Kesehatan

Mengenal NICU, Perawatan Intensif Bagi Bayi Prematur

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr
  • NICU (Neonatal Intensive Care Unit) ruangan khusus untuk merawat bayi berkebutuhan khusus dari baru lahir hingga usia 3o hari
  • Setiap tahun, ada sekitar 10-15% bayi prematur yang harus dirawat di NICU
  • NICU masih sangat jarang di Indonesia

NICU (Neonatal Intensive Care Unit) merupakan tempat pertama yang akan dituju oleh para bayi dengan kebutuhan khusus atau (kebanyakan) bayi prematur sejak dilahirkan. Dalam artikel ini, kami akan menjelaskan tentang NICU. Mulai dari pengertian, fungsi, peralatan, dan apa saja yang terjadi di dalamnya.

Apa itu NICU?

Idealnya, bayi lahir normal pada usia kandungan di atas 37 atau 40 minggu dengan bobot minimal 2,5 kilogram. Namun tidak semuanya beruntung. Ada beberapa faktor yang memengaruhi kesehatan janin sehingga persalinan tidak berjalan seperti pada umumnya. Ketika dilahirkan, organ tubuhnya tidak memiliki  kemampuan adaptasi dengan kondisi baru di luar kandungan.

Untuk menanggulangi masalah semacam ini, rumah sakit menyediakan fasilitas khusus, yakni NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Layaknya UGD, NICU juga merupakan unit reaksi cepat, hanya saja dikhususkan untuk bayi. Tugas utama NICU adalah menjaga kelangsungan hidup bayi yang lahir dalam kondisi lemah sampai tubuhnya mampu beradaptasi sendiri.

Lamanya perawatan tergantung tingkat kesehatan bayi, standarnya sampai berumur 28 hari.

Peralatan yang Ada di dalam Ruang NICU

bayi prematur

Unit ini beranggotakan dokter anak dengan spesialisasi masing-masing. Di antaranya ahli saraf, terapis pernapasan dan okupasi, ahli diet dan nutrisi, serta spesialis laktasi. Namun keberadaan tim dokter membutuhkan kehadiran orang tua agar perawatan bisa berjalan maksimal.

Jangan heran jika menemukan berbagai peralatan medis canggih saat memasuki ruang NICU. Penanganan intensif NICU membutuhkan peralatan lengkap dengan teknologi mutakhir untuk mendukung kinerjanya. Berikut beberapa peralatan yang pasti ada di dalam NICU:

  • Alat Bantu Pernapasan. Alat ini digunakan untuk membantu bayi yang mengalami kesulitan bernapas. Alat bantu yang biasa disebut dengan ventilator ini akan dipasangkan melalui mulut dan disambungkan dengan selang ke paru-paru. Ada pula alat bantu pernapasan  yang disebut dengan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP). Alat ini digunakan jika bayi bisa bernapas sendiri namun butuh bantuan, alat ini berupa dua selang kecil yang dimasukkan ke hidung agar udara terdorong masuk ke paru-paru.
  • Inkubator. Alat ini merupakan suatu ruangan khusus berdinding kaca yang akan menjadi ‘kamar’ sementara para bayi. Inkubator memiliki pengaturan suhu yang dapat diatur dan terjaga kehangatannya sekitar 35°C – 36°C. Kehangatan ini perlu dijaga karena bayi prematur memiliki jaringan lemak yang lebih sedikit sehingga berisiko terkna hipotermia atau suhu tubuh rendah.
  • Monitor. Bayi yang masuk ke dalam ruang NICU berarti memerlukan perhatian lebih secara mendetil dan mendalam. Di ruang NICU setidaknya ada 2 jenis monitor yang memantau secara khusus organ vital pada bayi. Pertama monitor saturasi oksigen yang diikat di tangan atau kaki untuk memantau kadar oksigen darah. Kedua, monitor tanda-tanda vital yang ada di dada untuk memantau laju pernapasan, denyut jantung, suhu, dan tekanan darah.

Selain inkubator -dan tentunya obat-obatan-, dokter dan perawat harus terus memantau kondisi tubuh bayi. Berbagai peranti monitoring digunakan untuk memantau kondisi-kondisi spesifik, seperti pendeteksi khusus detak jantung, tekanan darah,  suhu tubuh, kadar oksigen, dan berbagai alat pemindai.

 

Prosedur Perawatan Intensif NICU

Prosedur perawatan intensif NICU meliputi kontrol suhu tubuh (dalam inkubator), asupan cairan dan nutrisi, serta bermacam-macam tes laboratorium. Rumah sakit di Indonesia umumnya menggunakan penanganan tiga tahap dalam penanganan bayi yang baru lahir.

Tahap pertama adalah perawatan tingkat dasar untuk bayi normal. Di sini tubuh bayi akan dicek untuk mengetahui kondisi fisik dan kinerja organ tubuhnya. Pada tahap kedua, perawatan dilakukan lebih intensif untuk kondisi bayi yang memerlukan perhatian khusus. Dokter akan menggunakan alat bantu napas dan selang infus apabila diperlukan.

Sementara itu, NICU, yang termasuk prosedur perawatan untuk kondisi kritis, berada di tahap ketiga. Di sini penanganan dan pengawasan berlangsung jauh lebih intensif lagi. Selain sejumlah tenaga ahli –seperti yang telah disebutkan di atas-, di unit ini juga terdapat tim perawat. Satu orang perawat per satu orang bayi.

