Kesehatan

12 Hal Penting Sebelum Memberikan MPASI Pada Bayi

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

“MPASI sangat penting diberikan pada bayi setelah fase pemberian ASI Eksklusif. Kandungan gizinya pun harus diperhatikan karena pada 2 tahun pertama terjadi pembentukan otak pada bayi yang disebut masa golden age.”

MPASI adalah singkatan dari makanan pendamping air susu ibu (ASI). Tujuannya adalah untuk melengkapi zat gizi yang sudah tidak terpenuhi dari ASI. Jadi, MPASI bukanlah pengganti ASI karena bayi tetap butuh asupan gizi dari ASI.

Nah, untuk mengetahui serba-serbi tentang MPASI, Kitabisa mengadakan tanya jawab dengan dr. Klara Yuliarti, Sp.A(K). Dokter Klara adalah dokter spesialis kesehatan anak yang sering membahas soal MPASI dan gizi anak.

Yuk, simak ulasan selengkapnya mengenai MPASI di artikel ini!

 

Waktu yang Tepat Memberikan MPASI

MPASI

Biasanya, bayi dinyatakan sudah siap menerima MPASI selambat-lambatnya di usia 6 bulan (menurut panduan WHO). Dokter Klara menyebutkan bahwa ASI biasanya mulai berkurang saat anak berusia 4 sampai 6 bulan.

Pada beberapa kasus, MPASI bisa diberikan saat anak berusia 4 bulan tergantung dari penilaian dokter. Jika berat badan bayi tidak naik padahal sudah diupayakan manajemen laktasi (pemberian ASI) secara optimal; seperti ASI sudah diupayakan perah, teknik menyusui sudah diperbaiki, dan frekuensinya sudah cukup sering, maka dokter akan menilai apakah bayi sudah siap diberi makanan pendamping melalui kemampuan motoriknya yaitu saat leher bayi sudah tegak.

Menurut dokter Klara, sebenarnya tidak ada patokan bayi harus diberikan MPASI pada usia 6 bulan karena tergantung kesiapan dan berat badan dari bayi itu sendiri. Jika bayi sudah berusia 6 bulan tapi lehernya belum tegak, ibu harus mencari tahu masalahnya. Bisa jadi bayi kurang stimulasi karena terlalu sering digendong atau memang ada masalah pada tumbuh kembangnya. Segera konsultasikan pada dokter spesialis saraf anak untuk diketahui penyebabnya. Bayi baru bisa diberi MPASI saat dia sudah bisa menegakkan kepalanya.

 

Bahaya Pemberian MPASI Terlalu Dini

MPASI

Enzim pencernaan pada bayi di bawah usia 4 bulan biasanya belum matang atau terbentuk, sehingga berbahaya jika memberikan makanan selain ASI pada anak. Selain itu, leher bayi juga belum kuat menopang kepala sehingga dikhawatirkan akan tersedak. Jadi sebaiknya, jangan dipaksakan MPASI diberikan pada bayi sebelum waktunya.

 

Pemberian MPASI pada Bayi Prematur

MPASI

Pada bayi prematur, ada yang disebut usia koreksi yaitu usia sebenarnya dikurangi usia bulan dimana dia lahir. Dalam dunia kedokteran, usia cukup lahir adalah 40 minggu. Menurut dr. Klara, kematangan motoriknya biasanya juga akan ikut mundur dan dihitung berdasarkan usia koreksi. Ada target berat badan, panjang badan dan juga lingkar kepalanya.

Jadi untuk bayi lahir prematur, jadwal pemberian MPASI menyesuaikan usia koreksinya. Misal, bayi lahir prematur 32 minggu, usia koreksinya akan dimundurkan 8 minggu (usia cukup lahir 40 minggu). Kalau bayi berusia 6 bulan, usia koreksinya sekitar 4 bulan. Jika di usia ini bayi sudah bisa menegakkan kepala, kenaikan berat badannya juga berkurang hanya dengan ASI saja, maka sudah bisa diberikan MPASI.

 

Jenis Makanan MPASI Pertama

MPASI

Saat bayi berusia 4 sampai 6 bulan, kandungan gizi dalam ASI seperti protein, lemak, dan kalori sudah berkurang. Zat besi cadangan lahir pada bayi juga sudah mulai habis. Maka MPASI pertama yang harus diberikan adalah yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, zat besi, dan zinc. Protein sebaiknya diberikan jenis protein hewani seperti daging merah (daging sapi). Lemak bisa diberikan dengan memberi minyak kelapa, minyak zaitun, minyak jagung atau santan.

