Tag

Penyakit autoimun

Browsing

“Dokter Dinis harus merelakan impiannya menjadi dokter spesialis saraf karena 4 jenis penyakit autoimun di tubuhnya. Ia sempat  putus asa dan tak ingin menjalani pengobatan yang dianggap sia-sia. Namun pada akhirnya, dr. Dinis menemukan banyak hal yang bisa membuatnya bangkit kembali.”

Saya seorang dokter tapi saya juga pasien autoimun. Buat yang belum tahu, penyakit autoimun itu terjadi saat sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat dalam tubuh. Jadi, sistem yang seharusnya melindungi tubuh kita dari virus atau bakteri, malah menyerang dirinya sendiri. Gejalanya juga tidak khas, bisa dibilang subjektif karena cuma saya yang merasakannya, sementara orang lain lihat saya sehat-sehat aja.

 

Awal Perkenalan dr. Dinis dengan Autoimun

dokter dinis autoimun

Tahun 2009 jadi awal mula saya ‘berkenalan’ dengan penyakit autoimun. Waktu itu, saya masih menjalani ko assisten (koas) tingkat 5 Fakultas Kedokteran UI di Departemen Saraf RSCM. Awalnya, saya cuma merasa nyeri di bagian pergelangan kaki. Saya berpikir, ini hal yang wajar karena koas kan emang lebih capek dan banyak tugas ketimbang kuliah di kelas aja.

Sayangnya, rasa nyeri ini tidak hilang walau saya sudah istirahat dan ganti sepatu yang lebih nyaman. Malah rasa sakitnya makin menyebar ke pergelangan tangan. Badan saya juga rasanya letih banget kayak habis olahraga berat. Rambut saya mulai menipis karena rontok.

Saya tidak mau ambil pusing sama rasa sakit ini. Tapi ternyata, ibu saya mulai curiga saya ada penyakit.

 

Saat dr. Dinis Memulai Pengobatan Autoimun

dokter dinis autoimun

Saya dan ibu akhirnya mencari tahu penyebab rasa sakit ini. Kita menduga, ada masalah dengan saraf saya karena seluruh badan saya sering terasa sakit seperti ditusuk-tusuk. Setiap pagi, badan saya kaku dan susah untuk bangun.

Saya juga sudah berkonsultasi ke beberapa dokter saraf, namun hasil pemeriksaannya tidak merujuk ke jenis penyakit tertentu. Saya disarankan untuk konsultasi ke dokter imunologi. Hasil pemeriksaannya masih belum jelas, karena ada yang positif dan negatif. Gejalanya juga belum khas.

Rasa sakit yang tak kunjung hilang namun belum diketahui penyebabnya ini membuat saya berobat ke pengobatan kedokteran tradisional Cina di Malaysia. Setelah diperiksa, muncul sebuah diagnosa penyakit autoimun bernama rheumatoid arthritis (RA). Penyakit autoimun sistemik ini menyerang jaringan sendi-sendi, termasuk tulang dan rawan, sehingga menghasilkan rasa nyeri yang luar biasa. Saya harus menjalani terapi pengobatan akupuntur yang bisa dibilang rasa sakitnya melebihi rasa sakit saat melahirkan. Tapi ajaibnya, rasa sakit yang selama ini saya rasakan mulai menghilang walau hanya bertahan satu bulan.

Tadinya, saya ingin cuti kuliah karena penyakit ini. Tapi, karena pengobatan di Malaysia mulai membuahkan hasil, saya jadi berobat rutin sebulan sekali. Saya bisa menyelesaikan kuliah kedokteran saya. Tak hanya itu, 3 bulan setelah lulus, saya dinyatakan remisi alias penyakitnya dianggap sudah tidak aktif lagi.

