagihannya mencapai 54 juta.

Orang tua Asdkan ingin buah hatinya segera mendapat penanganan dan rela melakukan apapun untuk kesembuhannya. Akhirnya, Adinda Lestari (Ibunda Asdkan) memutuskan untuk galang dana lewat Kitabisa.com untuk membantu kesembuhan anaknya.

Dalam waktu singkat, galang dana ini berhasil mengumpulkan dana sebanyak 33 juta lebih dari ratusan #Orangbaik yang tergerak untuk membantu Asdkan.

Setelah Endoskopi kedua, Asdkan Boleh Pulang ke Rumah

Setelah dana terkumpul, Asdkan akhirnya sudah melakukan endoskopi untuk menutupi kebocoran yang disebabkan karena ususnya robek. Asdkan sudah melakukan dua kali endoskopi dan sekarang sudah diizinkan pulang ke rumah dan sedang melakukan rawat jalan.

Setelah endoskopi kedua inilah feses Asdkan sudah mulai berubah warnanya yang sebelumnya berwarna hitam karena tercampur darah menjadi warna hijau yang berarti sudah berangsur membaik. Hanya saja, dokter berpesan kepada orang tua Asdkan untuk segera membawa kembali ke rumah sakit jika feses Asdkan kembali berdarah.

 

“Asdkan dirawat di 4 rumah sakit hampir sebulan karena ususnya robek. Tiap kali Asdkan BAB pasti berdarah. Asdkan juga cuma bisa makan lewat infus. . Alhamdulillah, bulan ini dokter udah ngelakuin endoskopi (nutup kebocoran-kebocoran di usus) Asdkan. Sekarang, kondisi Asdkan jauh lebih baik jadi udah boleh pulang. . Asdkan punya hobi ngasih makan rusa, saya seneng banget setelah sehat Asdkan bisa ngelakuin hobi itu lagi. Rasa seneng ngeliat Asdkan bisa ngasih makan rusa lagi bener-bener gak bisa dibeli pake uang.” (Adinda Lestari, Ibunda Asdkan) . +++ . Ibunda Asdkan memilih tak menyerah saat Asdkan menghadapi cobaan bertubi-tubi, ia memilih terus berjuang dengan cara galang dana di Kitabisa. Melalui galang dana, ia berhasil mengumpulkan Rp 33 juta dari 183 donatur (lihat: kitabisa.com/asdkansembuh). . Seperti Ibunda Asdkan, kamu juga bisa galang dana untuk membantu keluarga/sahabat yang butuh bantuan biaya pengobatan. Konsultasi galang dana untuk bantuan biaya pengobatan silakan kunjungi: ktbs.in/tanya atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 081315532353. . Asdkan telah berjuang panjang melawan penyakitnya, kini saatnya kita kasih kado spesial untuk Asdkan. Karena Asdkan suka rusa, yuk kasih kado buat Asdkan, dengan cara: Kasih emotikon rusa di kolom komentar! Contohnya: 🦌🦌🦌 . Satu emotikon rusa darimu adalah hadiah agar Asdkan sehat dan bisa terus ceria memberi makan rusa seperti hobinya selama ini! #successtory #kitabisa #kitabisasehat #Orangbaik

A post shared by Kitabisa.com (@kitabisacom) on

 

Itulah kisah perjuangan Asdkan yang kini akhirnya sudah kembali ke rumah setelah melawan ileus Melena. Biaya pengobatan yang besar pun akhirnya terbantu dengan adanya galang dana online yang dilakukan lewat kitabisa.com. Ratusan keluarga dan teman bisa dengan mudah berdonasi dan memberikan dukungan serta doa untuk Asdkan.


Seperti Adinda, kamu juga bisa menolong keluarga, sahabat atau tetanggamu yang butuh bantuan biaya pengobatan dengan cara galang dana di Kitabisa. Melalui galang dana di Kitabisa, kamu bisa menerima donasi dari keluarga, sahabat, dan para donator yang tergerak membantu.

Kamu bisa konsultasi galang dana untuk biaya pengobanat dengan cara, klik: ktbs.in/Tanya atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 081315532353.

Nayyara Haifa Mecca, bayi imut satu ini ternyata menyimpan kisah perjuangan yang bisa membuat kita terinspirasi. Baru berusia 6 bulan, putri dari pasangan Agus Saeful Jatnika dan Intan Nurhayati ini harus mendapatkan perawatan intensif karena memiliki beberapa kelainan, seperti microchepaly, laringomalasia, jantung bocor jenis PDA, dan pneumonia. Bagaimana keberhasilan Nayyara berjuang melawan rangkaian penyakit tersebut?

Nayyara sudah Memiliki Kelainan Jantung PDA  sejak Lahir

“Halo kak, kecil-kecil begini aku berani lawan monster lho 💪😎. Gak tanggung-tanggung, ada dua monster yang nyerang aku: Namanya monster PDA dan pneumonia. Monster PDA nyerang jantungku 😰, kalau monster pneumonia nyerang paru-paruku 🤒. Gara-gara monster-monster itu, aku udah dirawat lebih dari 2 minggu di ruang PICU😭😭. Tapi tenang, aku yakin bisa ngalahin monster-monster itu 😉. Kata ibu dan ayahku 👨‍👩‍👧 kakak-kakak semua bakal bantuin aku ngalahin dua monster bandel itu. Aku percaya bareng kakak-kakak, aku bisa bangkit lagi buat ngalahin dua monster itu, Ciaaatttt! 💥💥💥” . +++ . Baby Nayyara sedang berjuang melawan penyakit jantung bawaan dan pneumonia (infeksi paru-paru). Biaya pengobatan untuk melawan dua monster tersebut sangat besar. Kamu bisa ikut berdonasi membantu Baby Nayyara dengan cara, klik: kitabisa.com/untuknayyara Tak cuma dukungan finansial, Baby Nayyara juga butuh dukungan moral untuk melawan monster bandel yang menyerangnya. Ayo kita semangatin Baby Nayyara melawan monster dengan mengirimkan kekuatan super power ⚡⚡ berupa Cinta untuk Nayyara. Caranya: Kasih emotikon hati (❤)di kolom komentar! Satu emotikon hati darimu akan menjadi doa yang menguatkan hati Nayyara melawan monster! 😊 #untuknayyara #bayisakit #Kitabisasehat #kitabisa #Orangbaik

