Tag

Kitabisa.com

Browsing

Oktober merupakan “Bulan Peduli Kanker Payudara” yang ditandai dengan “pink ribbon” (pita pink), lambang internasional untuk menunjukkan dukungan dan solidaritas terhadap perempuan dengan kanker payudara. Warna pink secara global dianggap warna feminim, yang melambangkan kepedulian, kasih sayang, kecantikan, dan kebaikan.

Kanker payudara merupakan kanker yang paling sering ditemui pada perempuan, tetapi laki-laki pun dapat terkena kanker ini.

Kanker Payudara merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan terjadinya pertumbuhan sel-sel tidak normal secara tidak terkontrol pada kelenjar atau jaringan payudara.

Sel ini umumnya membentuk tumor yang terasa sebagai suatu benjolan. Sel-sel ini kemudian membelah diri lebih cepat dan diluar kendali, sehingga jumlahnya berlebihan dan dapat menyebar ke organ tubuh lainnya.

Kanker bisa terbentuk di kelenjar yang menghasilkan susu (lobulus), atau di saluran (duktus) yang membawa air susu dari kelenjar ke puting payudara. Kanker juga bisa terbentuk di jaringan lemak atau jaringan ikat di dalam payudara.

Pasien kanker payudara yang terdeteksi dini pada stadium awal memiliki angka harapan hidup yang lebih tinggi, 98% pasien kanker payudara dini dapat bertahan hidup, sedangkan hanya 24% pasien kanker payudara stadium lanjut yang bertahan hidup hingga minimal 5 tahun.

Jadi, deteksi dini sangat penting untuk melawan kanker payudara.

Bagaimana cara kita melakukan deteksi dini Kanker Payudara?

SADARI: Periksa Payudara Sendiri

Sesuai dengan pesan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, SADARI ini dapat dilakukan secara rutin setiap hari ke-7 hingga ke-10, dihitung dari hari pertama haid setiap bulannya. Atau setiap bulan pada tanggal yang sama bagi perempuan yang sudah menopause (tidak haid lagi). Ini merupakan saat dimana jaringan payudara tidak terlalu sensitif.

Berikut langkah-langkah SADARI:

  • Berdiri tegak menghadap ke cermin.
  • Cermati bila ada perubahan pada bentuk dan permukaan kulit payudara, pembengkaan, atau perubahan pada puting.
  • Jangan khawatir bila bentuk payudara kanan dan kiri tidak simetris (tidak sama).
  • Angkat kedua lengan ke atas, tekuk siku, dan posisikan tangan di belakang kepala. Dorong siku ke belakang dan cermati lagi bentuk dan ukuran payudara.
  • Otot dada kamu dengan sendirinya akan berkontraksi saat kamu melakukan gerakan ini.
  • Posisikan kedua tangan pada pinggang, condongkan bahu ke depan sehingga payudara menggantung dan dorong kedua siku ke depan, lalu kencangkan (kontraksikan) otot dada kamu.
  • Angkat lengan kiri ke atas dan tekuk siku sehingga tangan kiri memegang bagian atas panggung.
  • Menggunakan ujung jari tangan kanan, raba dan tekan daerah payudara dan cermati seluruh bagian payudara kiri hingga ke daerah ketiak.
  • Buatlah gerakan lingkaran-lingkaran kecil dari atas ke bawah, melingkari daerah payudara, serta dari tepi payudara ke puting, dan sebaliknya.
  • Ulangi gerakan yang sama pada payudara kanan.
  • Pencet puting dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk.
  • Cermati bila ada cairan yang keluar dari puting.
  • Segera berkonsultasi dengan dokter, jika terdapat cairan yang keluar dari puting.
  • Pada posisi terbaring. Letakkan bantal dibawah punggung (sisi payudara yang akan diperiksa).
  • Angkat lengan kiri atas dan cermati payudara kiri menggunakan tiga pola gerakan sebelumnya. Angkat lengan kanan ke atas dan lakukan pemeriksaan yang sama pada payudara kanan.

Pada setiap gerakan SADARI, pastikan semua batas payudara teraba!

Batas atas: dua jari di bawah tulang selangka. Batas bawah: garis melingkar payudara. Batas tengah: garis tengah tubuh. Batas paling luar: pertengahan ketiak ke bawah.

SADANIS: Periksa Payudara Klinis oleh Tenaga Medis Terlatih

Perempuan yang berisiko lebih tinggi terkena kanker payudara disarankan untuk melakukan pemeriksaan rutin ke tenaga kesehatan (dokter umum, dokter spesialis, bidan, perawat, atau yang lainnya) 3 tahun sekali setelah berusia 20 tahun.