 

Kabar Bahagia bagi dr. Dinis bernama Remisi

dokter dinis autoimun

Setelah mendapat predikat ‘remisi’ di tahun 2010, saya mulai beraktivitas lagi. Ia sudah memiliki rencana untuk menggapai cita-citanya yaitu menjadi dokter spesialis saraf. Sayang, 3 bulan kemudian, penyakit autoimunnya muncul kembali  dan lebih berat. Besar kemungkinan karena saya menganggap badan saya sudah sepenuhnya sehat, jadi saya aktif banget ikut banyak kegiatan.

Dari yang semula hanya rheumatoid arthritis (RA), penyakit autoimun saya kini bertambah Sjogren’s Syndrome (SS). Penyakit ini menyerang jaringan kelenjar eksokrin (penghasil air mata, air liur, dan keringat) yang bisa menimbulkan iritasi, radang sendi, fatigue dan lainnya.

Saya merasa beruntung bisa mendapat informasi yang lebih banyak soal autoimun karena lingkungan saya yang memang berprofesi jadi dokter. Ibu saya juga seorang dokter, jadi lebih gampang buat tanya-tanya cari dokter yang bagus. Akhirnya, saya menemukan dokter yang cocok untuk pengobatan autoimun di Singapura. Berkat pengobatan ini, saya bisa menyelesaikan pendidikan S2 di Inggris.

 

Mempelajari Autoimun Lebih Mendalam saat Pendidikan S2

Memiliki penyakit yang obatnya tidak banyak di Indonesia membuat saya tertarik untuk mempelajari autoimun lebih dalam pas kuliah S2. Saya sengaja memilih Imunobiologi (ilmu sistem kekebalan tubuh) dengan proyek penelitian tentang Sjorgen Syndrome.

Pertanyaan ‘mengapa saya bisa terkena?’ dan ‘apa ada harapan untuk sembuh?’ jadi alasan saya ambil tema Sjorgen Syndrome. Selama ini, kedokteran di Indonesia jarang ada yang bahas autoimun secara lengkap dan juga belum ada dokter khusus autoimun. Pengobatannya pun dilakukan berdasarkan jenis penyakitnya dengan gejala yang tidak terlalu khas. Misalnya, saat menyerang saraf, maka kita bisa konsultasi ke dokter saraf. Dengan kata lain, mengobati autoimun berarti harus bekerja sama dengan banyak dokter spesialis.

Ini memang bukan cita-cita yang semula saya rencanakan. Dari dulu, saya ingin jadi dokter spesialis saraf. Tapi paling tidak, saya masih bisa berguna buat orang banyak dengan mempelajari autoimun lebih dalam.

 

Saat Penyakit Autoimun Langka Menyerang dr. Dinis

Setelah lulus S2, saya berhasil diterima pendidikan S3 di Oxford, Inggris. Saya harus kembali ke Indonesia untuk memperpanjang visa. Saya juga sempat bekerja di Kantor Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) dengan ritme kerja yang cukup padat dan sering keluar kota. Saat itu, Sjorgen Syndrome saya memang dinyatakan remisi, tapi tidak dengan rheumatoid arthritis-nya yang makin aktif. Selang 3 bulan, penyakit autoimun saya kambuh lagi.

Saat itu, kaki saya susah digerakkan seperti terkena penyakit Parkinson. Saya terpaksa berhenti kerja untuk fokus kembali ke pengobatan. Padahal waktu itu, karir saya lumayan bagus. Saya ditunjuk jadi leader sebuah proyek di kantor saya.

Di tengah pengobatan, saya juga sempat menjalani operasi usus buntu dan pengangkatan endometriosis. Saya harus mengonsumsi obat hormon agar endometriosisnya tidak tumbuh lagi. Sayangnya, orang dengan autoimun tidak pernah cocok dengan obat hormon. Saya mengalami stroke sampai 5 kali dan sempat muncul vaskulitis atau peradangan pembuluh darah di otak.