A post shared by Kitabisa.com (@kitabisacom) on

Sebelum diketahui memiliki beberapa kelainan, Nayyara awalnya diketahui memiliki kelainan jantung jenis PDA sejak lahir. Tapi seiring berjalannya pemeriksaan beberapa kali, Nayyara memiliki kelainan lainnya seperti microchepaly, laringomalasia, dan pneumonia.

Sebelum mengobati kelainan lainnya, dokter menyarankan supaya kebocoran yang terjadi harus segera ditutup atau di- catherisasi. Karena kondisi inilah yang akhirnya menyebabkan pneumonia berat dan menyebar ke organ tubuh Nayyara lainnya.

Orang Tua Nayyara Galang Dana untuk Operasi Jantung

Operasi jantung yang harus dilakukan segera membuat kedua orang tua Nayyara bingung karena biayanya yang terlampau mahal. Operasi jantung ini sebenarnya memang ditanggung oleh BPJS di tempat Nayyara dirawat, hanya saja harus mengantri minimal selama 1 tahun.

Kedua orang tua Nayyara akhirnya memutuskan untuk galang dana lewat Kitabisa.com agar buah hati tercintanya bisa segera mendapatkan tindakan. Lewat campaign kitabisa.com/untuknayyara, banyak #OrangBaik yang tergerak membantu dan mendoakan untuk kesembuhan Nayyara.

Dalam waktu singkat, orang tua Nayyara berhasil mengumpulkan donasi sebanyak 146 juta lebih dari 883 donatur yang digunakan untuk  biaya operasi jantung Nayyara.

 

Operasi Nayyara Berjalan Lancar

 

“Selama 22 hari Nayyara harus dirawat di rumah sakit. Nayyara berjuang melawan infeksi paru-paru dan kebocoran jantung. Biayanya sama sekali gak sedikit. Di tengah cobaan itu, saya selalu ngeyakinin diri sendiri kalau rencana Tuhan pasti selalu indah. . Sekarang, Alhamdulillah kondisi Nayyara udah jauh lebih baik. Nayyara baru selesai operasi catherisasi (menutup bocor jantung). . Perjuangan Nayyara sampai bisa di titik ini bikin saya yakin kalau rencana Tuhan memang selalu indah. Dan itu bukan cuma ada di cerita film atau puisi aja, tapi rencana Tuhan yang indah benar-benar keluarga kami rasakan lewat Nayyara.” (Intan, Ibunda Nayyara) . +++ . Untuk biaya pengobatan Nayyara, orangtua Nayyara berinisiatif galang dana di Kitabisa. Orangtua Nayyara sukses mengumpulkan Rp 146 juta dari 883 donatur (lihat: kitabisa.com/untuknayyara). Hasil galang dana ini sangat membantu membiayai pengobatan Nayyara. . Seperti orangtua Nayyara, kamu juga bisa galang dana membantu keluarga/sahabat yang butuh bantuan biaya pengobatan dengan cara galang dana di Kitabisa. Untuk konsultasi galang dana, kunjungi: ktbs.in/tanya (link di bio) atau kirim pesan WhatsApp melalui nomor 081315532353. . Yuk kita doakan juga Adik Nayyara agar bisa sehat terus. Tulis doamu dengan cara, ketik: “Sehat selalu Nayyara” di kolom komentar! . Kami akan mengirimkan komentarmu kepada orangtua Nayyara. Bayangkan saat mereka membaca komentarmu, mereka akan senang melihat banyak #OrangBaik yang mendoakan Nayyara. #kisahsukses #successtory #kitabisa #kitabisasehat #Orangbaik

A post shared by Kitabisa.com (@kitabisacom) on

Operasi jantung Nayyara berjalan lancar. Saat ini, Nayyara juga sudah bisa kembali berkumpul bersama kedua orang tuanya di rumah. Saat ini Nayyara sedang melakukan pemeriksaan rutin ke dokter untuk syaraf-syaraf kecil di mata dengan cara screening setiap 1 bulan sekali, pemeriksaan telinga, tenggorokkan karena laringomalasia, dan microchepalinya.

Itulah sedikit cerita tentang perjuangan Nayyara untuk melawan kelainan jantung bawaannya. Biaya operasi yang besar pun terbantu dengan adanya galang dana online yang dilakukan melalui kitabisa.com. Melalui galang dana di Kitabisa, kamu bisa menerima donasi dari keluarga, sahabat, dan para donatur yang tergerak membantu.

 


Seperti orang tua Nayyara, kamu juga bisa menolong keluarga, sahabat, atau tetanngamu yang sedang butuh bantuan biaya pengobatan lewat galang dana di Kitabisa. Melalui galang dana, kamu bisa menerima donasi dari keluarga, sahabat, dan para donatur.

Kamu bisa konsultasi galang dana untuk biaya pengobatan dengan cara, klik: ktbs.in/tanya atau kirim pesan whatsApp ke nomor 081315532353.

Show Buttons
Hide Buttons