Pemeriksaan Mammografi

Pemeriksaan ini dapat dilakukan setiap tahun sejak memasuki usia 40 tahun atau sesuai saran dari  dokter.

Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)

Pemeriksaan ini dilakukan sebagai pemeriksaan lanjutan dari mammografi. Pemeriksaan ketika pasien memiliki gejala kanker.  USG juga dapat dilakukan pada perempuan yang masih berusia dibawah 40 tahun, ketika jaringan payudara masih padat dan sehingga tidak efektif jika diperiksa melalui mammografi saja.

Apa saja jenis Kanker Payudara?

Kanker Payudara Invasif

Kanker payudara invasif merupakan kanker payudara yang berkembang pada sel-sel pembentuk saluran payudara. Atau disebut duktal invasif. Pada jenis kanker ini dapat menyebar di luar payudara.

Kanker Payudara Non Invasif

Kanker payudara non invasif merupakan kanker yang biasanya ditemukan melalui mamografi karena jarang ditemukan benjolan. Jenis ini disebut pra kanker.

Jenis kanker payudara yang paling sering ditemukan yaitu duktal karsinoma in situ. Sifatnya jinak, dan ditemukan dalam saluran payudara, serta belum menyebar.

Apa saja faktor risiko Kanker Payudara?

Ini merupakan beberapa faktor risiko kanker payudara antara lain:

Bagaimana cara mencegah Kanker Payudara?

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kanker payudara berkaitan dengan hormonal dan genetika. Namun, cara terbaik dalam mencegah kanker payudara yaitu dengan selalu menghindari faktor risiko kanker dengan terus berperilaku hidup sehat dan menghindari asap rokok.

Apa saja jenis pilihan terapi Kanker Payudara?

Pembedahan

Ada beberapa jenis pembedahan untuk pasien kanker payudara antara lain lumpektomi (pengangkatan sel kanker dan jaringan sekitar dengan tetap mempertahankan penampilan asli payudara), mastektomi sebagian (pengangkatan sel kanker dan jaringan sekitar dengan luas lebih besar), dan mastektomi total (pengangkatan sel kanker serta seluruh payudara).

Dokter akan menentukan pembedahan mana yang paling sesuai dengan melihat karakteristik sel kanker serta kondisi yang nyaman untuk pasien.

Radioterapi

Terapi ini merupakan terapi dengan menggunakan sinar dengan kekuatan tinggi seperti sinar-x dan sinar gamma, untuk menghancurkan sel kanker. Dilakukan sesudah pembedahan, untuk memberishkan sel kanker. Jika dilakukan pada pasien dengan stadium lanjut, maka bertujuan untuk meringankan gejala.

Kemoterapi

Terapi ini merupakan terapi dengan menggunakan obat untuk memperkecil ukuran sel kanker, mencegah sel kanker tumbuh lagi pasca operasi, mengurangi gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan memperpanjang harapan hidup pasien.

Kemoterapi menyerang sel yang membelah diri dengan cepat seperti sel kanker dan sel normal lainnya seperti sumsum tulang belakang. Oleh karena itu, sering muncul beragam efek samping seperti kelelahan, rambut rontok, hilangnya nafsu makan, dan mulut kering.

Terapi Target

Terapi ini merupakan terapi yang spesifik menargetkan molekul-molekul biologis dalam tubuh yang berperan dalam merangsang pertumbuhan sel kanker sehingga sel kanker menjadi terhambat, lemah, dan hancur.

Terapi Hormon

Terapi ini merupakan terapi yang bekerja dengan menghambat hormon progesteron dan estrogen. Hormon ini merupakan hormon yang merangsang pertumbuhan sel kanker payudara.


Jika kamu ingin menolong keluarga, sahabat, atau tetanggamu yang sedang butuh bantuan biaya pengobatan termasuk pasien kanker payudara dengan cara galang dana di Kitabisa. Melalui galang dana di Kitabisa, kamu bisa menerima donasi dari keluarga, sahabat, dan para donatur yang tergerak membantu.

Kamu bisa konsultasi galang dana untuk biaya pengobatan dengan cara, klik : ktbs.in/tanya atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 081315532353.

Ginjal merupakan salah satu organ yang sangat penting bagi manusia. Ginjal menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan komponen darah yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan komposisi dalam darah. Seperti yang kita ketahui, darah merupakan media transportasi dalam penyaluran berbagai macam zat yang dibutuhkan oleh tubuh. Hasil dari pengolahan zat-zat tersebut akan menjadi zat sisa atau “limbah” bagi tubuh yang harus dibuang. Ginjal secara spesifik akan menyaring darah dengan memisahkan zat-zat yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh dan dikeluarkan dalam bentuk air seni. Dengan demikian, tubuh kita akan selalu terhindar dari zat-zat beracun yang berbahaya bagi tubuh.

