Kebun Sekolah Kecil, Efeknya Bisa Sampai ke Nilai Matematika

Awalnya cuma soal sayur dan telur ayam. Tapi siapa sangka, kebun sekolah ini ternyata bisa memengaruhi hal yang jauh lebih besar: cara anak-anak belajar.
Di SD Kanisius Pucangsawit, Surakarta, ada masalah yang sering luput dari perhatian. Namanya “dampak laten” gizi buruk bukan pada balita yang rutin dipantau Posyandu, tapi pada anak usia SD dan SMP yang jarang lagi diperiksa. Bukan cuma soal kurang makan. Banyak anak, bahkan dari keluarga yang cukup mampu, lebih memilih jajanan cepat saji ketimbang pangan lokal yang sebenarnya lebih bergizi. Kalau dibiarkan, ini bisa mengganggu tumbuh kembang mereka menjelang masa pubertas.
Kebun, dapur, dan kelas jadi satu paket

Bareng Komunitas KETUMBAR, program ini dirancang lewat tiga bagian yang saling nyambung: kebun sekolah berbasis pertanian regeneratif, dapur untuk mengolah hasil panen jadi menu sehat sekaligus mengelola sampah organik jadi kompos, dan ruang kelas untuk belajar soal gizi lewat 12 kali pertemuan.
Maret 2026, para guru ikut pelatihan berkebun dan berternak. Sebulan lebih setelahnya, panen pertama datang kangkung, disusul pokcoy, bayam, timun, cesar, sampai telur ayam kampung yang jadi favorit baru anak-anak.
“Wah telurnya sekarang tiga, kemarin kami lihatnya baru satu bu!” begitu semangatnya salah satu siswa tiap kali mengecek kandang ayam. Kandang ayam itu sekarang jadi tempat nongkrong favorit pas jam istirahat.
Bukan cuma soal kenyang

Yang menarik, program ini juga mengubah cara anak-anak melihat makanan. Mereka jadi tahu kalau tanaman liar seperti krokot dan sirih bumi, yang selama ini dianggap gulma, ternyata bisa dimakan dan bergizi.
Setelah 12 pertemuan belajar, hasilnya kelihatan: semua siswa sudah paham konsep Isi Piringku, 70% memahami makronutrien, dan lebih dari separuh siswa mulai mengerti fungsi karbohidrat, protein, lemak, dan serat dalam tubuh mereka.
Saat gizi baik, belajar juga ikut membaik
Ini bagian yang bikin program ini terasa lebih besar dari sekadar kebun sekolah. Di program serupa yang dijalankan Kitabisa bersama Salam Setara di SD Bintang Cendikia, Cimahi, pada 2025, ditemukan bahwa intervensi makanan bergizi berbanding lurus dengan peningkatan hasil belajar siswa. Artinya, makanan yang masuk ke piring anak-anak nggak cuma menentukan seberapa kenyang mereka, tapi juga seberapa fokus mereka waktu belajar di kelas.
“Bantuan yang diberikan itu bisa memberdayakan orang lain… sehingga ketika programnya selesai mereka bisa tetap melanjutkan,” kata Britania Sari, Co-founder KETUMBAR.
Gotong royong yang bikin semua ini jalan
Program ini bisa berjalan berkat kolaborasi banyak pihak Kitabisa yang mengelola dana dan memantau jalannya program, KETUMBAR yang mendampingi teknis di lapangan, sekolah yang menyediakan lahan dan tenaga guru, serta dukungan pendanaan dari 360 Feed.
Dengan anggaran serendah Rp10.000 per porsi, sekolah ini membuktikan bahwa makanan bergizi lengkap karbohidrat, protein, lemak, dan serat bukan hal yang mustahil untuk dijangkau.
Ternyata benar kata Geoff Lawton, “You can solve all the world’s problems in a garden.” Kadang, perubahan besar memang dimulai dari sepetak lahan kecil dan niat untuk mencoba.
Penasaran gimana program ini berjalan lebih lengkap? Cek detailnya di sini: kitabisa.org/programs/360-feed