Tak hanya itu, penyakit autoimun saya kembali bertambah. Addison’s disease, jenis penyakit autoimun langka ini bersarang di tubuh saya. Penyakit ini menyerang kelenjar adrenal sehingga tidak bisa menghasilkan hormon yang seharusnya. Tubuh saya jadi lebih sensitif dan tidak kuat terhadap perubahan cuaca dan cahaya, gula darah yang turun drastis dan bisa tiba-tiba pingsan.

 

Dari Menolak Kenyataan Hingga Berdamai dengan Autoimun

dokter dinis autoimun

Tentu bukan hal yang mudah bagi saya untuk jadi satu dari ratusan ribu penderita autoimun di Indonesia, khususnya addison’s disease. Rencana hidup saya seolah berantakan dengan adanya 4 jenis penyakit autoimun ini di tubuh saya. Tak hanya melepas cita-cita sebagai dokter spesialis saraf, tapi saya juga harus merelakan kesempatan S3 dan karir saya. Kaki saya lumpuh, badan juga tidak bisa digerakkan. Saya merasa tidak berguna karena selalu butuh bantuan orang kemana pun saya pergi.

Saya bahkan sempat bertengkar sama ibu karena ingin mengakhiri hidup dengan tidak melanjutkan pengobatan. Saya merasa, pengobatan yang selama ini saya jalani sia-sia. Tapi, ibu saya tidak menyerah dan selalu kasih semangat buat bangkit. Padahal, di waktu yang sama, ibu saya juga harus merawat ayah yang menderita sakit ginjal.

Berkat dorongan ibu, saya perlahan bangkit. Saya mulai menulis tentang penyakit autoimun di blog karena memang tidak banyak informasi yang bisa didapat orang awam tentang penyakit ini. Saya tidak menyangka, ada banyak banget komentar positif di blog. Padahal, tulisan pertama ini saya buat dengan setengah hati karena saya masih belum sepenuhnya menerima kenyataan.

“Banyak komentar yang masuk ke email saya setelah saya membuat blog tentang autoimun. Saya nggak nyangka, segitu banyaknya orang mencari informasi soal autoimun di Indonesia. Di titik ini, saya merasa masih bisa berguna untuk orang lain,” – dr. Dinis.

Ada perasaan haru saat saya menerima komentar itu di blog. Saya merasa tidak sendiri. Ternyata, ada teman yang sama-sama butuh semangat untuk melawan autoimun. Dari sinilah, saya membentuk Komunitas Autoimun Indonesia sebagai tempat berbagi informasi bagi teman-teman autoimun. Sebagai dokter, saya tentu punya akses informasi tentang autoimun yang lebih banyak daripada teman autoimun lainnya. Kini, tujuan hidup saya tidak lagi menolak penyakit tersebut, tapi berganti untuk mulai mencoba berdamai dengan autoimun.

Saat ini, 2 dari 4 jenis penyakit autoimun yang ada di tubuh saya sudah dinyatakan remisi. Selain menjalani terapi rutin, saya masih harus menjaga aktivitas agar tidak mudah stres dan capek. Saya berharap, remisi saya bisa berubah menjadi permanen supaya bisa terus membantu teman-teman autoimun yang ada di Indonesia.


Jika kamu punya teman atau sosok inspiratif lain yang berdedikasi untuk membantu banyak orang dan butuh biaya besar, kamu bisa galang dana di Kitabisa. Caranya, klik: ktbs.in/galangdana. Kamu bisa konsultasi mengenai galang dana ini dengan cara, klik: ktbs.in/tanyaimunesia atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 0813-1553-2353.

galang dana

  • Penyakit autoimun yang sudah diteliti di dunia ada sekitar 80 jenis
  • Wanita lebih beresiko terkena penyakit imun dibandingkan pria
  • Shahnaz merupakan salah satu orang yang berjuang melawan penyakit autoimun

Penyakit autoimun secara sederhana memiliki arti adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Gangguan inilah yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh tidak menyerang kuman atau benda asing yang masuk ke dalam tubuh.