Apa itu gagal ginjal kronis?

Gagal ginjal kronis merupakan masalah kesehatan masyarakat secara global. Jumlah pasien dengan gagal ginjal kronis meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut dan angka kejadian penyakit diabetes melitus serta hipertensi. Menurut hasil Global Burdrn Disease tahun 2010, Gagal Ginjal Kronis merupakan penyebab kematian peringkat ke-27 di dunia tahun 1990 dan meningkat menjadi urutan ke-18 pada tahun 2010. Sedangkan di Indonesia, perawatan gagal ginjal menempati peringkatan kedua pembiayaan terbesar dari BPJS kesehatan setelah penyakit jantung.

Gagal ginjal kronis adalah kondisi dimana organ ginjal mengalami kegagalan dalam melakukan fungsi penyaringannya sehingga menyebabkan darah dalam tubuh akan banyak terakumulasi oleh zat-zat sisa atau “limbah”. Kegagalan fungsi ini disebabkan oleh kerusakan sel-sel pada ginjal yang bersifat menetap.

Berbeda dengan organ liver yang mampu beregenerasi dengan cepat dan baik ketika mengalami kerusakan sel, sel-sel ginjal cenderung untuk sulit memperbaiki diri dan cenderung mengalami kerusakan yang menetap. Oleh karena itu, seseorang dengan gagal ginjal kronis memiliki kecenderungan untuk semakin parah kondisinya jika faktor-faktor penyebab kerusakan sel ginjal tidak segera dieliminasi.

Pada derajat awal kegagalan fungsi organ ginjal, seseorang dengan gagal ginjal kronis tidak akan merasakan gejala sehingga pasien tidak menyadari bahwa tubuhnya memiliki kecenderungan untuk mengalami kegagalan fungsi ginjal yang bersifat progresif. Namun, seiring berjalannya waktu, pasien akan merasakan badan terasa semakin lemah, mual, nafsu makan berkurang, dan penurunan berat badan mulai dirasakan pasien.

Apakah kondisi kegagalan fungsi ginjal bisa diobati?

Jika gagal ginjal yang terjadi dalam proses akut (jangka waktu pendek) dapat diperbaiki segera dengan mengobati faktor penyebabnya sedangkan pada gagal ginjal kronis merupakaan keadaan fungsi ginjal yang telah memburuk dalam waktu yang lama yang disebabkan oleh beberapa penyakit yang mendasari.

Gagal ginjal tahap akhir memerlukan terapi hemodialisis (cuci darah) karena pada tahap ini fungsi ginjal sudah tidak sempurna. Akan tetapi, hemodialisis ini hanyalah rangkaian proses untuk menggantikan fungsi penyaringan pada ginjal yang rusak (fungsi ginjal digantikan oleh mesin). Hemodialisis tidak memperbaiki fungsi ginjal yang rusak karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kerusakan sel pada ginjal memiliki kecenderungan untuk menetap.

Oleh karena itu, pasien dengan gagal ginjal kronis harus melakukan beberapa rangkaian hemodialisis secara rutin sebagai pengganti fungsi ginjal yang rusak. Sejauh ini, pengobatan yang paling mutakhir adalah dengan melakukan cangkok ginjal. Pasien yang melakukan hemodialisis secara rutin cenderung mengalami penambahan frekuensi kebutuhan akan hemodialisis misalnya pasien dengan hemodialisis seminggu dua kali bisa menjadi seminggu tiga kali untuk melakukan hemodialisis rutin.

Jika diibaratkan, gagal ginjal kronis seperti pembunuh yang mematikan korbannya secara perlahan. Penyakit gagal ginjal berkembang secara perlahan ke arah yang lebih buruk. Pasien terkadang tidak menyadari bahwa kondisi tubuhnya  semakin lemah. Pasien mulai menyadari ketika frekuensi kebutuhan hemodialisis semakin bertambah tiap minggunya.

Cara terbaik untuk mengobati gagal ginjal kronis adalah dengan mencegahnya.

Berbagai penyakit dapat mendasari terjadinya gagal ginjal kronis. Namun faktor risiko yang paling sering terjadi adalah hipertensi (tekanan darah tinggi), diabetes melitus, dan obesitas.

Hipertensi, diabetes melitus, dan obesitas merupakan penyakit yang dapat kita cegah.

