Kesehatan

Begini Cara Penyebaran Virus Penyakit Polio

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Beberapa tahun terakhir, wabah penyakit polio cenderung menurun. Bahkan, Indonesia menjadi salah satu negara yang dinyatakan bebas polio. Meski begitu, World Health Organization (WHO) tetap mengimbau masyarakat untuk waspada. Pasalnya, penyakit tersebut disebabkan oleh virus—yang mudah menginfeksi saat imun lemah.

 

Apa Itu Virus Polio?

penyakit polio

Virus polio berasal dari genus Enterovirus C dan famili Picornaviridae. Virus ini diisolasi pertama kali pada tahun 1909. Sementara di tahun 1981, genom virus polio diterbitkan oleh tim riset dari MIT dan Stony Brook University.

Sebenarnya, virus polio merupakan virus RNA kecil yang terdiri dari tiga galur berbeda. Menurut riset para ahli, virus RNA kecil itu bisa menular ke manusia. Dampaknya, sistem saraf dapat rusak dalam hitungan jam. Bahkan, dalam beberapa kasus, pengidap polio mengalami lumpuh.

 

Bagaimana Virus Polio Menyebar? 

polio pada bayi

Virus polio bisa menginfeksi siapa pun—tanpa mengenal usia. Namun, sekitar 50 persen kasus terjadi pada anak-anak. Umumnya, menyerang anak umur 3—5 tahun—meski gejala klinis awal sulit dideteksi.

Jika dihitung dari gejala pertama, masa inkubasi virus polio sekitar 3—35 hari. Virus ini bisa menyebar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi polio, kontak langsung dengan tinja penderita polio, serta percikan air liur pengidapnya. Jika virus sampai masuk lewat mulut, saluran usus menjadi bagian pertama yang terinfeksi.

Bagi kamu yang belum pernah mendapatkan vaksin polio juga harus berhati-hati. Hal itu karena virus polio mudah menyerang orang-orang tanpa vaksin. Apalagi, orang tersebut tinggal di kawasan yang sanitasinya buruk, virus polio lebih cepat masuk.

Ibu hamil juga harus waspada terhadap infeksi polio. Namun, polio belum bisa dideteksi manakala bayi masih di rahim ibu. Karena itu, para dokter menyarankan, bayi segera diimunisasi polio pascalahir. 

Para pengidap penyakit HIV/AIDS pun rentan terhadap polio. Hal itu karena ketahanan tubuh mereka cenderung lemah sehingga memudahkan virus masuk ke dalam tubuh. Meski infeksi polio bisa menyebar pada orang terdekat, perawatan intensif harus tetap dilakukan—mengingat gejalanya lebih berat.

Kamu pernah menjalani operasi amandel? Orang yang amandelnya sudah diangkat berarti kehilangan salah satu penangkal bakteri dan virus. Jika tidak bisa menjaga pola istirahat atau jarang mengonsumsi makanan bergizi, virus polio mudah menjangkiti tubuh. Tidak hanya itu, orang yang menjalani aktivitas berat atau kerap stres usai terkena polio, juga rentan terpapar kembali. Bahkan, gejalanya bisa lebih parah daripada paparan awal. Terakhir, orang-orang yang bekerja menangani pasien polio atau melakukan perjalanan ke daerah wabah, pun rentan terserang. 

Baca juga:
Kenali Tanda-tanda Polio yang Muncul pada Anak
Waspada! Begini Penyebaran Virus Rubella pada Anak

 

Bagaimana Mendiagnosis Polio?

Polio dapat dideteksi dengan tiga cara, yaitu mengecek feses dan dahak, tes darah, dan spinal tab. Untuk memeriksa kondisi feses dan dahak, biasanya paramedis mengambil sampel tinja serta cairan dari tenggorokan. Sampel ini ditanam di laboratorium untuk dicek melalui mikroskop.

Cara kedua, mendeteksi polio melalui tes darah. Tujuan tes darah adalah memastikan sistem antibodi polio. Sementara itu, cara terakhir mendiagnosis polio, yakni dengan spinal tab. Metode ini menggunakan jarum yang diletakkan di punggung bawah, menuju kanal tulang belakang atau sekitar sumsum tulang belakang.

Saat melakukan spinal tab, tekanan di kanal tulang belakang dapat diukur. Paramedis akan menghilangkan sedikit cairan tulang belakang otak. Kemudian, cairan tersebut diuji untuk mengetahui jenis infeksi yang menyerang. 


Kamu bisa bantu mereka yang sedang berjuang melawan penyakitnya dengan berdonasi di Kitabisa. Klik gambar di bawah ini untuk donasi.

bantu biaya rumah sakit

Comments are closed.