Dalam artikel ini, kami akan membagikan informasi tentang apa itu penyakit autoimun, gejala, penyebab, dan penyembuhan penyakit ini. Tidak hanya itu, kami juga akan membagikan kisah Shahnaz, salah satu orang yang berjuang melawan penyakit autoimun lupus.

Apa itu penyakit autoimun? 

Penyakit autoimun terjadi akibat gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Kalau pada orang normal, kekebalan tubuh akan menyerang kuman atau benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Nah, pada penderita autoimun, tubuh tidak bisa mengenali mana benda asing dan mana organ tubuh sendiri sehingga kerap menyerangnya.

Penyakit autoimun biasanya dibagi menjadi dua kategori. Pertama organ yang diserang tidak spesifik atau random dan yang kedua adalah spesifik. Autoimun jenis spesifik akan menyerang satu organ secara masif sehingga menyebabkan gangguan dan kerusakan.

Saat ini ada sekitar 80 penyakit autoimun yang sudah ditemukan dan diteliti. Gangguan ini ada yang bersifat ringan hingga berat. Gangguan ringan bisa diminimalkan dengan obat tertentu sementara gangguan berat akan terus ada bahkan kerap kambuh.

Jenis dan Gejala Penyakit Autoimun

Autoimun bisa mengganggu banyak organ tubuh dan sistemnya. Penyakit ini bisa muncul pada seseorang yang sudah dewasa atau bayi. Untuk mengenal lebih banyak tentang penyakit autoimun, simak gejala dan jenis penyakitnya di bawah ini.

  • Penyakit Lupus, penyakit ini memengaruhi jaringan ikat dan juga menyerang sistem organ pada tubuh manusia.Biasanya sistem organ yang terkena lupus adalah ginjal, paru-paru, sel darah, saraf, kulit, dan sendi.  Penyakit Lupus diawali dengan gejala-gejala umum seperti demam, peradangan pada sendi, ruam pada wajah, dan penurunan berat badan secara masif.
  • Diabetes Melitus I, gangguan autoimun pada penyakit ini terjadi saat antibody menyerang dan menghancurkan sel penghasil insulin (hormon yang dibutuhkan dalam mengontrol kadar gula darah) di pankreas. Pada penyakit ini, gejala yang paling mudah dikenali adalah sering haus, sering buang air kecil, berat badan turun, dan rentan terkena infeksi saat tubuh terluka.
  • Prosiasis, penyakit ini menyerang kulit sehingga kulit penderita akan mengalami bercak merah dan bersisik.Penyakit ini disebabkan oleh pertumbuhan sel kulit baru yang teramat cepat sehingga membuat penumpukan di permukaan.
  • Multiple Sclerosis, penyakit ini menyebabkan beberapa gangguan saraf pada tubuh. Kalau gangguan saraf muncul, penderita akan mengalami mati rasa di beberapa bagian tubuh, kelumpuhan, hingga gangguan penglihatan.
  • Rematik, penyakit ini biasa disebut dengan radang sendi karena memengaruhi sendi sehingga bagian tubuh kerap membengkak dan menyebabkan fungsinya terganggu. Biasanya para penderita rematik akan mengalami gejala-gejala seperti sendi sakit, kaku, bengkak, dan terbatas ruang geraknya. Apabila penyakit ini tidak segera diobati, rematik bisa menyebabkan kerusakan sendi permanen secara bertahap.
  • Radang usus, gejala yang terjadi adalah diare hebat dan sakit perut yang tidak bisa ditahan. Radang usus atau Inlflammatory bowel disease (IBD) ini terjadi karena adanya peradangan pada lapisan usus yang mempengaruhi beberapa bagian saluran pencernaan seperti lapisan usus besar dan rektum.
  • Scleroderma, penebalan kulit, borok kulit, dan beberapa sendiri menjadi kaku.