MPASI pertama juga sebaiknya tidak boleh diberikan menu tunggal (seperti bubur tepung beras) saja karena bisa mengakibatkan anak kurang asupan gizi yang lainnya. Pemberian MPASI tunggal dinilai tidak menaikkan berat badan secara signifikan. Jadi harus memberikan MPASI dengan menu seimbang.

Pemberian MPASI juga harus memperhatikan usia bayi, diantaranya:

  • Usia 6 bulan: makanan bertekstur lumat, bahan makanan bisa diblender atau disaring
  • Usia 8 bulan: bayi harus belajar makan dengan makanan bertekstur yang lebih kasar. Nasi sudah ada teksturnya. Bayi juga harus diajarkan makan dengan finger food (yang digenggam) seperti biscuit bayi, potongan buah, dll.
  • Usia 10 bulan: bayi sudah bisa makan nasi tim
  • Usia 12 bulan atau 1 tahun: bayi sudah bisa makan makanan keluarga

 

Mengatasi Bayi yang Menolak MPASI Pertama

MPASI

Ibu tidak boleh menyerah saat anak menolak makan MPASI pertamanya. Harus dilihat dulu apakah kondisi anak saat itu sedang fit atau tidak, bagaimana kondisi psikologisnya apakah sedang senang atau tidak, dan makanan pertamanya seperti apa. Barangkali memang rasanya atau teksturnya yang kurang enak bagi bayi. Ibu jangan putus asa untuk mencoba terus pengenalan MPASI ini dari 10 sampai 15 kali.

Saat bayi berusia 4 bulan, dia biasanya akan mulai menggigit tangan. Ibu sebaiknya tidak melarangnya karena ini merupakan fase bayi mengeksplorasi benda lain selain putung susu ibu. Sehingga nantinya saat bayi sudah mulai diperkenalkan MPASI, refleks muntahnya bisa berkurang.

 

Mengatur Jam Makan MPASI Bayi

MPASI

Pengaturan jam makan bayi saat MPASI penting untuk dilakukan sehingga bayi mengerti kapan waktunya makan. Jam makannya harus tetap, seperti makan tiap jam 8pagi, jam 12 siang, dan jam 4 sore. Jeda antara ASI dengan MPASI harus 2 jam untuk mengosongkan lambungnya.

Pemberian makan yang terlalu lama bisa jadi tidak efektif. Anak bisa merasa kesal dan trauma. Selain itu, masalah lainnya adalah bayi melakukan gerakan tutup mulut (GTM) dan bisa bikin ibu stres. Ibu harus lebih peka melihat kondisi anak saat GTM. Fase ini terbilang wajar dan biasanya terjadi saat anak usia 1 tahun. Cari penyebabnya terlebih dahulu, mungkin ada yang salah dengan teknik pemberiannya atau variasi makanannya.

 

Metode Memasak MPASI 

MPASI

MPASI bisa dimasak dengan cara dikukus atau direbus, tergantung menunya. Jadi tidak ada metode masak yang wajib. Bahkan bayi harus diperkenalkan dengan berbagai macam makanan dengan teknik masak yang berbeda-beda. Termasuk MPASI yang digoreng karena bayi juga perlu lemak.

Saat fase MPASI, ibu harus sering membuat makanan yang lebih bervariasi agar anak lahap makan. Ibu juga harus tahu anaknya suka rasa apa. Pemberian gula dan garam pada MPASI diperbolehkan asal tidak berlebihan. Untuk takaran yang disarankan yaitu garam 1 gram per hari, sementara gula tidak boleh melebihi 10 persen dari total kalori makanan atau susu formula.

Memasak dengan metode slow cooker (teknik memasak lebih pelan dengan suhu rendah tidak sampai 100 derajat) tidak akan berpengaruh pada zat gizi di dalam makanan kecuali vitamin B dan C yang akan rusak karena termasuk vitamin yang larut dalam air. Metode ini biasanya memakan waktu untuk memasak sampai 9 jam.

 

Metode Penyimpanan MPASI

mpasi

MPASI yang setelah dimasak langsung dibekukan dalam waktu di bawah 2 jam dan langsung disimpang di freezer biasanya bisa tahan sampai 3 bulan. Syaratnya, suhu makanan tidak pernah mencair sama sekali dan harus di bawah 0 derajat.

Sementara kalau di kulkas biasa, sayuran bisa tahan 2 hari dan daging bisa tahan 1 hari. Asalkan makanan tersebut belum terkena mulut. Selain itu, suhu di kulkas harus selalu di bawah 5 derajat dan tidak terlalu sering dibuka tutup karena bisa berisiko munculnya kuman dan bakteri.