Hal ini dimulai dengan memakan makanan yang seimbang dan olahraga rutin. Makanan yang seimbang adalah makanan yang terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak dalam jumlah yang cukup, tidak melebihi atau kurang dari kebutuhan energi harian. Perbanyak aktivitas dan melakukan olahraga rutin adalah upaya untuk membakar energi-energi yang disimpan di dalam tubuh sehingga tubuh kita tidak menyimpan cadangan energi terlalu banyak yang dapat mengakibatkan obesitas. Periksakan kesehatan kita secara rutin ke dokter seperti pemeriksaan kesehatan fisik dan pemeriksaan laboratorium. (dr. Dimas Febrian Purnomo)

Calista merupakan salah satu pasien gagal ginjal kronis yang harus melakukan transplatasi ginjal segera. Sejak Maret 2018, Calista harus berjuang untuk menjalani hemodialisis setiap minggu. Melihat perjuangan Calista yang sangat luar biasa ini, kemudian Mas Hartono (sepupu Calista) melakukan galang dana di Kitabisa untuk membantu biaya pengobatan dan proses transplantasi ginjal untuk Calista hingga akhirnya terkumpul donasi Rp 308.828.230 dari 800 #OrangBaik. Pada tanggal 28 September 2018, operasi transplantasi ginjal sudah selesai dilaksanakan dengan baik. Harapan dan doa dari keluarga semoga ginjal yang sudah dipasang bisa beradaptasi dengan baik pada tubuh Calista. 

Berbeda dengan Calista, Hatta adalah seorang anak yang terdiagnosis gagal ginjal kronis. Hatta terlahir prematur dengan kondisi ginjal yang tidak sempurna. Awalnya Hatta tidak bisa buang air kecil seperti anak pada umumnya. Kemudian dokter membuat lubang di daerah bawah pusar agar air seninya dapat keluar melalui lubang tersebut. Hatta sudah menjalani beberapa kali operasi sejak lahir untuk perbaikan saluran buang air kecilnya hingga saat ini.

Seiring bertambahnya usia, kemudian kondisi ginjal Hatta semakin memburuk, sehingga dokter mendiagnosis Hatta dengan gagal ginjal kronis stadium 5. Dokter pun menyarankan agar dilakukan transplantasi ginjal. Pada tanggal 4 September 2018, Hatta sudah melakukan operasi implan ureter pada kantung kemih untuk menyelesaikan satu masalahnya. Hingga saat ini Hatta masih terus menunggu uluran tangan dari #OrangBaik di luar sana untuk proses transplantasi hati.


Seperti Mas Hartono dan Mbak Eka, kamu juga bisa menolong keluarga, sahabat, atau tetanggamu yang sedang butuh bantuan biaya pengobatan dengan cara galang dana di Kitabisa. Melalui galang dana di Kitabisa, kamu bisa menerima donasi dari keluarga, sahabat, dan para donatur yang tergerak membantu.

Kamu bisa konsultasi galang dana untuk biaya pengobatan dengan cara, klik : ktbs.in/tanya atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 081315532353.

Apakah itu Sindrom Guillain-Barre?

Sindrom Guillain-Barre  atau sering dikenal juga dengan polineuropati demielinisasi akut merupakan suatu kondisi dimana terjadi gangguan pada saraf tepi berupa rusaknya selubung pembungkus serabut saraf yang disebabkan oleh autoimun, sehingga otot-otot menjadi lemah bahkan bisa lumpuh dan tak jarang berujung pada kematian.

Sindrom Guillain-Barre (SGB) pertama kali ditemukan oleh beberapa orang yaitu dokter di Prancis pada masa perang dunia pertama. Pada saat itu, terdapat beberapa orang pasien dengan gejala memiliki kemiripan berupa kelemahan otot yang terjadi secara progresif, dan dari hasil autopsi setelah pasien meninggal menunjukkan demielinisasi pada susunan saraf tepi.

Seberapa banyakkah angka untuk penyakit ini?

Insiden SGB di Indonesia masih cukup jarang. Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tercatat sebanyak 48 orang pasien pada tahun 2010-2011 yang dirawat dengan diagnosis Sindrom Guillain-Barre, dan jumlah ini mengalami kenaikan di tahun 2012 sebanyak 10%. Di dunia sindrom ini terjadi dalam 0,6 hingga 1,9 kasus dalam 100.000 populasi penduduk. Jumlah yang cukup langka namun mengalami kenaikan insiden. Oleh karena itu, kita perlu tahu fakta penyakit ini. Usia yang sering diserang yaitu berkisar 15-35 tahun dan tercatat bahwa usia laki-laki lebih banyak diserang dibandingkan perempuan.

Kenapa bisa ada penyakit Sindrom Guillain-Barre? Apa sih penyebabnya?