Sistem perekrutannya pun tidak sembarangan, setiap perawat harus berbekal keterampilan khusus dan memiliki sertifikat.

Bahaya kegagalan organ vital menghantui bayi, risiko kematian juga cukup besar. Inilah mengapa sebaiknya setiap rumah sakit di Indonesia memiliki fasilitas NICU, demi kelangsungan hidup bayi yang lahir dalam keadaan kritis.

Sayangnya, butuh biaya besar untuk menunjang operasional NICU. Pada akhirnya, tarif yang dibebankan kepada orang tua pasien juga cukup mahal. Biaya rata-rata perawatan di NICU sekitar Rp 2 juta per hari. Dengan jumlah tersebut, masyarakat ekonomi lemah tidak mampu menjangkaunya.

Sebagian akan lebih memilih untuk membawa pulang si bayi dan merawatnya sendiri di rumah. Apalagi jika berkaca pada kasus-kasus kontroversial menyangkut kebijakan rumah sakit yang tidak manusiawi, seperti penelantaran dan penolakan pasien miskin yang masih kerap terjadi.

Kondisi Bayi yang Harus Masuk NICU

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, bayi yang masuk ke dalam NICU merupakan bayi yang memiliki kebutuhan atau perawatan khusus. Berikut beberapa contohnya:

  • Respiratory distress syndrome (RDS)
    Salah satu kondisi yang paling umum ada di dalam NICU adalah kondisi bayi yang mengalami kesulitan bernapas. Kesulitan ini terjadi karena adanya sindrom distress pernapasan (RDS). Bayi dengan kondisi ini memiliki paru-paru yang belum berkembang sempurna dan membuatnya membutuhkan alat bantu pernapasan/ventilator.
  • Bronchopulmonary Dysplasia
    Kondisi ini juga termasuk ke dalam kondisi umum di mana paru-paru seorang bayi yang terlahir prematur dan memiliki berat kurang dari 1.000 gram. Kondisi bronchopulmonary dysplasia bisa menyebabkan bayi harus berada di ruang NICU sampai berbulan-bulan.
  • Infeksi
    Infeksi memang menjadi ancaman terbesar bagi bayi prematur. Mengingat kelahirannya yang terjadi sebelum waktu seharusnya, bayi-bayi ini masih belum memiliki organ yang berfungsi sempurna dan melawan kuman yang masuk ke dalam tubuhnya. Banyak faktor yang menyebabkan infeksi pada bayi prematur, mulai dari bagaimana pola hidup ibu sebelum melahirkan, proses persalinan, dan lainnya.
  • Patent Ductus Arteriosus
    NICU juga menjadi tempat khusus untuk merawat bayi dengan kondiri ductus ateriosus. Kondisi ini merupakan kondisi di mana pembuluh darah pendek yang menghubungkan antar pembuluh darah utama dari paru-paru menuju aorta.
    Normalnya, pembuluh ini akan tertutup dengan sendirinya setelah lahir. Tapi pada bayi prematur, pembuluh ini akan tetap terbuka dan menyebabkan kesulitan bernapas hingga gagal jantung.
  • Sepsis
    Sepsis merupakan infeksi berat yang disebabkan oleh bakteri pada bayi dan berisiko komplikasi serius pada organ vital seperti ginjal, paru-paru, otak, dan dapat menyebabkan kematian. Bayi dengan kondisi ini memiliki kondisi yang rentan dan mengalami perubahan frekuensi detak jantung, kesulitan bernapas, dan kuning.
  • Jaundice (Penyakit Kuning)
    Jaundice merupakan kondisi penguningan pada kulit dan bagian putih mata bayi yang lahir prematur. Hal ini terjadi karena tubuh bayi memiliki kelebihan bilirubin dalam darah. Biasanya bayi yang memiliki jaundice akan dirawat di ruang NICU hingga tingkat bilirubinnya turun.

Bayi yang harus dirawat ke dalam ruang NICU, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bahkan ada biaya yang mencapai Rp10-15 juta/hari karena kebutuhan dan kondisi khusus si bayi itu sendiri.

Salah satu contoh yang bisa kita ambil adalah kondisi Bayi Arthur yang terlahir prematur pada usia kandungan 32 minggu. Terlahir lebih cepat dari seharusnya, membuat Arthur harus dirawat di NICU karena kondisi sebagian besar organnya belum berkembang sempurna.

Dalam hitungan hari, total biaya yang sudah dikeluarkan oleh orang tua Arthur mencapai Rp157.986.507. Jumlah tersebut membuat seorang teman akrab Ayah Arthur menggalang dana melalui kitabisa.com untuk membantu biaya pengobatan.

Melalui kampanye kitabisa.com/nicufighter, biaya pengobatan Arthur sudah tertutupi dan kondisinya pun terus berkembang baik.


Kamu juga bisa membantu mereka yang sedang berjuang melawan penyakitnya dengan cara berdonasi di halaman Kitabisa atau Aplikasi Kitabisa. Dengan Aplikasi Kitabisa, kamu dapat berdonasi secara online dimanapun dan kapanpun. Yuk, download Aplikasi Kitabisa dan bantu mereka yang butuh bantuan biaya pengobatan!

Comments

comments

Show Buttons
Hide Buttons