Kisah Sekolah Malaka: Gotong Royong yang Mengembalikan Ruang Belajar Anak-Anak Aceh
Satu orang yang peduli kadang jadi awal dari perubahan yang lebih besar dari yang dia bayangkan sendiri. Di Aceh Tamiang, itulah yang terjadi.
Banjir yang melanda beberapa waktu lalu merusak banyak hal, termasuk sekolah. Anak-anak di sana harus menjalani hari-hari tanpa ruang belajar yang layak. Padahal sekolah bukan cuma tempat membaca dan menulis. Di situ mereka bertemu teman, bermain, dan mulai berani bermimpi soal masa depan.
Melihat kondisi itu, Ferry Irwandi lewat Malaka Project memilih turun tangan: membangun kembali sekolah yang terdampak supaya anak-anak bisa belajar dengan tenang lagi.
Dimulai dari mimpi yang sederhana
Awalnya cuma satu keinginan: mengembalikan senyum anak-anak yang kehilangan tempat belajar.
Pembangunannya tidak selesai dalam semalam. Dibutuhkan waktu, tenaga, dan banyak pihak yang mau bekerja sama supaya Sekolah Malaka benar-benar bisa berdiri lagi. Setiap bata yang dipasang membawa harapan kecil: suatu hari nanti, suara anak-anak yang belajar akan memenuhi ruang kelas yang sempat sunyi.
Hari itu akhirnya datang.
Sekolah Malaka sekarang sudah berdiri
Sekolah Malaka resmi beroperasi di Aceh Tamiang. Anak-anak yang sebelumnya terdampak bencana sekarang punya ruang belajar yang aman dan layak. Mereka datang dengan tas, buku, dan semangat baru untuk mengejar cita-cita.
Melihat mereka kembali duduk di bangku sekolah rasanya jadi pengingat bahwa pendidikan itu bukan sesuatu yang bisa ditunda. Setiap anak pantas punya tempat untuk belajar dan bermimpi.
Kolaborasi yang bikin semuanya terjadi
Pembangunan Sekolah Malaka diinisiasi dan didanai sepenuhnya oleh Malaka Project. Di lapangan, Cakra Abhipraya Response yang mengelola jalannya pembangunan. Kitabisa ikut berperan sebagai mitra kolaborasi: membantu menghubungkan berbagai pihak dan ikut memantau pembangunan sampai sekolah benar-benar siap dipakai.
Kalau dipikir-pikir, beginilah cara kerja gotong royong yang paling nyata. Tiap pihak mengambil bagiannya, dan hasilnya bisa langsung dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
Semoga ini baru permulaan
Sekolah Malaka bukan cuma bangunan baru. Di balik tiap ruang kelasnya ada anak-anak yang akhirnya bisa belajar dengan tenang, guru-guru yang kembali mengajar, dan mimpi-mimpi yang pelan-pelan disusun ulang.
Semoga kehadiran Sekolah Malaka jadi salah satu langkah kecil buat Aceh terus pulih. Dan semoga kisah ini bisa bikin semakin banyak orang ikut peduli, karena setiap anak memang berhak punya tempat belajar yang aman.
Karena kalau kita menjaga pendidikan mereka hari ini, kita juga sedang menjaga masa depan Indonesia besok.
Penasaran sama perjalanan lengkapnya? Lihat momennya di Instagram Kitabisa: https://www.instagram.com/p/DUDbf9lgauW/?img_index=3