Sindrom Guillain-Barre merupakan penyakit autoimun, dengan kata lain terjadi kerusakan pada salah satu komponen kekebalan tubuh penderitanya yang menyebabkan sistem imun menyerang dirinya sendiri dengan menghancurkan selubung saraf pada sistem saraf tepi. SGB bukanlah penyakit keturunan ataupun penyakit menular. Namun, SGB bisa dicetuskan oleh infeksi, vaksinasi, maupun penyakit sistemik lainnya. Infeksi yang paling dominan mendahului SGB ini adalah infeksi saluran cerna. Tak jarang penderita SGB awalnya mengeluhkan diare, barulah 1-3 minggu kemudian  SGB mulai menunjukkan gejala.

Lalu, gejala seperti apa dong yang harus kita waspadai?

Di awal penyakit, gejala pertama yang muncul adalah kesemutan pada kedua kaki yang bersifat simetris dan dimulai dari bawah yang menjalar ke atas. Selanjutnya terjadi kelemahan otot, tangan dan kaki dirasakan kurang berdaya untuk melakukan gerakan biasa. Untuk beberapa kasus, juga ditemukan gangguan pada saraf pusat berupa lumpuh pada salah satu sisi wajah, kesulitan menelan, kesulitan mengeluarkan suara dan pandangan ganda. Hal ini biasanya terjadi setelah terjadi kelemahan pada keempat anggota gerak.

Rasa nyeri juga seringkali dirasakan penderita Sindrom Guillain-Barre. Nyeri paling berat dapat dirasakan pada daerah bahu, punggung, pantat, dan paha. Dikarenakan sindrome yang sudah berjalan cukup lama.

Sindrom Guillain-Barre bisa sembuh secara sempurna untuk 75% kasus. Sembuh dengan menyisakan gejala sisa untuk beberapa kasus dan ada yang berlanjut menjadi lebih berat hingga menyebabkan kematian. Waktu yang dibutuhkan untuk menjadi berat berkisar 4 minggu.

Untuk SGB yang berlanjut menjadi kasus berat, kelemahan otot sudah sampai ke otot pernafasan. Penderita SGB tidak mampu untuk bernafas secara normal hingga masuk ke kondisi  gagal nafas. Tidak jarang kondisi gagal nafas ini diperberat dengan adanya aspirasi pneumonia. Hingga seringkali pasien meninggal disebabkan kedua hal ini. Perawatan di ICU serta bantuan alat bantu nafas bernama ventilator sangat dibutuhkan untuk mempertahankan penderita agar tetap hidup. Namun penggunaan ventilator tentu memiliki batasan dan mempunyai efek juga bagi pemakainya.

Pemeriksaan fisik apakah yang dilakukan dokter jika curiga SGB?

Sebelum diperksa fisik secara keseluruhan, terlebih dahulu pasien maupun keluarga akan ditanya mengenai keluhan yang disarakan. Faktor pencetus yang mungkin ada sebelumnya. Barulah dilakukan pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan yang paling sederhana dilakukan berupa pemeriksaan sensorik dengan menggunakan kapas, jarum tumpul, benda dengan suhu panas maupun dingin. Dokter akan membandingkan sensari kedua kaki dan tangan apakah simetris atau tidak dan sudah sejauh mana penurunan fungsi sensorinya.

Kemudian pemeriksaan motorik, pasien akan diminta untuk mengangkat kaki kiri dan kanan bergantian, begitu juga dengan tangan, serta menilai kekuatannya.

Bagaimanakah pengobatannya?

Untuk SGB yang berat, perlu dilakukan penggantian cairan plasma darah atau dikenal juga dengan plasmapheresis. Plasma yang sudah mengandung kompleks autoimun perlu diganti dengan yang baru. Fisioterapi dibutuhkan untuk mencegah kekakuan pada seluruh otot-otot, dan penderita juga akan dilatih dan dimotivasi untuk terus menggerakkan otot-ototnya. Perawatan di ruang ICU dengan bantuan ventilator dilakukan jika sudah sampai pada tahap gagal nafas.

Penyakit ini apakah bisa dicegah?

Jika bertanya apakah ada tindakan tertentu untuk mencegah penyakit ini tidak terjadi pada diri atau keluarga, jawabannya adalah tidak ada. Penyakit autoimun tidak dapat dideteksi siapa yang akan diserang dan kapan waktu akan menyerangnya. Tindakan terbaik yang bisa dilakukan yaitu menjaga daya tahan tubuh untuk tetap optimal sehingga tidak mudah diserang oleh berbagai jenis bakteri atau virus yang bisa memicu terbentuknya penyakit autoimun ini. (dr. Husnul Wahyuni).