 

Apa Saja Penyebab Penyakit Autoimun?

Karena jenis penyakit autoimun cukup banyak, penyebabnya juga beragam. Penyakit ini bisa terjadi karena genetik sehingga anak yang bisa mengidap autoimun bayi sejak lahir. Lingkungan dan gaya hidup juga menjadi faktor penentu apakah seseorang rentan atau tahan terhadap autoimun. Lebih lanjut infeksi pada tubuh, hormon seks, serta jenis kelamin juga menyebabkan penyakit ini. Wanita lebih terkena autoimun ketimbang pria.

Bagaimana Penyembuhan Penyakit Autoimun?

Secara umum penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Namun, untuk meminimalkan dampaknya pada tubuh, penderita bisa menggunakan obat anti inflamasi, terapi fisik, tetapi sulih, operasi, dan obat yang menghambat sistem kekebalan tubuh berjalan dengan cepat.

Melalui penekanan sistem imun atau pertahanan tubuh, gejala penyakit autoimun bisa ditekan dan membuat tubuh penderita merasa lebih nyaman dibandingkan tidak dilakukan pengobatan sama sekali. Mengingat hingga saat ini, belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit autoimun.

Kisah Shahnaz Berjuang Sembuh dari Autoimun

Penderita penyakit autoimun membutuhkan perawatan khusus dengan biaya yang tak murah. Salah satunya Shahnaz Asnawi Yusuf yang memiliki lupus. Mahasiswa cerdas jurusan komunikasi di Universitas Sumatera Utara ini memang sudah lama menderita lupus.

Tidak ingin merepotkan orang lain, ia selalu menahan rasa sakitnya sendiri. Bahkan pernah ia harus pergi ke rumah sakit sendirian dan mengurus administrasi dalam kondisi yang lemah tanpa bantuan orang lain. 

Kondisi Anas (panggilan akrab teman-teman) terus melemah setelah di hampir sebagian besar tubuhnya terasa sakit. Awalnya ia didiagnosa terkena penyakit tifus, tapi kondisinya tidak berubah meskipun sudah diberi resep obat oleh dokter. Kondisinya terus menurun, ia sering batuk, nyeri dada, dan tubuhnya melemah.

Tak jarang ia mendapatkan ragam tes kesehatan dari dokter berbiaya tinggi. Sebelum a mengetahui secara pasti penyakit apa yang dialaminya. Mulai dari hemoglobinopati (turunan dari talasemia) hingga akhirnya disimpulkan kalau Anas memiliki Lupus.

Sejak diketahui memiliki lupus, Anas lebih sering mengeluhkan sakit di bagian dada  dan sesak napas. Dari pemeriksaan, ditemukan di paru-parunya terdapat abses atau pembengkakkan yang bernanah. Abses ini terjadi karena menyebarnya kuman nocardia di paru-paru karena penyakit autoimun yang dideritanya.

Melihat kondisi Anas, salah satu teman Anas  akhirnya tergerak untuk membantu pengobatannya melalui penggalangan dana kitabisa.com. Melalui kampanye https://kitabisa.com/bantushahnaz teman Anas yang bernama Moyang Kasih Dwimerdeka menggalang dana untuk membantu biaya operasi paru-paru Anas. Biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 50 juta untuk mengobati abses di paru-paru Anas. Hingga akhir masa penggalangan dana, biaya yang terkumpul mencapai Rp 59 juta. Setelah biaya terkumpul, operasi pada paru-paru Anas pun dilaksanakan dan berhasil dilakukan.

Kamu juga bisa menjadi Moyang yang ingin membantu menggalang dana untuk pengobatan orang terdekat melalui situs kitabisa.com. Tidak hanya penyakit autoimun, kamu boleh melakukan penggalangan dana untuk penyembuhan penyakit lainnya di sini.

  

Show Buttons
Hide Buttons