 

Pemberian MPASI dengan Makanan Instan

MPASI instan pada bayi boleh diberikan asal makanan tersebut memiliki izin edar BPOM (MD) sebagai makanan bayi. Makanan dengan izin edar ini memiliki standar kualitas pengolahan yang sudah diatur yakni tidak mengandung zat kimia dan proses pengawetan yang hanya melalui proses pengeringan (proses fisika).

Biasanya pada MPASI instan, komposisi gizinya sudah lengkap. MPASI tidak ada efek jangka panjang dan juga tidak berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Kelemahannya terletak pada rasanya yang tidak variatif sehingga pengenalan rasa pada anak menjadi kurang. Berbeda dengan jika orangtua memasak sendiri pasti akan berbeda karena lebih kaya rasa.

 

Mengatasi Sembelit saat Pemberian MPASI

MPASI

Salah satu masalah saat MPASI adalah bayi bisa mengalami sembelit jika kurang asupan cairan. Bayi bisa mendapat asupan cairan dari ASI atau air putih jika diperlukan, karena sebenarnya 85 persen ASI adalah air. Adapun kebutuhan cairan pada bayi rata-rata 150 ml per kilogram berat badannya.

Sembelit pada bayi biasanya ditandai feses yang lebih padat atau seperti kotoran kambing. Selain karena kurangnya cairan, sembelit juga bisa disebabkan oleh pemberian buah pisang pada bayi. Pisang mengandung tepung karbohidrat kompleks dan zat pektin yang bisa membuat bayi sembelit.

Untuk mengatasinya, bayi bisa ditambah asupan cairannya dan konsumsi buah yang mengandung kortisol alami seperti apel dan pir. Kedua buah ini mengandung gula dan air yang cukup banyak. Selain itu, biasakan bayi untuk buang air besar secara rutin setiap harinya.

 

Bahaya Memberikan Madu saat MPASI

mpasi

Banyak yang salah kaprah pemberian madu pada bayi bisa menjaga ketahanan tubuh. Padahal belum ada penelitian yang membuktikan soal itu. Bayi di bawah usia 1 tahun tidak boleh diberikan madu pada makanannya.

Madu memiliki spora bakteri Clostridium Botulinum yang bisa menjadi racun pada bayi berusia di bawah 1 tahun. Racun ini bisa menyerang sistem saraf seperti otak, tulang belakang, dan saraf-saraf lainnya yang bisa menyebabkan kelumpuhan otot hingga kematian.

 

Pro Kontra Baby Led Weaning (BLW) saat Pemberian MPASI

MPASI

Baby Led Weaning (BLW) masih menjadi kontroversi sebagai metode pemberian MPASI pada anak. Prinsipnya, bayi sudah mulai makan sendiri dan harus digenggam. Metode ini tidak cocok saat bayi baru diperkenalkan MPASI pertama kali di usia 6 bulan karena belum bisa menggenggam dengan baik.

Risiko pemberian MPASI ada dua. Dari kualitas makanan, bisa jadi tidak memenuhi dengan baik jumlahnya karena makannya yang sedikit. Kedua, makanannya bisa jadi kurang zat gizi karena biasanya masih menggunakan buah dan sayur yang lebih gampang dibentuk potongan.

Dokter Klara menyebutkan ada penelitian bayi dengan metode MPASI BLW ini bisa berisiko berat badan kurang, mengalami anemia atau kurang zat besi dan risiko motoriknya bisa jadi tersedak jika tidak diawasi dengan benar. BLW tidak direkomendasikan oleh WHO dan organisasi kesehatan negara manapun.

Jika ingin melatih bayi makan dengan tangan, sebaiknya dilakukan saat bayi sudah bisa berdiri tegak, bisa menggenggam dengan benar sehingga sudah bisa mulai diberikan finger food (mulai usia 8 bulan).

 

Dari penjelasan dokter Klara, bisa disimpulkan bahwa MPASI itu sangat penting diberikan kepada bayi dari usia 6 sampai 24 bulan. Pemberian MPASI sendiri lebih lama daripada ASI eksklusif yang hanya 6 bulan sehingga perlu diperhatikan setiap kandungan gizi makanan yang diberikan pada bayi. MPASI harus berkualitas, karena 80 persen perkembangan otak terjadi pada 2 tahun pertama alias masa golden age.

Kamu juga bisa baca selengkapnya soal “Tanya Jawab MPASI” di Instagram Kitabisa.


Jika kamu punya keluarga, sahabat atau siapapun yang membutuhkan bantuan biaya pengobatan yang cukup besar, kamu bisa galang dana di Kitabisa. Kamu bisa konsultasi mengenai galang dana ini dengan cara, klik: ktbs.in/tanya atau kirim pesan WhatsApp ke nomor 0813-1553-2353.

galang dana

Comments

comments

Comments are closed.

Show Buttons
Hide Buttons