Kadek Nia Murni Yastini merupakan salah satu pasien Sindrom Guillain-Barre. Nia merupakan salah satu murid di SMK Penerbangan Cakra Nusantara Bali. Saat ini Nia dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Umum Sanglah Denpasar untuk mendapatkan penanganan yang lebih intensif. Nia menggunakan ventilator (alat bantu pernapaan). Bapak Made Sutawan, salah seorang guru di SMK Penerbangan Cakra Nusantara Bali yang kemudian tergerak hatinya untuk membantu Nia kemudian membuat campaign melalui Kitabisa. Hingga saat ini Bapak Made Sutawan menggalang dana melalui link berikut ini.

Selain itu, Bapak Apit Sopian, ayah Arya yang juga merupakan salah satu anak yang didiagnosis Sindrom Guillain-Barre. Arya, yang sebelumnya dirawat dalam kondisi koma di ruangan PICU salah satu rumah sakit di Bandung, saaat ini sudah kembali ke rumah dalam kondisi sadar dan sudah jauh lebih membaik.


Seperti Bapak Made dan Bapak Arya, kamu juga bisa menolong keluarga, sahabat, atau tetanggamu yang sedang butuh bantuan biaya pengobatan dengan cara galang dana di Kitabisa. Melalui galang dana di Kitabisa, kamu bisa menerima donasi dari keluarga, sahabat, dan para donatur yang tergerak membantu.

Kamu bisa konsultasi galang dana untuk biaya pengobatan dengan cara, klik : ktbs.in/tanya atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 081315532353.

Stunting atau yang lebih familiar dikenal dengan tubuh pendek adalah kondisi yang diakibatkan kurang gizi kronis atau menahun dan berdampak pada tinggi badan anak serta perkembangan otak di usia selanjutnya. Stunting telah menjadi masalah nasional dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 adalah 37,2% anak Indonesia mengalami stunting. Prevalensi tersebut meningkat sejak tahun 2007 dan 2010. Ternyata, Indonesia juga tidak hanya ‘menyimpan’ balita stunting, tapi juga diancam oleh prevalensi balita kurus dan sangat kurus sebesar 12,1%. Kondisi balita kurus dan sangat kurus, jika terus dibiarkan maka akan berujung pada stunting. Hal ini tentunya akan menjadi ‘sumbangan baru’ untuk beban stunting di Indonesia.

Stunting tentunya telah menjadi ancaman yang serius bagi Indonesia karena pada tahun 2030 Indonesia mengalami puncak bonus demografi dengan jumlah usia produktif jauh lebih banyak dari jumlah usia tidak produktif. Ini berarti kualitas usia produktif di tahun 2030, sangat bergantung dengan kualitas balita saat ini dan juga kualitas calon ibu yang akan melahirkan generasi penerus bangsa. Jika bersimulasi dari sebuah kasus, sebutlah Ani adalah seorang remaja usia 15 tahun di 2030 dan saat ini adalah seorang balita berusia sekitar 3 tahun. Asupan gizi serta status kesehatan Ani di tahun 2018 sangat memengaruhi apakah Ani akan menjadi anak stunting dan bagaimana perkembangan otak Ani saat tumbuh dewasa. Tidak hanya status gizi Ani di tahun 2018 yang memengaruhi Ani di tahun 2030, tapi juga status gizi Ibu Ani dan Nenek Ani. Bagaimana ini bisa terjadi?

1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah window of opportunity, atau masa dimana ibu bisa memaksimalkan kesehatan dan perkembangan anak melalui asupan gizi yang baik. Namun, sebelum 1000 HPK terjadi, calon ibu juga perlu memerhatikan asupan gizi untuk melahirkan anak sehat. Status gizi kurang yang dialami wanita saat hamil tidak hanya memengaruhi status kesehatan wanita tersebut, tapi juga dapat berdampak negatif pada berat badan bayi dan perkembangannya. Menurut berbagai penelitian, status gizi ibu saat hamil berhubungan dengan kejadian berat bayi lahir rendah (BBLR). Studi Aryastami dkk (2017) menunjukkan bahwa BBLR adalah prediktor utama untuk kejadian stunting balita usia 1-2 tahun di Indonesia. Maka dari itu, calon ibu generasi penerus bangsa penting sekali mempersiapkan kehamilan, mulai dari status gizi saat remaja hingga menuju masa kehamilan dan masa kehamilan itu sendiri, serta usia saat hamil.

Diperkirakan 23,9% perempuan Indonesia mengalami anemia. Anemia yang paling umum dan mudah untuk diatasi adalah anemia gizi besi. Anemia jenis ini dapat diatasi dengan konsumsi makan-makanan yang mengandung zat besi tinggi seperti hati, daging, ayam, ikan, kacang-kacangan dan sayuran hijau. Selain dari asupan makanan, zat besi dalam darah juga dapat ditingkatkan dengan konsumsi tablet tambah darah seminggu sekali, dan setiap hari selama masa kehamilan.

Kembali pada simulasi kasus Ani. Ani yang merupakan balita usia 3 tahun di tahun 2018, ternyata setelah ditelusuri riwayatnya merupakan bayi dengan berat lahir rendah karena ibu Ani melahirkan Ani di usia 15 tahun dengan lingkar lengan atas saat hamil kurang dari 23,5 cm. Selain itu, ibu Ani juga mengalami stunting karena saat lahir beratnya kurang dari 2,5 kg. Penelusuran berjalan lebih jauh, nenek Ani saat remaja ternyata adalah remaja yang anemia. Ani yang berusia 15 tahun pada tahun 2030 juga berisiko melahirkan anak dengan berat lahir rendah dan berisiko stunting, begitu juga yang terjadi dengan cucu Ani nanti. Dari kasus ini dapat diketahui bahwa stunting dan permasalahan yang menyertainya merupakan rantai yang tidak terputus dari status gizi wanita usia subur.

Indonesia dapat memanfaatkan bonus demografi sebaik-baiknya di 10 hingga 20 tahun mendatang dengan berinvestasi pada status gizi remaja putri. Untuk memutus mata rantai stunting yang seperti lingkaran setan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan remaja putri, khususnya wanita usia subur (WUS) yang berusia 15-49 tahun.

  • Makan-makanan beragam sesuai dengan Pedoman Gizi Seimbang dan Isi Pringku, yaitu sumber karbohidrat, sumber protein hewani dan nabati, sayur-sayuran, buah-buahan, serta sumber lemak. Wanita usia subur dianjurkan untuk konsumsi makanan yang tinggi zat besi dan tablet tambah darah.
  • Menurut BKKBN, anjuran usia saat hamil minimal adalah 21 tahun. Selain memerhatikan kesiapan psikologis dan biologis (organ reproduksi), usia minimal tersebut juga dianjurkan karena bertujuan untuk mencegah terjadinya malnutrisi saat hamil. Wanita yang masih dalam masa pertumbuhan akan lebih sulit mengatur kebutuhan gizi tubuhnya saat hamil dikarenakan tubuh masih membutuhkan gizi untuk bertumbuh dan di saat yang bersamaan janin juga membutuhkan gizi untuk berkembang.
  • Lingkar lengan atas wanita usia subur dianjurkan untuk tidak kurang dari 23,5 cm sebagai prediktor status gizi. Wanita dengan gizi yang baik maka akan mengurangi risiko terjadinya kejadian BBLR.
  • Penting untuk remaja putri mendapat edukasi sejak dini mengenai Gizi Seimbang, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, serta Kesehatan Reproduksi, sehingga tubuh akan lebih siap saat memasuki usia subur dan kehamilan. (Gita Kartika Ramadhani, S.Gz.)

Seperti 1000 HPK, kamu juga bisa menolong keluarga, sahabat, atau tetanggamu yang sedang butuh bantuan biaya pengobatan dengan cara galang dana di Kitabisa. Melalui galang dana di Kitabisa, kamu bisa menerima donasi dari keluarga, sahabat, dan para donatur yang tergerak membantu.

Kamu bisa konsultasi galang dana untuk biaya pengobatan dengan cara, klik : ktbs.in/tanya atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 081315532353.

 

Adek Maulana merupakan salah satu pejuang Atresia Billier. Maulana, lahir normal pada tanggal 4 Agustus 2017 dari pasangan Ibu Herlina dan Bapak Rudi. Bapak Rudi, bermodal tekad merantau ke Jakarta dari Lampung untuk mencari nafkah dan mengumpulkan biaya untuk pengobatan Maulana, saat ini bekerja sebagai seorang driver ojek online.

Maulana harus segera  cangkok hati, itupun risikonya sangat tinggi. Saat ini, tim medis berusaha untuk menangani gizi buruk pada Adek Maulana, salah satunya dengan mengkonsumsi susu khusus. Hingga sekarang, Adek Maulana menjalani rawat jalan di RSCM dan tinggal di Rumah Singgah Pejuang Hati, bersama para pejuang Atresia Billier yang lain.

Kondisi ini, menggerakkan hati donatur untuk terus membantu Adek Maulana melalui halaman kitabisa.com/maulanapejuanghati demi memberikan kesembuhan untuk Maulana.

Sebelum melakukan transplantasi hati, harus dilakukan screening pendonor hati untuk Adek Maulana. Biaya screening pun tidak sedikit dan tidak di-cover oleh asuransi BPJS Kesehatan. Melalui campaign di Kitabisa.com, donasi yang sudah terkumpul sekitar Rp104 juta dan kampanye ini masih terus berjalan hingga Maulana mendapatkan cangkok hati dan jadwal untuk melakukan operasi.


Mengenal Atresia Billier

Atresia Billier merupakan kondisi tertutupnya saluran empedu pada bayi yang baru lahir. Pada kondisi ini, saluran empedu membengkak dan kemudian menjadi tersumbat. Saluran empedu merupakan saluran yang membawa cairan empedu dari hati ke usus 12 jari. Saluran empedu pada normalnya berfungsi untuk menghancurkan lemak, menyerap vitamin larut lemak seperti vitamin A, D, E, dan K, serta membawa racun dan produk sisa keluar dari tubuh. Pada bayi dengan Atresia Billier cairan empedu akan meningkat di hati dan menyebabkan kerusakan pada hati. Hal ini membuat hati sulit untuk membuang racun di dalam tubuh.

Pada awalnya, Atresia Billier dikenal dengan penyakit kuning dan mata kuning. Pada keadaan normal, bayi lahir dengan sakit kuning ringan pada usia 1-2 minggu pertama dan kemudian hilang dari usia 2-3 minggu. Namun, pada anak dengan Atresia Billier, sakit kuning ini dapat bertambah parah. Gejala lain dari Atresia Billier antara lain warna urin bayi gelap seperti teh, BAB bayi berwarna abu-abu atau putih seperti dempul, dan pertumbuhan bayi pun menjadi lebih terlambat.

Ada 2 jenis Atresia Billier antara lain fetal dan perinatal. Fetal terjadi pada saat bayi berada di dalam kandungan. Perintal terjadi setelah bayi baru lahir, baru dapat didiagnosa setelah 2-4 minggu usia kelahiran.

Angka kejadian Atresia Billier pada bayi sangat jarang sekali yaitu 1 dari 18.000 kelahiran bayi. Beberapa kasus terjadi pada bayi dengan kelahiran prematur. Dan beberapa kasus lainnya ditemukan pada bayi dengan kelahiran normal. Hingga saat ini penyebab Atresia Billier masih belum ditemui.

Atresia Billier mungkin disebabkan oleh kejadian di rahim atau sekitarnya saat proses kelahiran. Beberapa pemicu yang mungkin dapat berkontribusi terhadap Atresia Billier antara lain infeksi virus atau bakteri setelah lahir, masalah sistem imun, seperti saat sistem imun menyerang hati atau saluran empedu tanpa sebab, mutasi genetik, yang membuat perubahan permanen pada struktur genetik, dan masalah saat perkembangan hati dan saluran empedu dalam rahim.

Jika Ayah dan Bunda menemukan beberapa kemungkinan di atas, maka diharapkan segera untuk membawa bayi ke fasyankes (fasilitas pelayanan kesehatan) terdekat, untuk mendapatkan penanganan segera dari dokter.

Penanganan Bayi dengan Atresia Billier

Salah satu pilihan utama pada bayi dengan Atresia Billier yaitu Operasi Kasai. Operasi ini dilakukan dengan memotong bagian saluran empedu yang tertutup, lalu menggantinya dengan bagian dari usus halus. Operasi Kasai merupakan operasi bypass untuk membuang saluran empedu yang rusak kemudian langsung dialirkan ke saluran pencernaan. Hasilnya cairan empedu langsung masuk ke dalam usus halus. Operasi Kasai harusnya dilakukan sebelum bayi berusia 3 bulan, dengan tingkat kesuksesan mencapai 80%. Operasi ini dilakukan bila saluran empedu yang tertutup berada di luar organ hati. Atau berarti belum terjadi kerusakan hati yang permanen.

Bila sumbatan terjadi di saluran empedu di dalam hati, akan dianjurkan tindakan transplantasi hati. Prosedur ini dilakukan untuk mengganti hati yang saluran empedunya tertutup, dengan hati yang masih sehat dari pendonor. Transplantasi hati juga dilakukan pada bayi yang sudah mengalami sirosis hepatik.


Seperti Maulana, kamu juga bisa menolong keluarga, sahabat, atau tetanggamu yang sedang butuh bantuan biaya pengobatan dengan cara galang dana di Kitabisa. Melalui galang dana di Kitabisa, kamu bisa menerima donasi dari keluarga, sahabat, dan para donatur yang tergerak membantu.

Kamu bisa konsultasi galang dana untuk biaya pengobatan dengan cara, klik : ktbs.in/tanya atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 081315532353.

 

Show Buttons
Hide Buttons